
Meski pandemi korona Agus Setyawan tetap memasarkan puluhan kilogram telur setiap hari. Baru memenuhi setengah permintaan.

Trubus — Agus Setyawan mengendarai mobil pikap menempuh jarak 61 kilometer dari Kabupaten Magelang ke Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Peternak puyuh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu melakukannya setiap hari saat awal pandemi korona pada Maret—April 2020. Ia menjual telur puyuh produksinya. Saat itu banyak pemerintah daerah membatasi pengunjung, sehingga distribusi barang terganggu.
Akibat kebijakan itu telur puyuh di sentra produksi seperti Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menumpuk. Harga di sentra produksi jatuh hingga Rp17.000 per kilogram, harga jual normal Rp23.000—Rp25.000. “Harga jual Rp17.000 itu sama dengan biaya produksi, artinya peternak cenderung rugi karena bekerja tanpa laba,” kata Agus. Kesulitan menjual barang menjadikan banyak peternak puyuh gulung tikar.
Pasar cadangan
Mengetahui harga jatuh di Magelang, Jawa Tengah, segera Agus mencari info pasar baru via daring atau online. Pria 35 tahun itu mengetahui permintaan dengan harga jual stabil Rp23.500 per kilogram di Kabupaten Wonosobo. Itulah sebabnya ia menjajakan telur puyuh ke sana. “Permintaan saat pandemi sebetulnya tetap, hanya distribusi kurang lancar menyebabkan stok menumpuk di sentra dan harga turun,” kata Agus.
Agus memotong rantai tata niaga dengan mengirimkan telur ke daerah konsumen. Setalah Pembatasan Sosial Berskala Besar usai, harga telur puyuh justru melambung hingga Rp27.000 per kg. Menurut Agus harga melambung itu imbas banyak peternak lain gulung tikar dan efek permintaan tinggi menjelang hari raya.
Peternak sejak 2017 itu mengatakan, bisnis puyuh sangat prospek. Ia memulai bisnis dengan populasi 8.000 ekor di lahan 230 m2. Berselang tiga tahun populasi burung Coturnix coturnix mencapai 15.000 ekor. Ia memanen 150—165 kg setiap hari. Produksi itu hanya memenuhi 50% permintaan. Omzet Agus Rp3.450.000—Rp3.795.000 per hari jika harga jual rata-rata Rp23.000 per kilogram. Artinya omzet per bulan rata-rata Rp105.000.000. Laba sekitar 27% dari omzet.

Penyebab lain peternak gulung tikar serangan penyakit pada awal 2020. “Gejalanya mirip flu burung, kerap keluar lendir dari mulut dan mata,” kata Agus. Itu terutama pada peternakan puyuh yang tidak menerapkan manajemen produksi intensif. Masalah terutama ketika peternak sulit membuang kotoran puyuh.
Namun, di tangan Agus, kotoran melimpah itu justru menjadi tambahan omzet. Kotoran puyuh bahan pupuk, bahan budidaya kutu air, dan pakan dasar pembibitan nila. Tambahan omzet Rp1 juta per bulan dari 400 kilogram kotoran puyuh. “Artinya bukan perniagaan kotoran, tetapi jasa menyediakan kotoran,” kata Agus menegaskan. Keruan saja kandang puyuh milik Agus selalu bersih dan terbebas bibit penyakit.
Kandang bersih

Tingkat kematian puyuh di kandang Agus per tahun relatif rendah hanya 20% per tahun. Nilai kematian puyuh maksimal 25%. Siasat lain ia mencegah bibit penyakit peka dengan lingkungan. Artinya jika ada perubahan suhu ekstrem atau memasuki pancaroba, segera memberikan multivitamin untuk meingkatkan daya tahan tubuh puyuh. “Setiap hari wajib ke kandang, antara lain membersihkan kotoran, panen telur, dan memberikan pakan,” kata Agus.
Sering berinteraksi di kandang membuat ternak tidak mudah stres. Siasat lainnya kerap menyalakan suara dari radio pada siang hari agar puyuh tidak mudah stres. Kelebihan lain berternak puyuh adalah harga jual produk apkir yang tinggi. Harap mafhum, Agus membudidyakan puyuh peksi yang bersosok bongsor, sehingga burung apkir pun menjadi puyuh pedaging. Sebagai gambaran harga beli bibit puyuh 28 hari Rp5.850 per ekor dan harga jual puyuh apkir umur setahun Rp5.500 per ekor. Penurunan hanya Rp350 dibandingkan dengan harga bibit.
Sebetulnya masa produksi puyuh bisa hingga 18 bulan. Namun, mutu telur menurun setelah burung berumur 12 bulan. Cirinya cangkang telur tipis dan warna pudar. Agus memilih menjual puyuh pada umur 12 bulan demi menjaga mutu. Puyuh mulai berproduksi pada umur 42 hari. Masa puncak produksi umur 3—7 bulan per siklus bertelur selang 26 jam. Menurut Agus budidaya puyuh pada 2021 amat prospek, sebab banyak ceruk pasar yang masih belum terpenuhi. (Muhamad Fajar Ramadhan)
