Trubus.id—Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada berinovasi membuat batako berbahan sampah plastik, limbah sekam padi, dan oli bekas. Yohanes Mario Putra Bagus dan tim tergugah membuat inovasi itu untuk membantu mengatasi permasalahan plastik.
Tim mahasiswa yang tergabung pada Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) itu Mohammad Ridwan (Teknik Sipil dan Lingkungan), Yohanes Mario Putra Bagus dari (Teknik Fisika), Shafa Zahra Aulia (Kimia FMIPA), Ratri Dwiyanti (Akuntansi FEB), dan Rakha Faiq Muyassar (Teknik Industri, Fakultas Teknik).
Mengutip pada laman UGM, untuk membuat batako itu Mario—sapaan akrab Yohanes Mario Putra—dan tim menggunakan semen dan pasir dengan perbandingan 1:6. Ia dan tim menambahkan sampah plastik yang dipotong kecil sebanyak 25%, abu sekam padi 10%, dan oli bekas 1—3%.
Menurut Mario dan tim memilih oli bekas karena selama ini hanya digunakan untuk pembasmi rayap. Sementaa abu sekam mengandung silika untuk meningkatkan kualitas batako. Menurut Shafa abu sekam padi mengandung lebih dari 90% silika. Bermanfaat untuk ketahanan batako.
“Senyawa silika ini mampu menyerap logam berat dari oli agar tetap aman,” kata Shafa.
Rakha menuturkan batako di desain dengan bentuk lateral untuk meminimalisir gempa dan menahan retakan dan patahan. Sementara Ratri menuturkan ia tim sudah melakukan penelitian terkait standar ketahanan dan kekuatan batako pada umumnya.
Harga Rp5.300 per batako. Produksi batako 120 buah per hari. “Sekarang kita promosi dan jual ke agen properti perumahan dan toko bangunan,” ujar Ratri
