Wednesday, August 10, 2022

Nur Agis Aulia: Bangga Menjadi Petani

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Nur Agis Aulia memilih mejadi petani daripada karyawan di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara.
Nur Agis Aulia memilih mejadi petani daripada karyawan di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara.

Jalan Nur Agis Aulia sebetulnya tak berliku. Begitu menamatkan pedidikan di Jurusan Sosiatri Universitas Gadjah Mada ia diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta. Namun, ia menolak dan memilih menjadi petani. “Saya melihat peluang besar di bidang pertanian,” ujar Nur Agis Aulia. Keruan saja kedua orang tuanya menentang pilihan pemuda kelahiran 21 April 1989 itu.

Mereka menghendaki Agis bekerja kantoran. Pria 27 tahun itu kokoh pada pendiriannya. Pada 2013 ia menyewa lahan seluas 2.000 m2 di Desa Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung, Serang, Provinsi Banten, untuk mewujudkan impiannya bertani. Ia memperoleh uang sewa Rp12-juta—selama lima tahun—dari tabungan pribadi dan pinjaman teman-teman dekatnya. Di sanalah ia mengebunkan beragam sayuran seperti pakcoi, caisim, dan kacang.

Agis mengelola pertanian terpadu di lahan seluas 8 ha di Ciapus, Bogor, Jawa Barat.
Agis mengelola pertanian terpadu di lahan seluas 8 ha di Ciapus, Bogor, Jawa Barat.

Pertanian terpadu
Agis mengolah tanah dan menanam beragam sayuran sendiri. Sebulan berselang ia memanen dan memasarkan sehingga memperoleh laba. Ia menanam beragam sayuran itu hingga setahun. Pada tahun yang sama, Agis mengembangkan pertanian terpadu. Menurut Agis pertanian terpadu syarat untuk membangun desa. Potensi pertanian dan peternakan di desa sangat besar. Agis membeli 2 sapi perah dan 30 kambing perah.

Ternak ruminansia itu untuk memenuhi kebutuhan pupuk kandang. Selain itu Agis memperoleh susu sebagai pemasukan harian. Kini dari tiga sapi Agis mendapatkan 10 liter susu. Adapun dari 6 kambing ia memperoleh 3—4 liter susu kambing setiap hari. Menurut pemuda itu permintaan susu segar di daerah panas khususnya Banten sangat tinggi sehingga kini ia lebih fokus dalam peternakannya.

Kambing dan domba menjadi pemasukan bulanan dan tahunan di pertanian terpadu yang dikelola Agis
Kambing dan domba menjadi pemasukan bulanan dan tahunan di pertanian terpadu yang dikelola Agis

Agis menjual susu segar lebih tinggi daripada susu segar di daerah dingin seperti Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebab, “Susu lebih kental dan gurih,” kata Agis. Pemuda yang mempekerjakan 4 karyawan itu menjual susu sapi Rp15.000 per liter dan susu kambing Rp50.000—Rp60.000 per liter. Harga susu sapi di Lembang Rp6.000—Rp7.000; dan susu kambing Rp30.000—Rp35.000 per liter.

Selain menjual susu segar, ia juga memasarkan produk olahan seperti yoghurt dan kefir. Volume produksi 3—4 liter yoghurt dan 2 liter kefir setiap dua hari sekali. Agis memproduksi yoghurt sesuai permintaan konsumen, yakni variasi rasa seperti stroberi dan cokelat. Harga yoghurt bercitarasa stroberi Rp35.000 per liter; yoghurt tanpa rasa, Rp20.000 per liter per liter. Adapun harga jual kefir Rp50.000 per liter. “Profit bersih dari penjualan produk itu sekitar Rp4-juta per bulan,” ujar Agis.

Yoghurt dan kefir hasil olahan susu segar produksi sendiri.
Yoghurt dan kefir hasil olahan susu segar produksi sendiri.

Harian hingga tahunan
Kecintaan terhadap dunia pertanian membuat Agis bertemu dengan mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, pada April 2015. Anton salah satu pemilik Yayasan Pengembangan Insan Pertanian Indonesia (YAPIPI) memberikan 8 ha lahan untuk dikelola oleh Agis. “Saya sempat ragu untuk mengelola lahan itu tapi setelah saya survei dan saya yakin bisa maka saya terima,” ujar Agis.

Sejak Juli 2015 Agis dan dua temannya mulai mengelola lahan di Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Bogor. Menurut Agis kunci mengelola pertanaian terpadu adalah membuat pemasukan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Itulah sebabnya ia mengatur pola tanam dan panen agar dapat memenuhi ke empat kelompok pemasukan itu.

Agis memilih beternak ayam petelur menjadi sumber pemasukan harian. Ia memelihara berbagai jenis ayam seperti pelung, cemani, ketawa, mutiara, bangkok, kalkun, dan arab—total 67 ekor. Jumlahnya memang masih sedikit karena masih tahap uji coba. Jika uji coba sukses, ia bakal memperbanyak populasi ayam sebagai sumber pemasukan harian. Setiap hari Agis mendapakan 3—4 telur dan dijual ke penduduk sekitar.

555_ 119“Rencananya kami akan memperbanyak ayam petelur sehingga pemasukan harian juga lebih banyak,” ujarnya. Untuk pemasukan mingguan Agis mambuat peternakan ikan. Agis membuat kolam untuk pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Ukuran kolam berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya, yaitu berukuran 3 m x 4 m untuk kolam pembenihan total 12 buah. Kolam pembesaran sebanyak 6 buah seluas masing-masing 10 m x 15 m.

Untuk pemasukan bulanan Agis mengandalkan berbagai sayuran seperti kacang panjang, bayam, kangkung, dan mentimun. Adapun untuk tahunan ia memilih membesarkan domba dan kambing selama 3 bulan. Ia menjual domba dan kambing saat Idhul Adha. “Selaian pemasukan tahunan peternakan kambing juga bisa dijadikan pemasukan bulanan karena bisa dijual untuk keperluan akikah,” ujarnya.

Selain pertanian terpadu, ia juga membuat wisata pertanian. Setiap Sabtu dan Ahad Agis membuka lahannya bagi para pelancong dari berbagai kelompok sekolah, mahasiswa, dan keluarga. “Sampai awal 2016 sudah penuh di pesan dari beberapa sekolah dan mahasiswa. Padahal, rencananya wisata pertanian ini baru akan dibuka pada Februari 2016,” ujarnya. Agis hanya memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan wisata pertanian itu.

Agis juga mengikuti program Indonesia Bangun Desa yang diselenggarakan oleh Yayasan Bina Desa Indonesia. Pada program itu ia menggagas untuk membuat Komunitas Banten Bangun Desa (BBD), yang bertujuan melahirkan sumber daya manusia pertanian yang berkompeten. (Ian Purnama Sari)

 

Previous articlePadi Unggul Baru
Next articlePupia Jaga Jantung
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img