Varietas kubis dan sawi baru untuk dataran tinggi dan dataran rendah.

Setelah panen jagung, Jumono segera mempersiapkan lahan untuk bertanam kubis. Meskipun musim hujan menjelang, petani di Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, itu tetap yakin berhasil memanen kubis. Lazimnya petani menghindari menanam kubis pada musim hujan karena risiko serangan penyakit lebih tinggi. Apalagi Kecamatan Plaosan berketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl).
Area itu tergolong dataran menengah yang kurang cocok untuk budidaya kubis. Lazimnya petani menanam kubis di lahan berketinggian 1.000 m dpl. Jumono bukan pertama kali menanam kubis. Pria 45 tahun itu berpengalaman 4 tahun menanam bibit kubis khusus dataran rendah. Selama itu ia memanen 6.000 kepala kubis atau krop berbobot 1,6—2 kg setiap panen. Dari jumlah itu, omzet ayah 3 anak itu Rp21,6-juta per panen atau sekitar 70 hari.
Tahan simpan
Jumono berhasil menuai kubis di dataran menengah dan pada musim hujan karena menanam varietas summer green. Bibit kubis summer green itu memang dipersiapkan tanam di dataran menengah sampai rendah. Ia yang beberapa kali menananm kubis berujar, “Varietas itu juga cocok ditanam pada musim hujan dan pancaroba.” Menurut Chief Marketing Officer PT Tri Berkat Agro—distributor summer green—Pahala Simanjuntak, Brassica oleracea itu adaptif di ketinggian 0—500 m dpl.

Kubis summer green mampu membentuk krop dan tumbuh sampai berbobot 2 kg per krop. Ukuran krop cukup besar, berdiameter 18—21 cm dan tebal 11—15 cm dengan warna putih kehijauan. Krop padat dan saat dicecap terasa renyah dan agak manis. “Uji tanam di lahan pasir pantai pun hasilnya bagus,” kata Pahala. Tidak hanya adaptif di dataran rendah dan musim basah, kol gepeng itu juga tahan penyakit.
Bibit kubis hasil pemuliaan PT Clause Indonesia itu tahan busuk basah, penyakit akibat bakteri Erwinia, dan akar gada. Pahala menjelaskan, dalam penanaman selama 70 hari itu petani cukup memupuk 2 kali yaitu pada umur 7 hari setelah tanam (hst) dan 30 hst. Pupuknya cukup menggunakan NPK sebanyak 35—45kg per ha. Budidaya kubis di dataran rendah tidak lazim dilakukan petani oleh karena itu hamanya tidak banyak.
Hama yang paling banyak menyerang salah satunya ulat kubis Plutella xylostella. Untuk mengatasi ulat itu, Pahala menyarankan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, betasiflutrin, emamektin benzoat, klorantaniliprol, tiametoksam, klorfluazuran, atau fipronil. Ia juga menyarankan penanaman pada awal musim hujan untuk mengantisipasi kebutuhan air selama budidaya.

Keistimewaan lain summer green adalah daya simpannya yang cukup lama, 6—7 hari pascapanen kalau disimpan dalam ruang bersuhu 25—27°C. Artinya kubis itu tahan pengiriman jarak jauh. Produsen benih yang sohor dengan benih jagung manis, PT Tanindo Subur Prima, juga meluncurkan varietas kubis dataran menengah—tinggi. Kubis varietas grand-11 itu adaptif di ketinggian 500—1.500 m dpl.
Grand-11 juga toleran kemarau sekaligus hujan sehingga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Krop grand-11 padat dan tidak mudah pecah sehingga disukai pengepul lantaran aman untuk pengiriman jarak jauh. Bentuk bulat pipihnya juga mempermudah pengemasan. Petani dapat memanen varietas itu setelah 65 hst.
Menurut bagian pengembangan pasar PT Tanindo Subur Prima, Zainuri, kubis dataran menengah itu tahan serangan busuk hitam. Petani yang berminat menanam berasal dari daerah agropolitan seperti Kecamatan Pujon, Batu di Jawa Timur, Wonosobo (Jawa Tengah), Lembang (Jawa Barat) dan Berastagi (Sumatera Utara). “Grand-11 sudah menembus pasar ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Taiwan,” kata Zainuri.
Sawi

Produsen benih lain, PT Tani Murni Indonesia, meluncurkan produk benih kubis untuk dataran menengah dan tinggi alias ketinggian 600—1.400 m dpl. Varietas bernama green nova itu mampu menghasilkan krop berbobot 2,5—3 kg. Krop keras dan besar, berdiameter 25—30 cm dengan ketebalan 15 cm berwarna putih kehijauan. Krop keras berarti kubis itu cocok ditanam di dataran tinggi.
Di dataran tinggi banyak petani mengandalkan kendaraan bak terbuka yang rawan benturan dan tekanan lantaran jalur yang tidak datar. Keruan saja kondisi itu mengancam kualitas kubis di perjalanan. Menurut anggota staf pengembangan produk PT Tani Murni Indonesia, Supranto, green nova tidak mudah pecah dan kuat tunda panen hingga 17—29 hari. Itu berarti petani bisa menunda panen untuk menunggu harga membaik.
Varietas itu juga tahan simpan setelah panen pada suhu kamar selama 7—10 hari. Kelebihan lain dari kubis yang dikembangkan di Jepang itu adalah toleran terhadap serangan busuk akar, busuk hitam akibat Erwinia carotvora, dan akar gada yang banyak menyerang tanaman kubis. Varietas itu juga disukai petani kubis lantaran mampu menghasilkan keciwis atau cucuwis, yaitu kubis mini yang tumbuh setelah panen.

Tanpa perlakuan tambahan, petani bisa memanen kecuwis 2 pekan pascapemanenan krop. Setiap bekas krop dapat menghasilkan hingga 300 g kecuwis. Dengan harga Rp 3.000 per kg, kubis mini menjadi pemasukan tambahan yang cukup berarti bagi petani. Selain kubis, PT Tani Murni Indonesia juga membesut benih sawi putih. Varietas Brassica pekinensia itu diberi nama eikun.
Daun terluarnya hijau tetapi bagian dalam berwarna putih kehijauan dan berbentuk lonjong. Dengan panjang 25 cm dan diameter 14 cm, bobot eikun mencapai 1,8—2 kg per krop. Helaian daunnya rapi, padat, dan rasanya agak manis. Bentuknya bagus dan tidak mudah pecah lantaran padat dan elastis. Hal itu mempermudah pengemasan dan ketahanan selama perjalanan ke pasar.
Konsumen pun menyukai karakteristik sawi semacam itu. Eikun tahan 7 hari pada suhu kamar sebelum layu dan rusak. Petsai itu panen pada 50—60 hari setelah tanam (hst) dan adaptif di ketinggian 600—1.800 meter di atas permukaan laut (dpl). Bibit produksi Takii Seed Jepang itu berdaya tumbuh mencapai 90%. Eikun tahan busuk akar, busuk hitam, dan bintik daun yang disebabkan cendawan Alternaria.
Pemilik PT Tani Murni Indonesia, Candra Setiawan Lily, menjelaskan kebutuhan bibit sayuran tiap tahun selalu meningkat. Permintaan paling banyak berasal dari dataran tinggi yang sesuai untuk menanam sayuran seperti Lembang dan Cisarua di Jawa Barat. Menurut Candra, benih berasal dari negara beriklim subtropis lantaran, “Iklim tropis Indonesia tidak cocok untuk memproduksi bibit dengan kualitas yang baik.” (Muhammad Awaluddin)
