Thursday, August 18, 2022

Melongok sang Naga di Negeri Naga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah makanan selamat datang yang disajikan Great Hill Garden saat Trubus mengunjungi perkebunan buah naga itu pada September 2006. Buah naga merah segar disajikan dengan secangkir teh rosela. Menurut Ma Yong Xin, pemandu Trubus, teh rosela yang kecut membangkitkan citarasa menyegarkan pada buah naga merah yang manis. Apalagi disantap ketika matahari tengah terik-teriknya. Pantas, bila dalam sekejap buah naga merah yang tersaji di atas piring langsung tandas.

Usai menyantap buah segar, sang pramusaji lantas merapikan meja seraya membagikan mangkuk putih. Pramusaji lain datang membawa mangkuk putih berukuran jumbo. Saat diletakkan di atas meja, ternyata isinya adalah sup buah naga merah. Sup terbuat dari daging buah yang dihancurkan lalu dimasak dengan telur. Baru kali ini menyaksikan buah naga disajikan dalam hidangan berupa sup.

Menu andalan

Rasa penasaran membangkitkan hasrat untuk segera mencicipi hidangan unik itu. Trubus pun langsung menuangkan sesendok sup buah naga merah ke dalam mangkuk. Sup itu masih hangat. Saat dicecap, hmm… rasa manis buah naga tak terasa lagi. Hanya rasa asin dan masam tercecap di ujung lidah.

Rasanya memang unik. Sang juru saji menuturkan menu sup buah naga merah makanan pembuka andalan di restoran di Great Hill Garden. ‘Rasa masam yang menyegarkan bisa membangkitkan selera makan,’ katanya.

Usai makan siang, Trubus diajak berkeliling kebun yang berada di samping lokasi restoran. Di lahan 3,6 hektar itu terhampar tanaman buah naga yang berderet rapi sepanjang 66 m. Populasi buah naga pada masing-masing deretan terdiri atas 89 tanaman atau berjarak tanam 135 cm. Sedangkan jarak antarderetan kira-kira 2 m. Tanaman ditopang beton setinggi orang dewasa atau sekitar 170-180 cm.

Pemandangan kebun buah naga begitu asri. Permukaan tanah berbalut rumput yang dipangkas rapi. Tak ada gulma yang tumbuh. Perkebunan yang berlokasi di bagian selatan Guangzhou, Provinsi Guangdong, China, itu hanya dihuni buah naga. Di sana dibudidayakan 3 jenis buah naga.

Dua hektar ditanami buah naga berdaging merah, 1 ha berdaging putih. Sedangkan sisanya buah naga kuning berdaging putih. Populasi buah naga merah memang paling banyak di kebun itu. Maklum, jenis itu paling digemari konsumen karena diyakini berfaedah sebagai obat penurun tekanan darah tinggi dan sumber antioksidan.

Sebagian besar tanaman berumur 13 tahun. Pantas bila setiap tanaman bercabang hingga puluhan. Beberapa di antaranya tengah menggendong buah. Pada musim panas yakni pada Agustus-Oktober, buah naga memang sedang marak berbuah, kecuali buah naga kuning. ‘Umurnya padahal sudah 4 tahun. Tapi entah kenapa sampai sekarang belum berbuah,’ ujar Ma Yong Xin.

Bila sedang musim berbuah, setidaknya 2-3 ton buah naga dipanen setiap hari. Hasil panen dijual ke beberapa pasar swalayan di kawasan Conghua. Sisanya dijual kepada para pengunjung sebagai buah tangan dengan harga 30 yuan atau setara Rp30.000/6 buah yang dikemas dalam kotak cantik. Di perkebunan itu, pengunjung juga bisa membeli bibit buah naga dengan harga 12 yuan.

Wisata petik

Buah naga memang menjadi komoditas andalan Great Hill Garden. Kebun buah naga itu milik Lu Yun Hua. Pengusaha kelahiran Taiwan itu sebelumnya menetap selama 30 tahun di Amerika Serikat. Ketika genap berusia 57 tahun pada 1993, ia kembali ke negeri Naga sambil membawa ratusan bibit buah naga dari Florida dan menetap di Desa GuangHui, Cheng Jiao Jie, Conghua. Bibit itu kemudian diperbanyak hingga berjumlah ribuan.

Impiannya membangun kawasan agrowisata buah naga organik. Untuk mewujudkan angan-angannya itu ia tak tanggung-tanggung mengundang ahli budidaya asal negeri Paman Sam. Dialah yang meramu pupuk organik sehingga kerabat kaktus itu tumbuh subur di lahan bekas pesawahan itu. Sayang, saat ditanya soal jenis pupuk yang digunakan, sang pengelola enggan memberitahukan.

Keesokan hari perjalanan Trubus berlanjut ke kawasan agrowisata lainnya di kota Fengben. Kalau di tanahair, perkebunan yang berlokasi 30 km ke bagian timur Conghua itu ibarat Taman Wisata Mekarsari di Cileungsi, Bogor. Para pengunjung bisa memetik sendiri buah-buahan yang dibudidayakan di sana, yaitu buah naga, belimbing, jambu biji, pisang, srikaya, blueberi, wampee, dan tin. Kedelapan komoditas itu ditanam di lahan 19 ha.

Jarum jam menunjuk angka 9 ketika Trubus tiba di Fengben Agricultural Research Institute. Begitu tiba, rombongan langsung menuju kebun buah naga. Maklum, lokasi kebun itu paling dekat dengan pintu masuk. Buah yang kulitnya bersisik itu dibudidayakan di lahan 4 ha.

Tak seperti di Conghua, buah naga di perkebunan itu ditanam di guludan yang lebarnya sekitar 2 m. Antarguludan dipisahkan parit selebar 60-70 cm. Buah naga ditanam di tepi guludan dengan jarak tanam agak renggang, 2 m, untuk memudahkan para pengunjung yang hendak memetik buah. Tinggi tanaman juga lebih pendek, hanya setinggi bahu orang dewasa atau sekitar 150 cm.

Organik

Buah naga di perkebunan itu juga dibudidayakan secara organik. Itulah sebabnya para pengunjung diperbolehkan mengkonsumsi buah di kebun sepuasnya tanpa khawatir teracuni pestisida kimia. Menyantap buah segar sepuasnya memang mengasyikkan. Namun, menurut Ma Yong Xin meski tidak dibatasi, rata-rata pengunjung hanya mampu mengkonsumsi tidak lebih dari 2 buah. Pengunjung bisa membawa pulang buah yang dipetik setelah terlebih dahulu ditimbang dan membayarnya dengan harga 30 yuan atau Rp30.000/kg.

Uniknya, setiap pengunjung yang mengkonsumsi buah di kebun selalu disarankan agar membuang kulit atau sisa buah yang tidak dimakan ke dalam parit. Sampah itu nantinya membusuk dan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Selain sampah buah-buahan, pengelola menambahkan tepung kulit telur ayam sebagai sumber kalsium dan bungkil kedelai sebagai sumber nitrogen ke dalam parit.

Setiap pagi para pekerja menyemprot parit dengan larutan effective microorganism (EM). Tujuannya untuk mempercepat penguraian sampah buah-buahan sekaligus mencegah bau tidak sedap akibat pembusukan. Pengelola kebun juga menambahkan pupuk organik cair yang diberikan melalui pipa polietilen alias drip irigation dengan interval sekali sepekan. Dengan begitu, tak hanya kesegarannya yang dinikmati, tetapi juga menyehatkan. (Imam Wiguna)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img