Friday, January 16, 2026

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Rekomendasi
- Advertisement -

Belakangan ini istilah “superflu” mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani, kita jangan salah kaprah. Superflu itu bukan nama penyakit baru, melainkan cuma sebutan populer karena ada lonjakan kasus flu yang disebabkan oleh jenis virus tertentu.

Penyebab utamanya yakni virus influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K. Virus ini memang dikenal menyebar lebih cepat, bahkan menyumbang hampir 90% dari total kasus flu terbaru. Jadi, istilah “super” di sini lebih merujuk pada betapa cepatnya virus itu menular dan membuat grafik kasus naik tajam. Bukan karena spesies virus yang benar-benar asing.

Dr. Desdiani menjelaskan bahwa virus flu itu memang hobi bermutasi supaya bisa mengakali sistem imun kita. Itulah alasannya vaksin flu harus rutin diperbaharui. Kalau ditarik sejarahnya, virus H3N2 ini sebenarnya sudah ada sejak 1968 dan sudah berubah lebih dari belasan kali.

Meski musim flu tahun 2025 kemarin datang sebulan lebih awal dan jumlah kasusnya tiga kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024, kabar baiknya tingkat keparahan virus ini masih dalam batas normal. Masalah utamanya lebih ke beban rumah sakit dan tenaga kesehatan yang kewalahan kalau pasien datang bebarengan dalam jumlah besar.

Kalau melihat data dari jaringan pemantau global WHO (GISRS), polanya cukup kelihatan. Di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025. Setelah sempat naik terus dari September sampai November, per pertengahan Desember 2025 jumlah kasusnya sudah mulai landai dan menurun stabil. Sekarang, tingkat positifnya tinggal sekitar 4% saja.

Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Cara paling ampuh tetap vaksinasi. Dr. Desdiani menyebutkan kalau vaksin flu bisa mengurangi risiko masuk rumah sakit sampai 70%—75% pada anak-anak, dan sekitar 30%—40% pada orang dewasa. Selain itu, kebiasaan sederhana seperti pakai masker saat sakit, rajin cuci tangan, dan istirahat di rumah juga sangat membantu.

Walaupun kebanyakan orang bisa sembuh sendiri, flu tetap tidak boleh disepelekan, terutama bagi kelompok yang rentan. Anak-anak dan remaja sering terkena flu karena interaksi di sekolah yang intens. Sementara lansia berisiko tinggi kena komplikasi karena penurunan daya tahan tubuh atau penyakit bawaan. Ibu hamil dan tenaga kesehatan juga harus lebih waspada. Intinya, meski superflu bukan penyakit baru, tetap jaga kesehatan dan jangan kendor soal pencegahan.

Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img