Wednesday, January 28, 2026

Leow Cheok Kiang Sohor Berkat si Duri Hitam

Rekomendasi
- Advertisement -

Durian ochee alias duri hitam milik Leow Cheok Kiang menjadi juara dan terdaftar sebagai varietas unggul durian bernomor D200.

Leow Cheok Kiang membawa durian duri hitam yang dua kali menjadi juara kontes. (Dok. Trubus)

Trubus — Leow Cheok Kiang baru saja membuka kedainya pada sebuah siang yang terik di Nibong Tebal, Seberang Perai, Penang, Malaysia. Namun, para pelanggan sudah berdatangan di kios berukuran 300 m² itu. Mereka hendak membeli beragam jenis durian. Ah Kiang—panggilannya—menyediakan aneka jenis durian seperti ochee, musang king, mas muar D168, dan tupai king. Di kedai itu pasokan durian ochee alias duri hitam paling melimpah. Ah Kiang memang menjadikan ochee sebagai andalan.

Berkat varietas durian itulah para pelanggan mendatangi kedai Ah Kiang. Namanya menjadi sohor setelah ochee dari kebunnya menjadi juara dua kali berturut-turut dalam kontes durian yang diselenggarakan Jabatan Pertanian Malaysia pada 2013—2014. Berkat prestasi itu pula pohon ochee umur 35 tahun milik Ah Kiang disertifikasi sebagai pohon induk dan memperoleh nomor registrasi sebagai varietas unggul durian Malaysia dengan nomor D200.

Istimewa

Di kedai durian milik Ah Kiang pengunjung dapat memilih ochee kelas A atau B. Durian kelas A berbobot lebih dari 2 kg dan bentuk buah bulat sempurna. Harga durian kelas A RM60 setara Rp198.000 per kg. Adapun durian kelas B berbobot kurang dari 2 kg atau bentuk buah tidak sempurna. Ah Kiang menjual buah kelas B hanya RM30 setara Rp99.000. Wartawan Majalah Trubus mencoba durian kelas B sebagai “hidangan pembuka”.

Meski tergolong kelas rendah, kualitas daging buah tetap istimewa. Saat buah terbelah, tampak daging buah berwarna jingga terang dan berkeriput. Pada setiap juring hanya terdapat sebuah pongge. Penampilan daging buah seperti itu begitu menggoda. Bagi para maniak durian, penampilan daging buah yang tampak keriput sangat menggugah selera. Lazimnya daging buah keriput rasanya ada pahitnya.

Seluruh pasokan durian ochee di kedai milik Ah Kiang berasal dari kebun sendiri dan para mitra yang tersebar di tiga lokasi, yaitu di daerah Junjung, Kedah, Malaysia, Relau (Kedah), Limakongsi dan Sungai Baong (keduanya di Seberang Perai Selatan). Hingga kini lebih dari 1.000 pohon ochee menghuni kebun Kiang seluas 31 hektare. Lokasi lahan berketinggian 150 meter di atas permukaan laut itu di Sungai Baong. Lokasi kebun sekitar 5 km dari lokasi kedai.

Ketua Yayasan Durian Indonesia (YDI), Adi Gunadi (paling kiri) dan beberapa peserta tur berfoto di depan pohon induk ochee D200. (Dok. Trubus)

Populasi mencapai 650 pohon produktif berumur 15 tahun. Jarak tanam pohon anggota famili Malvaceae itu 10 m x 10 m. Pada awal Juli 2019, beberapa pohon masih menyisakan buah. Ah Kiang menuju lokasi pohon ochee tertua di kebunnya. Pohon itu tinggi menjulang dengan ukuran batang dua pelukan orang dewasa.

Pekebun durian sejak 1980-an itu menuturkan pohon ochee itu adalah hasil top working pada pohon durian berumur sekitar 15 tahun pada 1994. Artinya pada 2019 umur pohon ochee mencapai 35 tahun. Ia memperoleh entres dari pohon durian di kebun temannya yang berjarak sekitar 10 km dari kebun Ah Kiang. “Pohon durian itu berasal dari biji durian yang dibawa teman saya dari Thailand,” katanya.

Sayangnya pohon sumber entres itu mati. Pria 58 tahun itu mengatakan, produksi ochee tua mencapai lebih dari 100 buah per tahun. Bandingkan dengan produksi tanaman lain yang rata-rata berumur 15 tahun kurang dari 100 buah per pohon. Ah Kiang memanen buah dengan cara menunggu buah jatuh yang menandakan matang sempurna. Agar kualitas buah terjaga atau menghindari benturan akibat jatuh, ia mengikat buah.

Ochee juara

Pohon induk D200 alias ochee berumur 35 tahun dari hasil top working. (Dok. Trubus)

Durian dari pohon hasil sambung itu berdaging buah istimewa. Saat mengikuti kontes durian yang diselenggarakan pemerintah Negara Bagian Penang pada 2011, buah durian itu meraih peringkat kedua. Setahun kemudian akhirnya durian itu sukses menjadi juara. Pada 2013 buah tanaman anggota famili Malvaceae itu kembali mendulang prestasi gemilang dengan menjuarai kontes Durian Juara Antara Juara yang diselenggarakan Jabatan Pertanian Malaysia.

Pada 2014 ia mengulang sukses. Sejak itu durian duri hitam alias black thorn milik Ah Kiang menjadi perhatian media massa dan melambungkan namanya. Pada 2015 Ah Kiang mendaftarkan ochee juara itu sebagai varietas unggul ke Jabatan Pertanian Malaysia dengan nomor pendaftaran D200. Ah Kiang menuturkan ochee yang tumbuh di kebunnya tergolong produktif.

Namun, ia kerap menyeleksi buah saat buah seukuran telur sehingga jumlah panen kurang dari 100 buah. Ia menjual hasil panen di kedai milik sendiri dan juga para pedagang durian lain di Malaysia. Ah Kiang tak menyangka bila ochee menjadi jalan bagi kesuksesannya. “Padahal, waktu kecil saya sulit menghapal sehingga sering dimarahi orang tua kalau pulang sekolah,” tutur pria 58 tahun itu.

Selain dari kebun sendiri, Ah Kiang memperoleh pasokan buah dari petani mitra. Harap mafhum, permintaan konsumen sangat tinggi, sementara produksi buah di kebunnya tidak mencukupi untuk melayani konsumen. Ak Kiang menerima buah dari mitra dengan syarat buah matang sempurna. Ukuran buah bervariasi. Ah Kiang lalu menyortir buah menjadi grade A dan B. Untuk grade B berbobot minimal 1 kg per buah, lebih dari itu masuk grade A. Dalam satu musim Ah Kiang mampu menjual hingga ribuan buah durian. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img