Potensi sorgum dwiguna, pangan lokal alternatif panen ganda biji dan gula.
Trubus.id—Sorgum menjadi bahan pangan lokal alternatif yang berpotensi mensubtitusi gandum. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor rata-rata gandum Indonesia 5 tahun terakhir hingga 10—11 juta ton per tahun.
Sayangnya, gandum salah satu sulit dibudi dayakan di tanah air. Keruan saja pasokan amat bergantung pada impor. Sementara sorgum bahan pangan lokal alternatif yang tumbuh optimal di Indonesia.

Nyaris seluruh bagian dari tanaman sorgum itu dapat dimanfaatkan. Bulir sorgum dapat menjadi tepung seperti gandum. Tanaman famili Poaceae itupun bebas gluten.
Pada bagian batang juga menghasilkan nira sorgum yang dapat diolah menjadi gula cair dan kecap. Ampas perasan batang sorgum juga memungkinkan untuk diolah menjadi pakan ternak.
Menurut peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Endang Gati Lestari, M.Si., secara garis besar sorgum mempunyai peluang dikembangkan sebagai substitusi gandum. Namun, bukan berarti menggantikan gandum.

Endang menurutkan tekstur sorgum berbeda dengan gandum karena nongluten. Sorgum mengandung protein, lemak, dan kalsium tinggi sehingga mempunyai peluang dikembangkan sebagai pangan sehat.
“Tentu sasarannya adalah masyarakat ekonomi menengah ke atas yang ingin mengonsumsi pangan sehat,” ujar Endang pada wawancara Majalah Trubus edisi 636 November.
Indonesia memiliki varietas sorgum yang beragam seperti Numbu, Super, KD4, dan Bioguma. Varietas Bioguma memiliki produksi bulir dan biomassa batang tinggi mencapai 40—50 ton per hektare (ha).
Bioguma memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga dapat dikembangkan untuk ragam bahan pangan. Misalnya, beras sorgum, tepung, kecap, dan gula cair. Ampas batang pun bisa diolah menjadi pakan ternak.
Kelebihan Bioguma lainnya yakni mudah dipanen, bisa diratun hingga 3 kali. Sorgum varietas Bioguma memiliki rendemen dari beras menjadi tepung mencapai 70—80%.
Sorgum dwiguna
Petani sorgum di Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur Mochamad Afairur memilih Bioguma karena dapat panen ganda yaitu biji dan nira atau sohor dengan sorgum dwiguna. Ia bersama 30 petani menanam sorgum Bioguma 2 di lahan 10 hektare (ha).
Afairur memanen sorgum 100 hari setelah tanam (hst). Warga Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, itu mengolah biji sorgum menjadi beras dan tepung.
Penjualan produk ke toko kesehatan dan melalui agen ke Madiun, Provinsi Jawa Timur, Surabaya (Jawa Timur), Bogor (Jawa Barat), dan Bandung, (Jawa Barat).

Harga beras sorgum Rp18.000 per kg dan tepung Rp22.000—Rp24.000 per kg. Rendemen beras 70%, sedangkan beras menjadi tepung 80%. Sejatinya, Bioguma 2 yang Afairur tanam tidak hanya menghasilkan biji, tetapi juga nira dari batang.
Saat ini Afairur memanfaatkan batang untuk hijauan pakan ternak. Sementara untuk pengolahan gula baru percobaan. “Masih mencari segmentasi untuk pemasaran gula cair,” kata pria berumur 48 tahun itu.
Bibit ia peroleh dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian. Menurut Afairur menanam sorgum relatif mudah dan panen berulang 3—4 kali.
Ia menanam 7—8 kg benih Bioguma 2 di lahan sehektare berjarak tanam 30 cm x 60 cm. Ia mengisi 2—3 benih dalam satu lubang tanam.
Afairur menghitung biaya produksi penanaman sorgum Rp15 juta per musim per hektare. Sementara omzet penjualan gabah saja Rp25 juta. Artinya ia mendapatkan untung Rp10 juta per hektare per musim.
Tidak heran hingga kini penanaman sorgum Bioguma 2 di sana mencapai puluhan hektare. Bukan hanya Afairur dan kelompok yang menanam Bioguma 2.
Perawatan intensif
Petani lain yang menanam sorgum dwiguna itu yakni Mohammad Agus Nurlaili, S.E. Petani di Desa Alasmalang, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, itu menanam Bioguma di lahan 1,4 ha.
Ia memanen biji sorgum pada 100 hst. Hasil panen biji bersih rata-rata 3 ton per ha. Ia memproduksi sorgum untuk penjualan benih seharga Rp50.000—Rp75.000 per kg.

