Inilah kesibukan karib-kerabat dan para tetangga calon haji asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jauh-jauh hari mereka sudah memesan pisang bile. Begitu hari selamatan keberangkatan diadakan, buah bersisir itu dihadiahkan pada si empunya hajat. Itu untuk dibawa sebagai bekal perjalanan menuju Tanah Suci Mekah.
Itu kebiasaan yang dilihat Maisin, STP sedari kecil. Sekarang ia juga kerap menghadiahkan pisang bile untuk kerabat atau tetangga yang pergi berhaji. ‘Biasanya mesti saya panjar langsung pada si pemilik pohon untuk mendapatkannya,’ kata staf Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) NTB.
Maklum pisang bile jarang ditemukan di pasar. Populasinya di Pulau Lombok dari tahun ke tahun memang menurun. Menurut data dari BPSBTPH NTB yang dirilis pada 2006, populasi pisang haji tinggal 8,5% dibanding keseluruhan penanaman pisang di sana. Padahal, pisang bile hingga sekarang masih jadi oleh-oleh utama untuk orang pergi haji. Pantas begitu musim haji tiba, harga buah bersisir itu melonjak hingga 2 kali lipat.
Tahan 2 bulan
Bukan tanpa alasan jika pisang surut gawe-nama lainnya-dioleh-olehkan buat si calon haji. Kulit buah licin dengan warna kuning kejinggaan sehingga penampilan menarik. Buah matang berbentuk gilik dan terlihat penuh. Daging berwarna kuning hingga kuning kemerahan. Rasanya cukup manis.
Yang pasti pisang bile tahan angkut dan tahan simpan. ‘Pada suhu kamar bisa tahan 2 bulan setelah matang,’ kata Maisin. Warna kulit cenderung mulus, daging tetap layak santap. Makin lama disimpan justru daging buah makin padat. Pantas pisang sambelia itu favorit sebagai bekal perjalanan haji-terutama waktu para jemaah masih berangkat menggunakan kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan.
Sobir, PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropis Institut Pertanian Bogor (PKBT IPB) mengacungi jempol untuk daya simpan bile. ‘Ini paling istimewa,’ tutur doktor dari Universitas Yokohama, Jepang, itu. Daya simpan bile hanya disaingi oleh pisang tanduk alias galek yang awet hingga 1 bulan. Sobir menduga panjangnya daya simpan buah karena kadar air rendah dan kulit tebal-mirip jenis-jenis kepok.
Kadar pati bile terbilang tinggi-salah satu cirinya rasa buah yang plain, cenderung minim manis alias datar-datar saja. Menurut Sobir pisang berkadar pati tinggi sangat cocok dibuat menjadi olahan seperti sale atau tepung. ‘Jika dibuat sale kualitasnya lebih baik dibanding pisang dengan kandungan gula tinggi,’ lanjutnya. Pisang berkadar gula tinggi berubah warna kehitaman jika dibuat sale. Yang berpati tinggi warnanya tetap cerah. Kadar pati tinggi pula-ini ciri tipe plantain alias pisang olah-yang membuat rasa hampir tidak berubah meski disimpan lama.
Di salah satu sudut Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Trubus bertemu dengan Seriwati. Perempuan asli Selebung, Narmada, itu kerap mengolah bile jadi penganan serupa sale. Buah matang diiris tipis, lalu dijemur di atas anyaman bambu-namanya kelabang-di bawah panas matahari sampai kering. Cirinya daging buah jadi kemerahan. Itu kira-kira memakan waktu 3 hari. Setelah itu, pisang diangkat, lalu dikemas dalam bungkus plastik. Olahan itu awet hingga berbulan-bulan dan bebas serangan cendawan meski tanpa bahan pengawet. Namanya kurma lombok.
Selain bile, jenis lain yang cocok diolah menjadi sale ialah kepok dan serawak alias pisang awak-sebutan di Sumatera. Namun, bile unggul karena daya simpan lebih lama. ‘Jika dikemas baik dengan kemasan kedap udara bisa tahan hingga setahun,’ kata Sobir.
Ganti beras
Buat pekebun, pisang bile jadi pilihan lantaran tahan kekeringan dan hama penyakit. Maisin ingat, pada periode 2001-2002 penanaman pisang di Lombok luluh-lantak karena serangan pseudomonas. ‘Tapi pisang bile bertahan,’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Pertanian di Jawa Timur itu.
Padahal bile-juga kepok dan awak-termasuk tipe yang rentan serangan ralstonia-nama terkini pseudomonas. Jenis-jenis itu berjantung manis sehingga jadi incaran serangga pencari madu yang jadi vektor ralstonia. Lazimnya penyakit itu menyerang buah muda. ‘Infeksi diawali dari bunga jantan-jantung, red,’ tutur Sobir. Secara umum, ralstonia diatasi dengan membuang jantung pisang begitu buah terbentuk atau dengan pembungkusan.
Bile ditanam di halaman-halaman rumah penduduk bersama pisang-pisang komersial Lombok lain. ‘Di Lombok ada 21 jenis pisang yang ditanam,’ ujar Sunardi, pengawas benih BPSBTPH Lombok Timur. Sebut saja ketip gunungsari, sari, dan tembaga merah. Sosok tanaman bile gampang dibedakan dari jenis lain karena pelepah daun mengkilap dan tulangnya berwarna merah. Penanaman tersentra di Kabupaten Lombok Timur dengan total luas penanaman 132 ha. Luas penanaman terbesar di Kecamatan Pringgabaya, Swela, Aik Mel, dan Sambelia.
Sayang populasi pisang bile kini terus melorot. ‘Sekarang pekebun banyak memilih menanam pisang ketip gunungsari,’ kata Maisin. Musababnya, buah bersisir itu dianggap paling bagus untuk dimanfaatkan sebagai pisang olahan. Jika direbus daging buah memadat. Dibuat molen atau digoreng pun gurih dan garing. Masa panen lebih singkat-beda 2-3 bulan dengan bile-buat pekebun lebih menguntungkan.
Toh PBKT IPB justru melihat potensi lain. ‘Bile cocok dijadikan pangan alternatif pengganti beras, terutama untuk wilayah Indonesia timur-termasuk daerah-daerah di Nusa Tenggara,’ tutur Sobir. Tanaman tahan kekeringan, buah mengandung pati tinggi, dan daya simpan lama jadi poin penting. Lagipula dengan kandungan mineral, vitamin, dan protein tinggi bile lebih cocok ketimbang pangan alternatif jagung dan umbi-umbian. Makanya bekerja sama dengan Universitas Mataram, PKBT IPB melakukan perbanyakan bibit dengan sistem kultur jaringan. Dengan begitu suatu hari nanti, pisang haji tak melulu untuk bekal calon bapak ibu haji, tapi jadi pangan pengganti beras. (Evy Syariefa)
