Pernahkah Anda merasa harga kopi di warung atau kafe tiba-tiba berubah? Itu bukan hanya masalah di Indonesia, tapi cerminan dari drama besar yang terjadi di pasar kopi global. Harga biji kopi dunia memang terkenal fluktuatif, dan gejolaknya langsung terasa hingga ke cangkir kita. Lalu, apa penyebabnya dan seperti apa masa depannya?
Harga kopi dunia sangat dipengaruhi oleh supply and demand. Penelitian dalam Journal of International Development menunjukkan bahwa guncangan pasokan adalah pemicu utama volatilitas harga. Faktor iklim ekstrem seperti frost (embun beku) di Brasil atau kekeringan panjang di negara produsen lain dapat memangkas produksi secara drastis. Ketika pasokan menyusut, harga otomatis melambung.
Sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, Indonesia merasakan langsung dampaknya. Saat harga dunia tinggi, petani kita diuntungkan dengan harga jual yang lebih baik. Sebaliknya, saat harga jatuh, pendapatan mereka terpukul. Namun, bagi penikmat kopi dalam negeri, fluktuasi ini tidak selalu langsung terasa. Harga eceran lebih dipengaruhi oleh biaya distribusi, pemasaran, dan margin pedagang, yang seringkali bertahan lebih lama.
Memperkirakan tren hingga Desember 2025, Organisasi Kopi Internasional (ICO) memproyeksikan pasar akan tetap ketat. Pemulihan stok global berjalan lambat. Tren konsumen akan terus bergerak ke arah kopi berkualitas tinggi (specialty coffee) dan berkelanjutan (sustainable). Meski harga mungkin masih bergejolak, permintaan terhadap kopi niche asal Indonesia seperti Gayo atau Toraja diperkirakan tetap kuat, memberikan perlindungan relatif bagi petani lokal.
Fluktuasi harga kopi dunia adalah sebuah keniscayaan, didorong oleh faktor iklim dan geopolitik. Indonesia, sebagai pemain utama, harus beradaptasi dengan naik-turunnya. Ke depan, fokus pada kualitas dan keberlanjutan, bukan hanya kuantitas, akan menjadi kunci untuk bertahan dan tetap kompetitif di panggung dunia, menjamin agar petani kita tetap bisa menikmati secangkir kopi mereka dengan tenang.
