Penambahan silika terbukti empiris dan ilmiah meningkatkan hasil panen, memperpanjang akar, memperbanyak anakan, dan memperkokoh batang padi.

Trubus — Veri Veranto menuai 64 ton gabah kering panen (GKP) dari lahan 5 hektare pada November 2019. Artinya sawah milik Veri memproduksi 12, 8 ton GKP per hektare. “Hasil panen itu lebih tinggi dibandingkan dengan petani lain yang mendapatkan 10,8 ton per hektare,” kata petani asal Mantingan, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, itu. Jadi, produksi sawah milik Veri lebih tinggi 2 ton setara 18,5% daripada tetangga.
Saat itu harga GKP Rp5.100 per kg sehingga omzet Veri Rp326,4 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi sekitar Rp100 juta, rekening Veri bertambah Rp226,4 juta. Veri mengingat, batang padi pun lebih kokoh dan tegak. Buktinya pada musim tanam 1 (MT 1) 2019 tanaman padi milik Veri hanya roboh di titik-titik tertentu. Total jenderal sekitar 0,5 hektare padi yang rebah akibat hujan saat itu.
Bandingkan dengan penanaman padi pada musim tanam sebelumnya pada MT 1 2016. Saat itu hampir semua padi di sawah 5 hektare milik Veri roboh akibat hujan deras sehingga pengisian bulir padi tidak maksimal dan biaya panen meningkat. Padi di sawah Veri juga relatif tahan hama dan penyakit. Semua hasil positif itu terjadi setelah Veri menggunakan pupuk nanosilika cair. Ia memanfaatkan pupuk nanosilika saat perendaman benih, 10 hari setelah tanam (hst), 25 hst, 35 hst, 45 hst, 65 hst, dan 75 hst.
Perkuat jaringan
Veri menghabiskan 3 liter pupuk nanosilika per 1.000 liter air untuk lahan 1 hektare hingga panen. Menurut Veri biaya pembelian pupuk nanosilika itu tergolong ekonomis dan efektif berdasarkan hasil yang didapat. Apalagi pemakaian nanosilika mengurangi penggunaan Urea dan SP36 hingga 10%. “Saya senang dengan peningkatan hasil panen itu,” kata pria berumur 40 tahun itu.
Veri mengetahui pupuk nanosilika sejak 2016. Ia memutuskan menggunakan nanosilika ketika hampir semua padi miliknya rebah pada MT 1 2016. Penggunaan pupuk nanosilika berlanjut hingga kini karena hasilnya positif. Hasil panen tertinggi di sawah milik Veri setelah menggunakan nanosilika yaitu 14 ton/hektare pada 2018. Pupuk nanosilika yang dipakai Veri adalah salah satu produk hasil penelitian Dr. Agus Subagio, M.Si., Dr. Erma Prihastanti, M.Si., Ngadiwiyana, M.Si., Khasan Rowi, S.Si., dan Ahmad Gufron, S.Si., dari Laboratorium Bio-Nanoteknologi, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Agus dan tim tertarik mengembangkan nanosilika lantaran terbatas yang menggarap dan manfaatnya luar biasa untuk pertanian. Salah satu hasil riset Dr. Erma Prihastanti, M.Si., dan tim menunjukkan penggunaan pupuk nanosilika mempengaruhi pertumbuhan malai padi sintanur. Hasil penelitian mengungkapkan bulir malai padi sintanur dengan penambahan pupuk nanosilika lebih banyak 53% daripada tanpa nanosilika.
Tinggi malai budidaya dengan nanosilika mencapai 26,77 cm, sedangkan tanpa nanosilika 22,3 cm. Adapun panjang akar penanaman memakai nanosilika 9,57 cm. Sementara panjang akar padi sintanur tanpa nanosilika hanya 8,31%. Sistem perakaran yang lebih panjang dapat menembus lapisan tanah lebih dalam untuk mendapatkan asupan air dan nutrisi.
Riset disertasi Dr. Amrullah, M.Si., ketika menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, memperkuat penelitian Erma dan tim. Hasil penelitian Amrullah menunjukkan nanosilika mempercepat pertumbuhan, memperpanjang akar, memperbanyak anakan, memperkuat batang, dan memaksimalkan pengisian bulir padi ciherang sehingga hasil panen meningkat.
Efektif

Jadi pemakaian pupuk silika berukuran nano (0,0000000001 meter) efektif dan efisien meningkatkan hasil panen. Alasannya penyerapan silika lebih cepat dan maksimal melalui mulut daun (stomata) karena berukuran nanometer. Pupuk nanosilika kreasi Agus dan tim berasal dari sodium silicate dalam pasir silika yang banyak terdapat di Indonesia. Tim peneliti tidak memanfaatkan jerami atau sekam karena khawatir jumlahnya tidak mencukupi jika untuk produksi massal.
Menurut Agus pembuatan nanosilika relatif sederhana jika sudah mengetahui ilmunya. Tidak perlu barang impor untuk membikin nanosilika. Agus menuturkan, produksi nanosilika menarik dan bisa menjadi bisnis yang luar biasa. Saat ini peredaran pupuk nanosilika bikinan Agus dan tim masih terbatas. Alasannya tim masih mengurus izin edar produk itu. “Target pada medio 2020 produk pupuk nanosilika kami beredar di masyarakat,” kata Agus. (Riefza Vebriansyah)
