Saturday, December 3, 2022

Omzet Puluhan Juta dari Olahan Kakao

Rekomendasi

Trubus.id — Muhammad Akbar Anas mendapatkan omzet Rp59,4 juta–Rp79,2 juta per tahun dari hasil penjualan nib. Per tahun ia mengolah 1,2 ton biji kakao kering. Dari jumlah itu 45–60% atau 540–720 kg mampu menghasilkan nib.

Nib merupakan butiran daging biji kakao hasil sangrai. Di tempat asal Akbar yakni Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harga nib minimal Rp110.000 per kg.

Sayang, konsumen di daerah Akbar belum mengenal nib dan cara mengonsumsinya. Seandainya sudah ada pasarnya, nib menjadi pendapatan tambahan selain cokelat batangan yang ia produksi.

Apalagi, cara membuat nib pun mudah. Menurut Akbar, biji kakao kering dengan kadar air 7–10 persen dipanggang menggunakan alat pemanggang (roasting). Kapasitas alat pemanggang yang Akbar miliki 70 kg.

“Namun, untuk sekali memanggang hanya 20–30 kg biar bisa memanggang lebih cepat,” tutur Akbar.

Menurut Akbar, untuk memanggang 20–30 kg biji kakao membutuhkan waktu 140–210 menit. Menurut produsen kakao asal Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Agus Nurohman, pemanggangan bisa juga dilakukan secara manual tanpa mesin roasting.

“Bisa juga disangrai menggunakan wajan,” kata Agus.

Cukup panggang biji kering terfermentasi hingga kehitaman. Setelah itu, biji kakao panggang dibiarkan hingga dingin. Selanjutnya, Agus memecah biji kakao memakai palu kayu untuk memisahkan kulit dan daging biji atau nib.

Cara Akbar mengolah nib lebih modern. Biji kakao ia masukkan ke alat penampi atau pengayak yang dinamakan winnowing. Mesin itu memisahkan kulit dan nib. Dari pemisahan tadi Akbar memperoleh 45–60 persen nib.

Sementara itu, untuk kulit biji kakao hanya terbuang menjadi limbah, belum bisa dimanfaatkan. Menurut Dr. Ir. Sri Mulato, M.S., peneliti utama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, kulit biji kakao sejatinya cocok untuk dikonsumsi oleh manusia.

“Kulit biji kakao memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi. Hanya saja dapat mengakibatkan rasa pedih,” kata Sri.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img