Trubus.id — Gulma menjadi pesaing tanaman dalam memperebutkan nutrisi, air, dan sinar matahari. Dampaknya, produksi tanaman menjadi rendah. Oleh karena itu, penggunaan mulsa plastik hitam perak menjadi salah satu solusi mengatasi gulma.
Menurut Ir. Edhy Sandra, M.Si., ahli fisiologi tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mulsa membuat proses perkecambahan gulma terhambat. Benih-benih gulma tidak mendapatkan sinar matahari. Gulma juga tidak mendapatkan aerasi atau udara.
“Sementara setiap sel hidup memerlukan oksigen untuk bisa tumbuh dengan baik,” kata Edhy.
Lebih lanjut, ia mengatakan terhambatnya pertumbuhan gulma itu meningkatkan efisiensi ketersediaan unsur hara dan organik dalam tanah. Dampaknya, tanaman utama dapat memanfaatkan seluruh makanan di media secara optimal.
Penggunaan mulsa menstabilkan fluktuasi antara tingkat kering dan basah pada tanah. Jadi, ketersediaan air di media tanam lebih stabil. Pasokan air yang stabil penting untuk proses fotosintesis. Mulsa menyebabkan terjadinya pantulan sinar matahari ke daun bagian bawah tanaman. Akibatnya, fotosintesis bisa merata.
“Pantulan sinar meningkatkan jumlah daun berklorofil terkena sinar menjadi meningkat,” jelasnya.
Oleh karena itu, metabolisme atau sumber energi yang dihasilkan oleh tanaman pun lebih tinggi. Pemakaian mulsa menutup gulma membuat perkembangan mikrob dalam tanah menjadi lebih bagus karena tingkat kelembapan stabil.
Pada kondisi itu mikrob-mikrob positif bisa bekerja lebih baik. Kebersihan tanah dari gulma membuat sirkulasi udara lebih bagus dan mencegah kelembapan statis yang memicu pada berkembang biaknya mikrob negatif.
Berbagai manfaat mulsa menjadi alternatif pengendalian gulma. Mulsa bisa digunakan berkelanjutan atau tanam berulang. Selain bisa menekan biaya, mulsa bisa berdampak pada meningkatnya produktivitas panen setelah kompetitornya (gulma) bisa dikendalikan.
