Trubus.id— Para pekebun organik senantiasa menghindari budidaya monokultur. Mereka memilih sistem tumpangsari untuk menekan atau menghindari serangan hama. Setiap 4 bedeng dengan1 bedeng berukuran 1,2 m x 10 m pekebun menanam tanaman berbeda.
Komoditas tomat biasanya ditumpangsarikan dengan brokoli. Prinsipnya tanaman yang ditumpangsarikan tidak boleh satu famili. Itu untuk menghindari kemungkinan penyebaran hama lantaran memiliki tanaman inang yang sama.
Contoh tumpangsari lainnya adalah wortel dengan bawang daun. Aroma bawang daun yang menyengat tidak disukai serangga sehingga hama pun pergi. Selain bawang daun, sayuran aromatik yang bisa ditumpangsarikan adalah kemangi, mint, dan basil.
Kombinasi tumpangsari yang juga bisa menekan serangan hama adalah tomat dan kubis. Kombinasi tomat-tomat-kubis-tomat-tomat, dan seterusnya, dapat menekan hama Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis masing-masing 97% dan 72,6%.
Tak selamanya hama atau penyakit harus dibasmi. Bila populasinya masih di bawah ambang batas, keberadaan mereka tak perlu diusik. Kalaupun harus diatasi, pekebun organik memilih pestisida nabati yang jauh lebih aman bagi tanaman, manusia, dan keberadaan serangga itu sendiri.
Konsep ramah lingkungan menjadi salah satu ciri sistem budidaya organik. Contoh, untuk mengontrol cendawan Phytophtora infestans penyebab busuk daun pada tomat, pekebun dapat melarutkan 100 g kapur sirih dan 100 g belerang dalam seliter air panas.
Setelah dingin, pekebun dapat menambahkan tembakau, cabai rawit, bawang putih yang dihancurkan masing-masing 1 kg, ditambah 2 liter air bersih. Ramuan itu difermentasikan 2—3 malam. Dua liter fungisida nabati itu dicampur dengan 20 liter air bersih untuk mengendalikan cedawan.
