Warna merah darah menyelimuti seluruh permukaan daun. Penampilannya kian atraktif dengan hiasan garis hijau di bagian tepi. Wajar gelar terbaik di pameran Suan Luang pada penghujung 2003 pun direngkuh.
Demi sang ratu nan cantik itu Uncle Bua, sapaan akrab Bua Sukmak, rela merogah kocek hingga 340.000 Baht setara Rp68-juta. “Warna merahnya benar-benar istimewa,” tutur Leman, kolektor aglaonema di Jakarta Utara, yang bersama Trubus berkunjung ke Thailand akhir Juli. Si merah darah pun menjadi kebanggaan Bua.
Di tempat sama, Trubus melihat pemenang ke-2 dan 3 pada ajang kontes yang sama. Penampilan juara ke-2 mirip sang jawara, tapi warna merahnya lebih pucat. Bintik-bintik hijau “mengotori” bagian tengah daun. Sedang juara ke-3 berwarna unik, kombinasi dasar pink dengan bercak hijau.
Seperti permata
Uncle Bua dan kebanyakan hobiis di Thailand memang gemar mengoleksi aglaonema bernuansa merah. Dibandingkan dengan yang berwarna hijau, sri rejeki—nama lain aglaonema—berdaun merah memang lebih menarik. Di ajang lomba mereka kerap menuai gelar.
Lihat saja kecantikan aglaonema daun merah tembaga koleksi Chisnupong, pemilik nurseri di Rayong. Di tanah air jenis itu masih jarang yang memiliki. Trubus melihat yang serupa, tapi berdaun lebih kompak di Wijaya Orchids di Sentul, Bogor. Di nurseri sama, ada chiangmai cantik bersosok tegak. Biasanya aglaonema kombinasi hijau dan pink pucat andalan Thailand itu bersosok kompak melebar.
Lantaran kepincut kecantikan aglaonema-aglaonema bernuansa merah, Leman memboyong salah satu hasil tangkaran Pramote Rojruangsang. Keistimewaan sri rejeki pink dan hijau itu, warna pink bertahan pada daun-daun tua. Pada jenis lain biasanya memudar. Si cantik itu diberi nama dud unyamanee yang berarti seperti permata.
Tak melulu asal Thailand, aglaonema merah hasil tangkaran Greg Hambali, penangkar di Bogor, juga mempesona. Sebut saja juwita yang khas berdaun sempit dengan warna merah mencolok. Di nurseri pakar botani itu pun terlihat lisptik—aglaonema bergaris merah atau pink di tepi daun—berbatang merah. Yang banyak dimiliki hobiis batangnya berwarna pink atau krem.
Di salah satu sudut Jakarta, Trubus menemukan dona carmen dan pride of sumatera mutasi milik dr Purbo Djojokusumo. Meski pucat karena “kehilangan” cukup banyak warna hijau dan merah, keduanya tetap memikat.
Api hijau
Meski kurang diminati, aglaonema bernuansa hijau tetap menarik. Sekadar contoh green fire koleksi Gunawan Wijaya, pemilik Wijaya Orchids. Warna merah darah “menyembur” di tengahtengah daun berwarna hijau cerah mengikuti arah tulang daun. Sosoknya kompak dan sehat dengan banyak anakan. Untuk mendapatkannya dari seorang penangkar di Thailand, Gunawan mesti mengeluarkan US$3.700 setara Rp34-juta.
Di negara Gajah Putih, Trubus melihat aglaonema hijau berdaun lebar dan mengeriting milik Chisnupong. Perpaduan hijau semburat putih dan tulang daun pink membuat Leman terpesona. Sayang tanaman berpenampilan kompak itu belum mau dilepas sang empunya.
Yang juga menarik ialah aglaonema mutasi hijau belang putih berlipstik putih koleksi Pramote. Pemilik Unyamanee Garden itu berniat mengawinkan dengan induk berwarna merah agar keluar lipstik merah. (Evy Syariefa)
