Trubus.id— Imam Mustaqim memanen 5 ton jagung manis dari lahan 0,25 hektare. Menurut petani jagung di Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, itu jika harga bagus bisa dapat omzet Rp10 juta.
“Saat harga kurang bagus omzet sekitar Rp7,5 juta,” tuturnya.
Ia mengandalkan jagung manis varietas exotic produk PT Agri Makmur Pertiwi di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. “Dari berbagai varietas jagung manis, exotic yang terbaik. Kalau stok benih kosong. Saya pakai jenis golden boy,” kata Imam.
Ia memilih exotic karena tahan penyakit karat dan hawar daun dan bercita rasa manis (11,8—13°brix). Selain itu umur panen exotic 66—70 hari setelah tanam (hst) dengan bobot 250—400 g per tongkol.
Potensi hasil jagung yang dirilis pada 19 Oktober 2009 itu mencapai 18 ton per hektare. Sementara keunggulan jagung golden boy bercita rasa manis dengan tingkat kemanisan hingga 13,4°brix.
Potensi hasil jagung yang diproduksi PT BISI International itu mencapai 16,8 ton per hektare. Golden boy dapat dipanen pada umur 68—75 hst. “Hasil panen golden boy di lahan 1.700 m2 hanya 2,5 ton. Jadi, lebih banyak exotic,” tutur Imam.
Ia menyadari betul penggunaan benih berkualitas mesti dibarengi dengan perawatan intensif sejak sebelum tanam hingga panen. Mula-mula Imam merendam benih jagung dalam larutan pestisida untuk mencegah penyakit bulai.
Ia merendam 5 kg benih dalam 10 ml larutan fungisida berbahan aktif dimetomorf 500 gram per liter dan piraklostrobin 10 gram per liter. Kemudian ia membuat lubang tanam berjarak 20 cm × 65 cm. Setiap lubang tanam berisi satu benih.
Pada umur 25 hst, ia menyemprotkan pestisida berbahan aktif emamektin benzoate 5%. Pestisida itu berguna untuk mengendalikan hama ulat. Konsentrasi 5 gram pestisida diencerkan dengan 14 liter air.
Petani itu memanfaatkan 30 kg Urea dan 30 kg Phonska per 15 hari sekali untuk kebun seluas 1.700 m². Pemupukan pertama saat tanaman berumur 15 hari, kemudian 30 hari, dan terakhir 45 hari.
Imam memanen jagung exotic saat tanaman berumur 70 hari. Sementara itu petani memanen jagung golden boy lebih cepat yakni ketika berumur 65 hari. Ia membudidayakan jagung manis dua kali setahun pada Desember dan Maret.
Pemilihan kedua varietas itu juga agar tebon atau batang jagung laris terjual. Masyarakat memanfaatkan tebon sebagai pakan ternak ruminansia. Harap mafhum, saat itu masyarakat lebih cenderung menanam padi dibandingkan dengan jagung.
Menurut Imam stok tebon di petani sedikit atau kosong. Yang memiliki tebon hanya Imam. Dari lahan 0,25 hektare, ia meraup untung Rp1 juta dari penjualan rumput dan tebon. “Total pendapatan saya sekitar Rp8,5 juta saat harga kurang baik,” tutur pekebun jagung sejak 2018 itu.
Setelah dikurangi ongkos produksi (benih, biaya panen, pupuk, dan pestisida) sekitar Rp3 juta, maka ia mengantongi laba Rp5,5 juta.
