Trubus.id— Peneliti di Pusat Riset Agroindustri (PRA), Organisasi Riset Pangan dan Pertanian (ORPP), Badan Riset Nasional (BRIN), Ir. Gigih Atmaji berinovasi membuat mesin penyangrai otomatis dengan metode fluidisasi. Mesin itu menggunakan teknik fluidisasi sehingga penyangraian kopi menggunakan udara panas yang menyelimuti green bean.
“Tumpukan kopi itu kan padat ya, nah itu kita buat seperti air perilakunya. Kopi didorong dari bawah ke atas oleh angin atau udara panas. Nanti kopi itu jatuh, yang bagian bawah didorong juga secara bergantian sehingga terjadi pengadukan kopi seperti air mancur,” tutur tutur sarjana teknik kimia alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Provinsi Jawa Timur, itu.
Dinding mesin penyangrai kreasi Gigih bersih dari kulit ari kopi yang terkadang menempel di mesin drum. Hal itu membuat penyangraian selanjutnya kurang bersih sehingga kadang memengaruhi aroma kopi. Aroma kopi hasil sangrai mesin Gigih pun bersih dari bau asap (smoky) lantaran tidak ada kotoran dan kulit ari kopi yang menempel pada dinding mesin.
Menurut Gigih mesin buatannya secara teori bisa lebih hemat dibandingkan dengan mesin drum.
“Sangrai kopi metode fluidisasi dibandingkan dengan drum mengurangi 30% pemakaian energi dan waktu penyangraian,” kata Gigih. Selain itu mesin Gigih tidak ada perawatan sama sekali.
Sementara mesin drum kadang harus mengganti beberapa komponen seperti bearing. Dengan beragam keunggulan itu, Waldiono optimis mesin karya Gigih Atmaji terus berkembang di kalangan produsen kopi.
“Aroma kopi lebih terasa, lebih clean, dan praktis cara penggunaannya,” kata penyangrai kopi di Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, Waldiono memuji mesin penyangrai fluidasi itu.
Untuk menyangrai robusta dengan tingkat kematangan dark, dengan karakter kopi yang sama, Waldiono menyetel suhu mesin 250°C selama 6 menit. Ketika matang, mesin otomatis memindahkan kopi ke mesin pendingin dan siap diambil. Setelah itu Waldiono mengisi mesin dengan green bean baru. Begitu seterusnya. Keunggulan itu tidak ditemukan pada mesin drum.
Waldiono mengaku mesin sangrai fluidasi itu juga kuat, “Kami menggunakan mesin Pak Gigih tiga hari tiga malam tanpa berhenti pun bisa. Kalau mesin drum harus ada pendinginan lalu pemanasan lagi,” tutur pemiik Cepag Coffee Roastery itu. Ia juga pernah menyangrai kopi dari pukul 9 malam hingga pukul 2 siang tanpa henti menggunakan mesin itu. Hasilnya mutu kopi tetap optimal.
Waldiono punya trik tertentu agar hasilnya bagus, ia hanya mengisi 2,5 kg kopi robusta untuk mesin berkapasitas 3 kg. Kalau kopi arabika bisa 3 kg karena ukuran biji lebih kecil. Waldiono menggunakan green bean berkadar air 11% agar efektif. Lebih dari itu kandungan air lebih banyak dan penyangraian kurang efektif karena mesin menguras air dahulu. Kehadiran mesin sangrai kopi bikinan Gigih memudahkan Waldiono mengolah kopi.
