Wednesday, April 22, 2026

Melestarikan Kepel dengan Perbanyakan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Populasi kepel kian langka. Perlu perbanyakan tanaman untuk melestarikannya. Tjahjono Budi Santoso selalu menyimpan biji buah tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) saat musim berbuah pada September—Desember setiap tahun sejak 1998. Jumlahnya banyak.

“Saya mau memperbanyak tanaman kepel karena saya pikir sudah langka,” kata warga Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu.

Saat itu rumah Tjahjono pindah ke lokasi yang terdapat pohon kepel setinggi sekitar 10 m. Sayang upaya Tjahjono memperbanyak tanaman anggota famili Annonaceae itu selama 5 tahun pada 1998—2003 gagal.

Tidak ada biji kepel yang berkecambah dan tumbuh menjadi bibit siap tanam. Sejak saat itu ia berhenti membibitkan kepple apple—sebutan kepel di Inggris. Sebetulnya ada 2 biji yang berkecambah dan tumbuh menjadi bibit sehat.

Dua bibit kepel yang jadi itu tidak sengaja. Ia hanya meletakkan biji sembarangan malah tumbuh. “Sebenarnya tidak disangka bisa tumbuh,” kata pria berumur 70 tahun pada Oktober 2023 itu.

Dua orang kenalan Tjahjono meminta masing-masing bibit itu. Satu bibit tertanam di sebuah masjid di Jumeneng, Kabupaten Sleman, DIY. Tjahjono sengaja membibitkan kepel dari biji agar perakaran tanaman kuat sehingga ketika tumbuh tinggi dan tertiup angin kencang tidak tumbang.

Menurut Perencana Ahli Muda Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta, Fasis Mangkuwibowo, S.Hut., M.Sc., membibitkan kepel relatif sulit. Alasannya biji burahol— sebutan kepel oleh masyarakat Sunda—agak keras dan lebih besar.

Oleh karena itu, Fasis bersama anggota staf kerja sama BBPSIK Yogyakarta, Dwi Wahyudi, merendam biji kepel dengan air panas selama 10 menit. Setelah itu mereka merendam biji dalam air dingin untuk memecah dormansi karena kulit biji cukup keras. Kemudian Fasis dan Dwi menyemai biji kepel dalam bak berisi tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1.

Perawatan harian hanya penyiraman dan penyiangan gulma. Tidak ada perlakuan khusus. “Jaga kelembapan saat perkecambahan. Jangan langsung kena panas. Jika perlu bak persemaian disungkup plastik,” kata Fasis.

Berselang 1,5 bulan biasanya muncul 1—2 daun. Setelah agak berkayu atau berumur sekitar 4 bulan, bibit siap ditanam di lahan. Fasis dan Dwi membibitkan ribuan cindul—sebutan lain kepel di Jawa—pada 2008. Kini ribuan bibit kepel itu tersebar di DIY dan sekitarnya


Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This