Thursday, July 25, 2024

Melindungi Buah dari Serangan Antraknos dengan Daun Pepaya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Pekebun perlu mewaspadai serangan papaya ringspot virus (PRsV) dan antraknos agar hasil panen pepaya maksimal. Pepaya yang terinfeksi PRsV umumnya bergejala mosaik menonjol pada daun, klorosis pada lamina daun, dan garis-garis seperti berminyak pada tangkai daun.

Pada bagian buah terdapat bercak membulat seperti cincin. Pada buah yang terserang parah, bercak yang berwarna cokelat menebal dan mengeras. Virus itu muncul akibat terbawa stilet dan ditularkan oleh kutu daun, yaitu Myzus persicae dan Aphis gossypii.

Selain pepaya, PRsV juga menyerang tanaman anggota famili Cucurbitaceae. Itulah sebabnya, Affandi, S.P., M.Sc., Ph.D., peneliti hama dan penyakit tumbuhan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika, Solok, Sumatra Barat, mengatakan, pekebun harus mengendalikan serangga Myzus persicae dan Aphis gossypii yang menjadi vektor PRsV.

Hindari menanam tanaman yang menjadi inang alternatif aphid seperti tanaman kelompok kacang-kacangan dan mentimun-mentimunan (famili Cucurbitaceae) di sekitar kebun pepaya.

Jika telanjur terserang penyakit, mau tidak mau pekebun harus melakukan eradikasi karena penyakit akibat serangan virus tidak dapat disembuhkan. Solusinya, tebang tanaman terserang makhluk liliput itu, lalu musnahkan dengan cara dibakar.

Pastikan alat-alat yang digunakan untuk menebang disterilisasi menggunakan alkohol 70 persen atau dibakar. Tujuannya, agar alat itu tidak menularkan virus pada tanaman lain. Hindari juga menggunakan bagian tanaman yang sakit untuk benih, misal biji dari buah yang terserang penyakit atau setek tunas dari tanaman terinfeksi.

Antraknos

Penyakit yang juga berbahaya bagi pepaya adalah antraknos. Menurut Siti Jahara Nur Amalia, alumnus Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), penyakit yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides itu menyebabkan kerusakan dan kerugian di lapangan dan pascapanen.

“Penyakit itu dapat menyerang bibit, batang, dan buah,” kata Siti.

Namun, yang paling rentan terserang adalah fase pembibitan. Cendawan itu menyebar dari daun atau kotiledon, lesi ke batang, akhirnya menyebabkan busuk leher serta rebah kecambah (damping off). Antraknos juga menyerang tanaman ketika berbuah dan panen.

Menurut Muhammad Asep Awaludin, alumnus Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, patogen itu menimbulkan bercak-bercak cokelat kemerahan, basah, kecil, dan bulat pada buah menjelang matang.

Pada waktu buah matang bercak itu membesar dengan cepat, membentuk bercak bulat, dan berwarna cokelat kemerahan. Selanjutnya, cendawan patogen itu terus berkembang dan membusukkan bagian dalam buah.

Petani dapat menggunakan nabati dari ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk mengatasinya. Ternyata, tanaman yang berpotensi sebagai fungisida nabati salah satunya daun pepaya. Itu terbukti dalam penelitian yang dilakukan Asep.

Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun pepaya berpengaruh nyata menghambat pertumbuhan koloni C. gloeosporioides, keterjadian penyakit, dan laju perkembangan penyakit antraknos pada buah pepaya.

Ekstrak daun pepaya menghambat pertumbuhan koloni cendawan C. loeosporioides pada 2–7 hari setelah inokulasi. Daun pepaya muda banyak mengandung zat aktif enzim papain dan alkaloid yang bersifat bakterisida dan fungisida. Oleh karena itu, ekstrak daun pepaya dapat digunakan sebagai fungisida nabati sebagai pengganti fungisida sintetik.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kembangkan Kelapa Genjah Merah Bali, Pekebun Panen Lebih Cepat

Trubus.id—Gede Sukrasuarnaya kesengsem penampilan kelapa genjah merah bali. “Warnanya cantik jingga kemerahan. Buahnya lebih banyak dan lebih besar dibandingkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img