Saturday, January 17, 2026

Mahasiswa UGM Ciptakan Mulsa Ramah Lingkungan dari Eceng Gondok dan Limbah Cangkang Telur

Rekomendasi
- Advertisement -

Limbah plastik dari mulsa pertanian menjadi persoalan serius di lahan-lahan Indonesia. Sisa-sisa plastik yang tidak terurai mencemari tanah dan mengganggu struktur mikroorganisme di sekitarnya.

Berangkat dari keresahan itu, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan solusi inovatif. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), mereka mengembangkan SABI atau Mulsa Organik berbahan eceng gondok dan cangkang telur.

Tim ini terdiri atas Salfa Alifia Putri, Erelyne Erlina, dan Aimmatul Husna dari Fakultas Pertanian, Fanisa Esa Alfira dari Fakultas Biologi, serta Jane Angguningtyas Deanani dari Sekolah Vokasi. Mereka dibimbing oleh dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian, Nasih Widya Yuwono, SP., MP.

Salfa, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa bahan pembuatan mulsa diambil dari limbah yang mudah ditemukan di sekitar lahan. “Dengan bahan alami yang melimpah, biaya produksi menjadi lebih efisien dan hasilnya ramah lingkungan,” ujar Salfa, Rabu (5/11).

Proses pembuatan mulsa dilakukan di Laboratorium Pakan, Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Dalam waktu tiga hingga empat jam, mereka mampu menghasilkan 50—60 lembar mulsa berbentuk lingkaran berdiameter 30 sentimeter, sesuai ukuran pot tanaman sedang.

Mulsa organik ini terbukti menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan mencegah erosi. Saat terurai, bahan-bahan alami tersebut juga menambah unsur hara bagi tanah sehingga berfungsi ganda sebagai pupuk organik.

Produk SABI diharapkan dapat menggantikan peran mulsa plastik konvensional di lahan pertanian. “Kami ingin membantu petani beralih ke metode tanam yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tambah Salfa.

Tim SABI berencana memperluas uji coba ke berbagai jenis tanaman dan lahan pertanian. Mereka juga tengah menjajaki kerja sama dengan petani untuk memperbesar skala produksi.

Inovasi ini telah diperkenalkan melalui EXPO Dies Natalis Fakultas Pertanian, EXPO Pionir Pascasarjana, serta platform e-commerce dan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Melalui langkah ini, SABI diharapkan menjadi pionir pertanian ramah lingkungan yang bebas limbah plastik di Indonesia.

Foto: Dok. UGM

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img