Sunday, August 14, 2022

Laba dari Gabah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Penerapan teknologi dan mekanisasi dalam budidaya padi agar laba meninggi.

Petani menempatkan bibit pada baki khusus untuk mesin transplanter.

Trubus — Yazid Bustomi tekun mengarahkan mesin penanam bibit padi mengitari sawah. Mesin mampu menanam padi di lahan 1 hektare hanya dalam sehari. Petani di Desa Kongsijaya, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu serius mengusahakan padi sejak 2013. Lazimnya anak muda beragribisnis menggeluti komoditas selain padi seperti hidroponik sayuran atau tanaman buah.

Yazid Bustomi mengenalkan mekanisasi pertanian pada
petani Desa Kongsijaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Meski mengusahakan padi, Bustomi memperoleh hasil yang menggembirakan. “Ternyata menanam padi menguntungkan juga,” tutur petani berusia 34 tahun itu. Bustomi mengelola 5 hektare sawah untuk budidaya padi. Pria kelahiran Indramayu 17 September 1986 itu menuai hingga 8 ton gabah kering panen per hektare. Bustomi mengatakan, rendemen gabah kering panen (GKP) menjadi gabah kering giling (GKG) mencapai 50―60%. Artinya jika ia menuai 8 ton GKP setara 4―4,8 ton GKG.

Laba lebih besar

Bustomi menjual rata-rata 80% GKG per musim. Harga jual sangat beragam tergantung musim dan kondisi pasar. Namun, Bustomi memperkirakan omzet Rp25 juta―Rp36 juta per hektare per musim tanam. Ia dan petani lain lumrah menjual gabah atau beras ke tengkulak. Ayah satu anak itu mengatakan, biaya produksi budidaya padi berkisar Rp15 juta―Rp25 juta per hektare.

Hasil penjualan gabah itu memberikan laba bersih Rp10 juta per hektare. Pendapatan dan omzet Bustomi jauh lebih besar dibandingkan dengan petani lain di sentra padi. Bustomi hanya dua kali menanam padi. Bustomi mampu meraih omzet lebih besar per satuan luas karena memanfaatkan teknologi dalam budidaya padi.

Petani mampu tanam padi setengah hektare setiap hari dengan mesin ini.

Sekadar contoh, untuk olah tanah ia memanfaatkan mesin traktor roda empat dengan biaya hanya Rp600.000―Rp1 juta per ha. Bandingkan dengan olah tanah manual, setidaknya memerlukan biaya Rp5,6 juta untuk 15 pekerja selama 3 hari. Durasi pengolahan tanah dengan traktor pun lebih singkat, hanya setengah hari. Selain olah tanah, Tomi juga mesin transplanter untuk tanam.

Mesin-mesin bantuan pemerintah itu milik Kelompok Tani Sri Rahayu III. Jika memanfaatkan mesin transplanter, petani mampu tanam padi setengah hektare setiap hari. Panen pun lebih cepat, yakni sehektare dalam sehari. “Sebenarnya petani mudah diajak berubah asal ada yang memberi contoh dan membimbing,” kata Bustomi.

Tenaga kerja langka

Bustomi menggunakan mesin untuk mengatasi kesulitan memperoleh tenaga kerja. Selain itu Bustomi juga menerapkan sistem budidaya jajar legowo. Pantas produksi padi di lahan Bustomi relatif tinggi, rata-rata 8 ton per ha. Bustomi menanam padi ciherang. Ia tengah menguji coba inpari 32 dan 33. Petani Mekanisasi memang tidak selalu mendorong naiknya produktivitas padi. Namun, setidaknya ia dapat menekan biaya produksi sehingga keuntungan lebih optimal. Bustomi membuktikannya dalam dua tahun terakhir. Ia tertantang melihat pertanian Vietnam dan Thailand yang lebih maju.

Alumnus Sekolah Menengah Kejuruan itu pun optimis pertanian Indonesia pasti bisa maju. Bustomi bereksperimen dengan memanfaatkan teknologi alsintan―alat mesin pertanian―terbaru. Sejak 2008 ia menggeluti bidang alat dan mesin dengan mendirikan sebuah bengkel las. Saat ini ada lima pekerja yang membantunya di bengkel. Mereka memproduksi beragam peranti pertanian seperti roda traktor dan implement traktor lainnya.

Unit traktor R4 untuk bajak dan garu.

Selain itu Bustomi juga pernah membuat mesin penyiang gulma dan memodifikasi traktor mini untuk mengangkut tanah, pasir, atau material lain. Pemuda itu mendorong petani lain menerapkan mekanisasi untuk meningkatkan laba dan sulitnya mecari tenaga kerja. Sebagai gambaran di Kecamatan Widasari, Indramayu, terdapat tradisi ceblokan sebagai wujud gotong-royong. Petani atau buruh tani membentuk tim menjelang musim tanam.

Tim menangani sawah yang sama mulai dari pindah tanam hingga panen. Setelah ada alsintan terbaru, tugas tim ceblokan berubah. Saat ini mereka tak lagi menanam, tapi menyiapkan bibit. Petani menempatkan bibit pada baki khusus sehingga memudahkan proses tanam oleh mesin transplanter. Namun, tradisi itu punya kelemahan. Ketika panen tiba, ada anggota tim yang memilih sawah lain untuk dipanen. Akibatnya merugikan pemilik sawah yang harus mencari tenaga bantuan. Padahal tim ceblokan sudah terikat “kontrak” dengan pemilik sawah untuk membantu pindah tanam hingga panen. Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img