Trubus.id—Masyarakat Papua Nugini memanfaatkan pinus klinki (Araucaria hunsteinii) sebagai penghasil kayu. Siapa sangka tanaman anggota famili Araucariaceae itu berkhasiat antikanker payudara dan serviks.
Riset Prof. Dr. Dra. Purwantiningsih, M.S., dan rekan dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB) membuktikannya.
“A.hunsteinii tanaman endemik di daerah selatan seperti Australia. Banyak dikembangkan untuk tanaman obat antikanker, antidiabetes, antiinflamsi, dan antialzheimer,” kata Purwantiningsih,
Para periset mengisolasi dan menguji aktivitas daun klinki terhadap MCF-7 (sel kanker payudara) dan HeLa (sel kanker serviks atau rahim). Sampel daun A. hunsteinii berasal dari Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Periset mengekstraksi serbuk daun kering dengan metode maserasi menggunakan larutan aseton. Selanjutnya mereka menghilangkan klorofil dan tanin dengan metanol dan n-heksana. Tujuannya agar tidak mengganggu senyawa murni dari A. hunsteinii.
Para periset memverifikasi kemurnian isolat dengan 3 eluen kepolaran dan elusidasi struktur dengan teknik spektroskopi. Lalu dilakukan pengujian aktivitas antikanker ekstrak kasar dan isolat murni terhadap sel MCF-7 dan HeLa.
Hasil pengujian menunjukkan A. hunsteinii mengandung 7 senyawa fenolik yang memilik aktivitas antikanker. Senyawa fenolik itu terdiri dari kelompokamentoflavon, kupresuflavon, dan agatisflavon.
Hasil riset Purwantiningsih menunjukkan bahwa senyawa 4’,4’’’-di-O-metilamentoflavon sangat aktif menghambat sel MCF-7 dengan inhibiton concentration (IC50) 2,14 mikromolar.
Sementara senyawa senyawa 7-O-metilkupresuflavon sangat aktif menghambat kedua sel kanker itu yakni MCF-7 (IC50 3,40 mikromolar) dan HeLa (IC50 1,42 mikromolar).
Herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Valentina Indrajati, mengatakan, berdasarkan literatur klinki berpotensi sebagai antivirus.
Menurut penelitian penyebab kanker itu 20% berasal dari virus onkogenik yang menyebabkan mutasi dan inflamasi kronik. Namun, Valentina belum menggunakan klinki untuk kanker.
