Para pehobi sukses menyilangkan sansevieria. Harga fantastis hingga Rp50 juta per tanaman.
Sansevieria itu amat cantik. Susunan daunnya rapat dan tumbuh ke atas membentuk menara. Daunnya yang hijau gelap, makin menambah kesan ekslusif dan kokoh. “Oleh karena itu, namanya sansevieria tower,” ujar Santoso yang rela merogoh kocek hingga Rp50 juta untuk memboyong sepot tanaman itu ke Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ia kepincut sansevieria tower menjelang kontes nasional di Surabaya, Jawa Timur, pada Mei 2018.
Siapa sangka, transaksi dengan nominal fantastis itu menggenjot tren sansevieria hibrida di kalangan pehobi. Harap mafhum, sansevieria silangan antarspesies itu mulanya dipandang sebelah mata. Penggemarnya masih kalah dengan sansevieria variegata atau lidah mertua yang mengalami kelainan pigmen warna.

Pehobi mancanegera
Semula harga sansevieria hibrida masih kalah dengan variegata seperti jenis S. pinguiculata variegata, S. rorida variegata, dan S. pfisteri variegata. Namun momentum transaksi itu membuat para pehobi lidah mertua kembali memburu tanaman hias penyerap polutan itu. “Semua jenis sansevieria hibrida laris manis, tidak hanya jenis-jenis tertentu,” ujar Fery Undaru, pehobi sansevieria di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Bahkan, saat kontes di Surabaya itu, Santoso berhasil mejual sepot sansevieria hibrida seharga US$3.500 setara Rp35 juta. Padahal, pada hari yang sama, ia membeli tanaman itu Rp17 juta rupiah. “Pembelinya orang Thailand. Kita bisa menganggap sansevieria hibrida produksi Indonesia masih terbaik untuk saat ini. Terbukti, orang luar negeri menggemarinya,” ujar Santoso.
Namun, kendala yang ia alami adalah susah dan mahalnya biaya ekspor sansevieria. “Banyak orang luar negeri seperti dari India dan Brasil menghubungi saya lewat media sosial ingin membeli sansevieria koleksi saya. Tetapi terpaksa saya tolak karena susah dan mahalnya ekspor tanaman,” ujarnya. Hal itu cukup sebagai bukti sansevieria hibrida produksi anak negeri berkualitas tinggi dan diminati para pehobi dalam maupun luar negeri.
Di dalam negeri permintaan sansevieria hibrida meningkat signifikan. Semula Fery hanya menjual sekitar 10 tanaman koleksinya per bulan. Kini sebulan ia bisa menjual sekitar 30-an sansevieria hibrida.
Hibrida variegata

Sejatinya sansevieria hibrida menggeliat sejak 2006—2007. Saat itu kemunculan sansevieria spesies baru makin jarang, kalaupun ada ukurannya kecil. Sementara para penggemar sansevieria sedang bergairah memburu sansevieria baru.

Maka para pehobi sansevieria yang memiliki pengetahuan pemuliaan tanaman mulai menyilang-nyilangkan antarspesies lidah mertua itu. Sekadar menyebut beberapa pehobi adalah Choirisal Ohiyar, Taufik Hidayat, dan Edy Sebayang di Tangerang, Banten.
Mereka bersama-sama mencetak sansevieria jenis baru yang berkualitas dan berbeda dengan karakter-karakter yang sudah ada. Juri kontes sansevieria asal Magelang, Jawa Tengah, Febri Widhi Armanu, menuturkan, peraih jawara di kelas hibrida kerap unggul dari susunan daunnya yang rapi plus termasuk karakter baru di dunia lidah mertua.
Koleksi pehobi asal Surabaya, Jawa Timur, Andre Martha, kerap menjuarai kelas hibrida. Andre menuturkan, selain karakter dasar tanaman yang bagus, proses pemeliharaan tanaman juga tak bisa disepelekan. “Kuncinya pada media tanam, pemupukkan, dan penempatan tanaman,” ujar Andre. Ia optimis masa depan sansevieria hibrida akan terus berkembang. “Harga sansevieria hibrida yang warna hijau saja sudah bisa tembus puluhan juta rupiah. Bagaimana dengan sansevieria hibrida yang variegata? Pasti akan meningkat pesat,” ujarnya. (Bondan Setyawan)
