Wednesday, January 28, 2026

Naga Top dari Lahan Buruk

Rekomendasi
- Advertisement -

Di Rorotan, Jakarta Utara, daging buah cenderung lebih padat dan keringDari lahan marginal, pekebun menghasilkan buah naga bermutu super.

“Setelah panen, buah bisa awet hingga sebulan pada suhu ruangan,” kata Puntadaewa—nama samaran—penanggung jawab produksi sebuah kebun buah naga di Rorotan, Jakarta Utara. Ukuran buah relatif besar, bobot rata-rata 450—500 gram per buah. Rasanya pun manis. Dengan keunggulan itu, wajar konsumen membeli dalam jumlah besar, minimal 30—40 kilogram sekali belanja. Pemilik lahan, Krisnamurti—bukan nama sebenarnya—memang menerapkan budidaya organik.

 

Padahal, lokasi budidaya tanaman kerabat kaktus itu bekas tempat buangan puing-puing bangunan. Lokasinya di tengah Kota Jakarta Utara, kira-kira 200 meter dari sebuah jalan besar. Dari jalan besar, kebun buah naga itu tak tampak karena pandangan terhalang bengkel truk-truk besar. Krisna dibantu beberapa tenaga kerja mengolah tanah itu sebelum penanaman. Puntadewa mengatakan di lahan itu ia menemukan banyak bebatuan dan puing.

Bikin sendiri

Krisna menanam total 300 bibit di lahan 5.000 m2 dan berjarak tanam 2,5 m x 2 m. Tanaman-tanaman buah naga merambat di sebuah tiang beton setinggi 2 meter dari permukaan tanah. Di bagian atas tiang terdapat besi penyangga berdiameter 60 cm untuk rambatan sulur. Tanaman anggota famili Cactaceae itu tampak subur dengan batang segar berwarna hijau gelap. Ketika Trubus berkunjung ke lahan itu pada awal Maret 2013, beberapa tanaman tengah berbunga dan berbuah.

Puntadewa hanya memberikan pupuk kandang matang sebagai sumber nutrisi tanaman. Ia menebarkan 5 kg pupuk kandang kotoran kambing matang per tanaman setiap bulan. Untuk memperoleh pupuk kandang, Krisnamurti memelihara 5 kambing. Ia mencampurkan cacahan gedebok atau batang pisang di bawah kandang itu agar bercampur dengan kotoran kambing. Setelah tiga bulan, campuran cacahan gedebok pisang dan kotoran kambing ia campur dengan dolomit.

Pupuk itulah yang diberikan untuk buah naga yang pada 1870 menjadi tanaman hias di Vietnam.  Menurut ahli tanah dari Balai Penelitian Tanah, Ir H Husein Suganda, MSc, campuran bahan itu memang baik untuk tanaman. “Kotoran hewan mengandung banyak nitrogen dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah,” kata mantan peneliti yang juga mengebunkan albasia. Mikroorganisme mendekomposisi tekstur tanah sehingga menjadi lebih gembur. Tanah yang gembur mengandung lebih banyak ruang untuk oksigen. Oksigen diperlukan untuk pertumbuhan akar yang berperan menyerap unsur hara. Penyerapan unsur hara mempengaruhi perkembangan tanaman dan buah.

Tiga bulan berselang, ia memberikan pupuk bikinan sendiri berbahan baku ikan. Ikan-ikan mentah ditata dalam drum hingga memenuhi seperempat volume drum. Setelah itu ia menambahkan air hingga setinggi setengah volume drum dan menutup drum dengan plastik yang terikat karet. Setelah 3—12 bulan, pupuk siap digunakan. Ia mengencerkan 10 liter pupuk dalam . liter air bersih, mengaduk rata, dan menyiramkannya ke setiap tanaman. Dosis untuk setiap tanaman 2 liter.  “Apabila pertumbuhan buah lambat, dosis pupuk ikan bisa ditambahkan,” kata Puntadewa. Menurut Puntadewa pupuk ikan berfungsi sebagai penyubur tanah.

Menurut Dr Ir Ani Yunirti, MP, dosen kesuburan tanah di Universitas Padjadjaran sumber nutrisi tanaman berupa ikan berperan besar dalam kesuburan tanah. Puntadewa menyiram buah naga hanya pada musim kemarau. Frekuensi  penyiraman dua kali per pekan. Ia memanfaatkan air kolam ikan bawal dan patin di lahan itu. Dengan pola budidaya organik, Krisna memperoleh buah naga sehat.

