Sunday, January 25, 2026

Mengenal Nila yang Adaptif di Air Payau Bersalinitas Tinggi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Nila Oreochromis niloticus yang adaptif di air payau bersalinitas tinggi dapat menjadi pilihan pembudidaya di daerah perairan air payau. Anda dapat menggunakan nila salin unggul seperti hasil riset  Dr. Dasep Hasbullah dan tim.

Saat bertugas di Peneliti di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), Takalar, Sulawesi Selatan, Dasep dan tim sukses menghasilkan strain baru nila salin unggul. Nila salin unggul itu mampu tumbuh cepat dalam 3,5 bulan dengan ukuran di atas 250 gram per ekor meski dibesarkan di tambak payau.

Nilai salin itu juga hemat pakan dengan feed convertion rasio (FCR) 1,2. Artinya untuk menghasilkan 1 kg bobot ikan dibutuhkan 1,2 kg pakan pada periode waktu tertentu. Tingkat kelulusan hidup nila baru di air payau itu di atas 85,5%.

“Kini nila payau hibrida menjadi salah satu komoditas unggulan yang menguntungkan petambak,” kata Dasep. Kelahiran nila payau menjadi solusi bagi petambak. Harap mafhum,  lazimnya petambak membudidayakan udang dan bandeng.

Dalam proses riset Dasep memanfaatkan nila lokal jabir yang tahan salin. Jabir sangat toleran terhadap berbagai kondisi tambak. Nila itu dapat hidup normal pada salinitas rendah hingga tinggi: 0—35 ppt. Kelebihan lain nila jabir mampu hidup pada kadar oksigen rendah serta tahan beragam penyakit.

Jabir mampu bertahan di tambak dangkal, tambak salin, dan muara sungai. Nila lokal itu tumbuh di alam dapat membesar walau butuh waktu 8 bulan. “Itu kekayaan genetik bangsa ini yang berpotensi sebagai tetua nila salin unggul,” kata Dasep.

Ia dan rekan periset memanfaatkan jabir sebagai pejantan. Sifat genetiknya yang toleran hidup pada rentang salinitas yang lebar dan kadar oksigen rendah. “Kami pernah mencoba jabir sebagai induk betina, tapi jumlah anakan sedikit dan laju pertumbuhan individu benih lambat,” kata Dasep.

Tim periset menggunakan jabir dari Kabupaten Pangkep, Maros, dan Takalar, semua di Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka lalu menyeleksi dan membesarkannya hingga berukuran di atas 250 gram per ekor.

Sementara itu tim periset menggunakan nila air tawar seperti gift, gesit, dan sultana sebagai induk betina. Nila-nila itu terbukti unggul di perairan air tawar. Pada turunan ke-15—setelah beragam persilangan dilakukan—muncul strain baru nila salin unggul pada 2015.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img