Thursday, January 29, 2026

Nikmatnya Jaboticaba dari Rumah Bob

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Jaboticaba yang dihasilkan dari tiap pohon mencapai 30 kgBuah jaboticaba“Hmmm…rasanya unik,” ujar Nyoman Nuarta, perupa terkenal yang mendesain dan membuat monumen Garuda Wisnu Kencana di Bali, saat mencicipi jaboticaba di halaman rumah Bob Nainggolan. Rasa manis dan segar langsung menyergap lidah saat menggigit daging buah yang juicy.

Nyoman tak hanya menyukai rasa buah ungu kehitaman seukuran kemiri milik sahabatnya itu. Ia juga takjub pada penampilan 5 pohon Myrciaria cauliflora setinggi 4 – 5 m yang ditanam Bob di halaman rumah. Hampir seluruh batang dan cabang utama dipenuhi dompolan buah yang tampak ranum seperti anggur.

Dari setiap pohon itu Bob bisa memanen 25 – 30 kg jaboticaba. Pantas Nyoman juga tertarik menanam kerabat jambu-jambuan itu. ”Selain buahnya bisa dinikmati, pohonnya juga bisa dijadikan sebagai penghijauan di halaman rumah,” ujar Nyoman yang bersama Bob kini sedang giat menyuarakan penghijauan. Bob pun mengamini, “Menanam pohon apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Jika tidak menanam pohon artinya kita juga tidak berhak bernapas,” ujar pengacara kondang yang menggagas hutan lindung swasta bersama Nyoman dan rekan-rekannya itu.

Hasil berburu

Panen jaboticaba itu ibarat obat pelipur lara bagi Bob. Jerih payah menanam jaboticaba sejak 7 tahun silam itu tidak sia-sia. Maklum, untuk mendatangkan pohon anggur brasil berumur 20 – 40 tahun ke halaman rumahnya di Kota Kembang ia mesti berburu ke berbagai daerah seperti Cianjur, Cipanas, Cibogo, dan Cibodas – semua di Jawa Barat bagian tengah.

Di sana kupa landa ditanam penduduk selama puluhan tahun. Meski begitu untuk mendapatkannya tak semudah membalik telapak tangan. Untuk mendapatkan 3 pohon jaboticaba berumur 30 tahun di sebuah desa di Cianjur, Bob rela menumpang ojek selama 20 menit di jalanan sempit. “Begitu terjadi kesepakatan harga saya malah bingung bagaimana cara menggali dan memboyong pohon tersebut,” kenang Bob.

Harap mafhum, pohon setinggi 4 m itu sudah tumbuh kokoh menghujam tanah. Lokasi tumbuhnya pun jauh dari jalan utama dan mesti melewati pematang sawah. Setelah mengerahkan 10 tenaga kerja, pohon berdiameter sekitar 12 – 15 cm itu akhirnya berhasil digali dan dipanggul hingga sampai ke jalan raya. Pohon lalu diangkut menggunakan truk menuju kediaman Bob di Setiabudi, Bandung.

Tiba di Bandung bukan berarti urusan selesai. Saat pemindahan, pohon dibawa utuh, tanpa pemangkasan cabang dahulu. Lazimnya untuk memindahkan pohon, cabang-cabang dipangkas untuk memudahkan pengangkutan dan mengurangi penguapan dari daun. “Untuk pohon kecil cukup kurangi daun menjadi setengahnya,” kata M Yanto, ahli pemindahan pohon di Depok, Jawa Barat. Namun menurut Yanto, jaboticaba tergolong pohon yang tahan banting sehingga tidak perlu dipangkas.

Nyatanya, pohon yang baru dipindahkan Bob sebagian daunnya mengering dan rontok. Beruntung sebulan berselang muncul tunas baru. Bob memilih pohon yang sedang berbunga. Tujuannya untuk memastikan pohon yang dibeli benar-benar bisa berbuah. Ternyata bunga tidak rontok pascapemindahan. Dari bunga hingga buah matang hanya perlu waktu 1 bulan. Di kediaman Bob, jaboticaba berbuah 3 – 4 kali setahun. “Panen raya biasanya terjadi pada Oktober,” tuturnya.

Guano

Jaboticaba tumbuh subur dan rajin berbuah karena dirawat intensif. Bob rutin menyiram tanaman sehari 2 kali karena jaboticaba butuh banyak air. Tiap 3 bulan Bob membenamkan pupuk organik kotoran kambing di sekeliling pohon. Kadang, kotoran kambing diganti dengan kompos.

Ia juga menambahkan pupuk kotoran kelelawar alias guano. “Pokoknya saya murni memakai pupuk organik,” ujarnya. Bob juga rajin memangkas ranting kering jaboticaba setiap hari. Pemangkasan mengoptimalkan cahaya matahari yang ditangkap permukaan daun untuk kebutuhan fotosintesis. Selain itu, tajuk tanaman pun menjadi lebih rapi dan indah dipandang. Dengan perlakuan intensif selama 7 tahun itu anggur brasil rajin berbuah sekaligus menjadi penyumbang oksigen di halaman rumah. (Tri Susanti)

 

Awas Kampret

Awas kampretKuncinya guanoAroma buah yang harum dan rasa buah manis membuat jaboticaba disukai kelelawar. Karena itu saat musim berbuah, Bob Nainggolan menutup seluruh pohon dengan jaring hitam untuk menghindari serangan kampret. Pohon ditutup jaring sejak buah masih pentil. “Kalau sudah waktunya panen, baru jaring saya buka. Jika tidak, bisa-bisa seluruh buah ludes,” ujarnya. Toh saat buah sudah  matang sempurna, pengacara kondang itu membiarkan hewan apa pun ikut mencicipinya sebagai bagian dari kearifan pada alam. (Tri Susanti)

 

Kuncinya Guano

Berdasar penelitian Cornell University, Amerika Serikat, guano kaya kandungan nitrogen dan fosfor serta beberapa unsur mikro seperti magnesium dan kalsium. Sementara menurut The Organic Material Review Institute, AS, guano kelelawar mengandung NPK berkadar 5,5:8,6:1,5. Sebagai perbandingan, pada kotoran kambing, kandungan NPK hanya 4,0:0,6:2,8.

Ir Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, menuturkan guano mengandung  19% fosfor dalam bentuk P2O5. Fosfor berperan mengikat energi matahari menjadi energi kimia dalam bentuk ATP yang diperlukan dalam proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat. “Fosfor juga berperan dalam memicu pertumbuhan generatif tanaman,” kata Yos.

Meningkatnya hasil fotosintesis berupa karbohidrat menyebabkan rasio karbon (C) dan nitrogen (N) tinggi. Kondisi itulah yang memicu tanaman beralih dari fase vegetatif ke generatif yang ditandai dengan munculnya bunga. Jika bunga tidak rontok maka buah pun terbentuk. Menurut Yos, guano bersifat lambat urai sehingga cocok untuk tanaman buah berumur panjang seperti jaboticaba yang bisa menyerap hara sepanjang waktu. (Tri Susanti)

 

Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img