“Benih itu untuk memasok kebutuhan penanaman sorgum di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung,” kata Agus.
Benih sorgum berkadar air maksimal 12%, milik Agus bersertifikat dan berlabel putih. Setelah panen ia menjemur malai selama 2 hari. Selanjutnya, perontokan malai dengan mesin perontok padi. Penjemuran kembali selama 3 hari untuk mendapatkan kadar air 10%.

Proses selanjutnya grading biji dan pengemasan dalam karung dengan plastik di bagian dalam. Ia mengemas benih 5 kg dan 25 kg. Penyimpanan di atas palet dengan sirkulasi ruangan yang baik.
Agus juga mengolah batang menjadi silase untuk pakan ternak yang tahan hingga 6 bulan. Batang untuk hijauan panen 60—70 hst. Biomassa batang pada panen perdana 30 ton.
Untuk ratun atau tanaman sulang bisa 44— 50 ton. Harga silase Rp1.000—Rp1.500 per kg dan penjualan ke Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Jember (Jawa Timur), Lampung (Provinsi Lampung), dan Sukabumi (Jawa Barat). Pengemasan silase per 25 kg.

Menurut Agus nira sorgum Bioguma lebih manis. Derajat kemanisan rata-rata 15—18°brix sehingga disukai ternak. Perawatan intensif kunci sukses menanam sorgum. Ia membersihkan gulma dan memupuk tanaman secara teratur.
Gula sorgum
Petani lain, Lili Sutarli Suradilaga bersama Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi) juga menanam Bioguma 2. Lili menanam di lahan 10 hektare (ha) yang tersebar di Tasikmalaya dan Garut—keduanya di Jawa Barat. Menurut Lili, batang Bioguma itu manis.

Nira asal pemerasan batang Bioguma mengandung gula mencapai 15,54obrix. Populasi mencapai 150.000 tanaman per ha.
Rencananya petani sorgum di Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, itu akan memperluas penanaman sorgum dwiguna di Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah di lahan seluas 2.000 ha. Artinya penanaman Bioguma cenderung meluas setiap tahun.

Menurut Lili perluasan penanaman Bioguma terjadi karena sorgum manis dan banyak manfaat. Faktor lainnya yaitu petani panen biji dan nira. Bahkan penanaman sorgum pun berlangsung di Desa Silu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kapten Inf. Donatus Jelatu, S.E. mendampingi 4 kelompok tani untuk menanam sorgum. Saat ini ia menanam jenis Bioguma 3 dan Suri 4 di lahan 2 ha. Menurut Donatus Bioguma itu dwiguna lantaran nira dapat dibuat gula dan etanol. Sementara gabah menjadi beras dan terigu.
Donatus menjelaskan bahwa pasar mulai terbuka dengan adanya permintaan dari pabrik roti berbahan sorgum. Kebutuhan benih 5—10 kg per ha. Jarak tanam ideal 25 cm x 65 cm.
Donatus menanam sorgum di ketinggian 200—350 meter di atas permukaan laut (m dpl). Keberadaan sorgum dwiguna membuat petani berpenhasilan ganda dari biji dan nira. (Widi Tria Erliana)
