‘Pernah ada yang diare setelah meminum kopi itu,’ ujarnya. Tak hanya Anggus, semua warga Habinsaran berlaku sama pada kopi pendek-nama lain di Habinsaran-itu, tak pernah meminumnya!
Bertolak belakang jika melihat nasib kopi itu di Amerika Serikat, PT’s Coffee Roasting Co. Specialist, penyedia kopi berkualitas di negara bagian Kansas misalnya, getol mempromosikan kopi pendek itu sebagai kopi unggulan. Kopi lintong-nama dagang diambil dari Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Balige, di Tapanuli Utara-tak kalah soal rasa dan aroma daripada robusta.
Starbuck, waralaba kopi terkenal dunia, bahkan merilis black apron exclusive berbahan dasar kopi pendek itu pada Juni 2007. ‘Ini bukti citarasa kopi pendek sudah diakui dunia,’ kata Cahya Ismadi, manajer Industri Rintisan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur.
Bersama Anggus di penghujung Juni 2008 Trubus menyusuri kebun-kebun kopi pendek itu di Desa Lumbanrau, Kecamatan Habinsaran. Belum jauh berjalan dari kediaman Anggus, deretan pohon kopi berbuah lebat ditanam di samping halaman rumah penduduk desa. Semua tampak rapat. Harap mafhum, jarak tanamnya 2 m x 2 m. ‘Di sini setiap penduduk paling sedikit punya 50 pohon,’ ujar Anggus yang pertama kali mendatangkan kopi pendek itu dari Desa Siborong-borong, Tapanuli Utara, pada 1998.
Ada kisah menarik seputar penamaan sigarar utang. Dahulu kopi itu dianggap sebagai pembayar hutang. ‘Banyak warga yang meminjam uang atau sembako kemudian melunasinya dengan hasil panen kopi,’ tutur Anggus. Nah, penyebutan kopi pendek itu cuma berlaku di Habinsaran dan kecamatan tetangga, Borbor. Itu mengacu pada tinggi pohon dan waktu panen.
Anggota keluarga Coffea itu paling pol tingginya 1,5 m; normalnya 3 m. Waktu panen 2 tahun sejak tanam; normalnya 4 tahun. ‘Satu pohon bisa menghasilkan 4 kg buah kopi,’ kata Anggus, yang meraup pendapatan Rp2,6-juta setiap kali panen. Nah, anggapan beracun Cahya menduga berasal dari citarasa kopi yang asam. ‘Ia baru dapat diminum setelah dicampur robusta. Tidak bisa tunggal, karena akan membuat perut jadi sakit,’ kata Cahya.
Sejarah menunjukkan Sumatera Utara memang gudangnya kopi-kopi berkualitas terutama jenis arabika. Selain kopi pendek yang tumbuh subur di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl, ada pula kopi mandheling dari Tapanuli Selatan. Nama mandheling bahkan menjadi jaminan mutu di dunia perdagangan kopi dunia. Mandheling punya biji keras dan aroma harum menguar tajam. Pantas bila pemerintah daerah Sumatera Utara terus menggenjot penanaman kedua jenis kopi itu. Kini lahan arabika mencapai 31.551 ha atau 53,73% dari total luas lahan kopi di Sumatera Utara.
Menurut Edi Susmandi, Acting Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, kopi lintong sudah bisa disejajarkan dengan kopi mandheling. ‘Saat lomba kopi Cup of The Year Competition di Minnesota, Amerika Serikat, pada Mei 2008, kopi lintong meraih nilai 86 dari nilai tertinggi 100,’ ujar Edi.
Angka itu lebih tinggi ketimbang arabika unggulan lain tanahair seperti gayo dari Aceh, kopi toraja, dan kopi dari Papua, yang mendapat nilai 80-82. Pantas kopi pendek pun dilepas sebagai varietas unggulan oleh Menteri Pertanian pada 2005 dengan nama sigarar utang. Sebab itu kini sigarar utang tak hanya ditanam di Sumatera Utara, tapi sudah menyebar hingga Pulau Jawa.
Selain kopi pendek, kemenyan menjadi unggulan masyarakat di Habinsaran, Toba Samosir. Pohon hamijon-nama lokal-itu menyebar hingga Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Phakpak Barat. Namun soal kualitas, ‘Hamijon Styrax paralleloneurum dari Toba paling berkualitas,’ ujar Ridwan A Pasaribu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Bogor, Jawa Barat. Indikator mutu didasarkan pada: kadar air, kadar kotoran, dan kandungan kimia seperti asam benzoat dan asam siamat.
Ditemani Rosma Pasaribu, pekebun kemenyan, Trubus mengunjungi kebun rakyat di Desa Pangururan, Kecamatan Borbor, yang berjarak tempuh 1 jam perjalanan mobil dari Sirpang, Lumbanrau. Di ketinggian 1.240 m dpl kemenyan ditanam dekat kebun kopi. Meski tanaman unggulan, sejauh ini pekebun membiarkan kemenyan tumbuh apa adanya. Sekeliling pohon yang bisa mencapai tinggi 35 m dengan diameter 60 cm itu banyak di tumbuhi ilalang. Ranting-ranting jatuh dibiarkan terserak.
Menurut Rosma getah kemenyan itu laku dijual Rp75.000-90.000/kg untuk grade A. Grade ini mempunyai ciri: warna getah putih dan tebal. Getah sadapan itu yang ditunggu industri parfum, cat, dan farmasi. ‘Kemenyan lebih banyak lagi di Gunung Simanabun dan Mabar,’ kata Rosma yang mempunyai 5 pohon kemenyan. Hermin Pasaribu, misalnya memiliki 20 ha styrax di kedua gunung itu. ‘Selain kedua gunung itu kemenyan juga banyak ditanam di Gunung Si Abu-abu di Kecamatan Habinsaran,’ ucapnya.
Ada pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kebun kopi dan kemenyan itu. Di tebing-tebing berpasir dan lembap mudah dijumpai Nepenthes tobaica. Kantung semar itu umumnya hidup di antara paku-pakuan yang mulai meranggas. ‘Dahulu tahul-tahul-nama lokal-suka dipakai untuk membuat nasi dengan menaruh di atas jerami yang dibakar,’ ujar Udur Tambunan, penduduk setempat. Maklum, diameter kantung semar itu besar, bisa lebih dari 10 cm. Sayangnya, banyak dari nepenthes itu mati karena pekebun membabatnya.
Menurut Suska Apriza, praktikus nepenthes di Bogor, jenis tobaica umum dijumpai di Sumatera Utara. ‘Tanaman ini penyebarannya luas dari ketinggian 300-1.500 m dpl,’ katanya. Masih menurut Suska tobaica di Dolok Sanggul lebih merah warna kantungnya. ‘Yang di Sibolga warna kantung lebih hijau,’ tuturnya. Tobaica yang Trubus lihat lebih dominan berwarna hijau.
Kopi pendek, kemenyan, dan nepenthes, sejauh ini memang menjadi primadona di Kecamatan Habinsaran dan Kecamatan Borbor. Kopi dan kemenyan malah sudah terbukti dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Dari pedalaman Toba Samosir mereka membuka mata dunia tentang potensi terpendam dari Sumatera Utara. (Lastioro Anmi Tambunan)