Laris

Kini dari lahan itu Krisna rutin memanen 400—500 kg buah naga setiap bulan. Puncak panen terjadi pada Januari—Februari, menjelang perayaan Imlek. Ketika itu produksi buah naga di kebunnya melonjak hingga 1.000 kg per bulan. Menurut Puntadewa buah naga berdaging merah di kebunnya berukuran besar, rata-rata berbobot 500—1.000 gram per buah. Begitu pula tiga varian buah naga lain berwarna kuning, hitam, dan merah muda juga berukuran besar. Bobot rata-rata 500—800 gram.

Menurut Ani Yunirti yang membimbing petani buah naga di Garut, Jawa Barat, penanaman organik mempengaruhi mutu buah dan produksi. Yunitri menuturkan, dengan budidaya organik, pekebun berpeluang memperoleh buah naga dengan rasa lebih manis, ranum, daya tahan pascapanen lebih lama, serta tekstur buah lebih renyah dan kering. Selain itu bobot buah padat  dan berwarna cerah. Krisna menjual buah naga kepada teman dan kerabat Rp 30.000 per kg. Selain itu beberapa relasi juga acap kali mengunjungi kebun buah naga. Di lahan itu mereka dapat memetik sendiri buah naga ranum dan menikmatinya atau sekadar buah tangan.

Di Desa Sungai Purun Besar, Kecamatan Segedong, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, Mohtarudin juga menanam buah naga di lahan marginal seluas 2 hektar. Lahan itu bertahun-tahun telantar. Maklum, pH tanah yang terletak sekitar 2,5 km dari pantai itu amat rendah, hanya 3. Pada 2011   pekebun berusia 56 tahun itu tergerak mengolah tanah itu. Mula-mula ia membenahi sistem air dengan mengeruknya sedalam 1,5 meter.

Lubang kerukan itu kini menjadi kolam. Kemudian ia menambahkan kapur untuk menaikkan pH. Pupuk kandang dan tanah gambut diberikan untuk perbaikan top soil tanah. Gambut diambil dari Desa Mentawah dan Anjungan berjarak 5—20 km dari lahan. Ia berpendapat bahwa tanah gambut               berperan sebagai penggembur dan penyubur tanah. Menurut Yunitri cara itu lazim, karena memanfaatkan sumber daya alam sekitar.

Namun pemberian gambut perlu disertai dengan pupuk kandang dan pengapuran. Mohtarudin menanam total 6.968 bibit buah naga pada 1.742 tunjar atau rambatan. Sebuah rambatan terdiri atas 4 tanaman. Sebagai sumber nutrisi, ia memberikan pupuk NPK dengan dosis 2 sendok makan per tunjar. Pemberian unsur hara itu dengan interval satu bulan. Selain itu, ayah 3 anak juga memberikan pupuk kandang dengan dosis 4—5 kg per 2 bulan.

Mohtarudin menyiram buah naga hanya saat kemarau dengan memanfaatkan air kolam ikan. Di lahannya terdapat sebuah kolam bervolume 500—600 m3 berisi ikan nila. Untuk mengurangi penguapan air, Mohtarudin menanam azola. Tanaman paku air mini ini juga bisa sebagai pakan ikan nila. Menurut Husein, air kolam ikan yang digunakan untuk menyiram tanaman itu baik. Jika tanaman air seperti suku Azollceae dikonsumsi oleh ikan, bisa sebagai sumber nitrogen.

Dengan perlakuan itu, Mohtarudin menuai rata-rata 5.000 kg dari lahan 20.000 m2. Ukuran buah besar, berbobot 500—1.000 gram dan rasanya pun manis. Mohtarudin memasarkan buah naga itu ke pasar bebas dengan harga Rp28.000 per kg berbobot diatas 500 gram. Harga itu terbilang tinggi jika dibandingkan dengan harga komoditas serupa di pasar swalayan Pontianak yang hanya Rp23.000. Mohtarudin dan Krisnamurti membuktikan bahwa di lahan marginal sekalipun, tetap dapat menghasilkan buah naga bermutu tinggi. (Pressi Hapsari Fadlilah)

 

 

  1. Di Rorotan, Jakarta Utara, daging buah cenderung lebih padat dan kering
  2. Kebun buah naga di Pontianak
  3. Selain di kebun, buah naga dalam pot juga berbuah lebat sepanjang tahun di Jakarta Utara
  4. Kandungan oksigen pada tanah gembur, baik untuk pertumbuhan akar, batang, dan buah
Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img