Monday, August 8, 2022

Misteri Buahkan Itoh

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebatang pohon itoh tumbuh subur di kediaman Prakoso Heryono di Demak. Pohon setinggi 2—3 m itu berdaun hijau, rimbun, dan sehat dengan tajuk selebar 10 m. Sayang, lengkeng asal Thailand itu tak kunjung berbuah meski genap berumur 3 tahun. Padahal, masih di kebun yang sama, 10 batang pingpong dan diamond river digelayuti buah terus-menerus sejak berumur 1 tahun.


 

Pelacakan Trubus kepada beberapa pekebun menunjukkan, itoh di kebun mereka pun masih enggan berbuah. Padahal, bibit ditanam rata-rata 3—4 tahun silam. Enggan itoh jadi perawan tua, Prakoso berusaha menyibak penyebabnya. Ternyata e daw—sebutan itoh di Th ailand—sebetulnya lengkeng dataran menengah-atas yang diadaptasikan ke dataran rendah.

Di negeri Gajah Putih, Nephelium longan itu banyak dikebunkan di Chiangmai dan Chiangrai. Dua sentra penghasil lengkeng di utara Th ailand itu dataran menengah sekalipun beriklim dingin. Itu lantaran posisinya termasuk wilayah subtropis. Di sana populasi itoh mencapai 80% dari total penanaman. Maklum, produktivitas tinggi, ukuran buah besar dan seragam, rasa manis, kering, serta biji kecil. Karena kemahsyurannya itu, beberapa pekebun mencoba menarik itoh untuk turun gunung. Misal menanam di Rayong yang panas dan berada di dataran rendah dekat pantai.

Saat diadaptasikan di daerah tropis yang berhawa panas, itoh dapat tumbuh subur. Namun, para pekebun sempat menuai kecewa. Si mata naga malas berbuah dibandingkan ketika di dataran tinggi. Itu lantaran lingkungan tumbuh berbeda. “Untuk membuahkannya perlu perlakuan khusus,” tutur Dr Reza Tirtawinata, MS, pakar buah di Bogor.

Itoh berbuah jika suhu mencapai 150C minimal terjadi selama 10 malam. Itu yang tidak dapat dipenuhi di dataran rendah. Berbeda dengan diamond river dan pingpong yang memang lengkeng dataran rendah. Dengan suhu 220C, bunga sudah bermekaran. Belakangan pekebun negeri Siam, sukses membuahkan itoh di dataran rendah. Nah, siapa tak ingin menuai keberhasilan seperti itu di sini?
Bahan dinamit

Pelacakan para hobiis, pekebun, dan peneliti di tanahair yang tak kenal menyerah akhirnya menyingkap rahasia membuahkan itoh ala pekebun Th ailand. Selidik punya selidik, penyiraman potassium klorat (KClO3) kunci rahasia pembungaan e daw di dataran rendah. KClO3 bukan bahan kimia yang lazim dipakai dalam dunia pertanian. Ia lebih dikenal sebagai bahan baku dinamit.

Pantas penerapannya pun mesti berhatihati. Misal tanaman yang akan diberi perlakuan harus dalam keadaan cukup umur, artinya sudah mencapai umur vegetatif maksimum. Daun tidak sedang trubus dan keadaannya sehat. Itu supaya perlakuan berjalan efektif.

Selain itu, tanah di sekitar tanaman harus kering. “Jika potassium klorat diaplikasikan pada tanah jenuh air, akar tidak efektif menyerap unsur itu,” ujar Dr Reza Tirtawinata. Akar pun mesti dijaga agar tidak rusak. Bila rusak, akar tidak bisa bekerja baik.

Dosis pemakaian potassium klorat mesti tepat. Perhitungannya disesuaikan dengan lebar tajuk tanaman. Setiap 1 m, dibutuhkan 5 g KClO3.. Bahan kimia berbentuk kristal itu mesti dilarutkan dulu dalam air sebelum diaplikasikan. Untuk dosis 5 g, dilarutkan dalam 20 l air. Larutan disiramkan melingkar selebar tajuk tanaman, jangan dekat dengan batang utama.

Pabrik petasan

Pemanfaatan KClO3 untuk menjinakkan e daw berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Nun di salah satu sudut Chiangmai pada 1998. Para pekebun dikejutkan dengan pemandangan di kebun-kebun lengkeng di sekitar pabrik petasan. Mata naga di sana berbunga dan berbuah di luar musim. Sementara lengkeng yang berada jauh dari lokasi pabrik Cuma hijau oleh daun.

Rupa-rupanya tanpa sengaja limbah pabrik petasan berisi potassium klorat mengalir ke kebun-kebun lengkeng terdekat. Itu yang merangsang kerabat rambutan itu berbuah. Para pemilik kebun yang letaknya berjauhan dengan lokasi pabrik langsung mencoba menerapkannya. Hasilnya, lengkeng berbuah 3 kali setahun.

Kini para pekebun di negeri Gajah Putih rutin menggunakan potassium klorat untuk membuahkan itoh. Untuk saat ini perlakuan lewat tanah terbukti efektif. Chin Ruey Yen, peneliti di National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), Taiwan pernah mengaplikasikan dengan cara menyemprot. Namun, cara itu dianggap berbahaya. Daun rontok setelah penggunaan, seperti yang dialami Sainarong Raisananda, ahli buah Th ailand.

Meski sudah lazim digunakan, tapi yang diperjualbelikan di Th ailand bukan KClO3 sebagai peledak. Bahan kimia untuk merangsang e daw berbunga itu didesain kembali sehingga aman digunakan. Sayang, di tanahair KClO3 tidak diperjualbelikan bebas karena dianggap berbahaya. Toh, para pekebun lokal tak kekurangan akal untuk mengutak-atik itoh agar mau berbuah.

Sebut saja Prakoso Heryono yang berniat memanipulasi itoh menggunakan karbit (CaC2). Ia sukses menerapkan pada mangga. Caranya 1 kg karbit yang telah dihancurkan dicampur dengan 2 liter air. Diamkan hingga bereaksi berupa letupan-letupan kecil berhenti. Kemudian tambahkan 10 kg SP 36, aduk sampai merata. Pendam dalam parit sedalam 5 cm melingkar di bawah tajuk tanaman. Untuk 1 pohon diperlukan 0,7—1 kg campuran. Hasilnya, Mangifera indica belajar berbuah lebih cepat. Untuk aplikasi pada itoh, ia menunggu tanaman mencapai umur vegetatif.

Untuk itu, selama pertumbuhan vegetatif, Prakoso menggunakan NPK dengan perbandingan 16:16:16 setiap 4 bulan. Menginjak masa akhir vegetatif, komposisi pupuk diubah menjadi 16:16:21. “Kalium dipertinggi untuk membantu merangsang pembungaan,” kata pria setengah baya itu menutup percakapan. (Hawari Hamiduddin)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img