Tim peneliti IPB University mengembangkan teknologi pendingin berbasis energi surya untuk kapal nelayan skala kecil. Inovasi itu diberi nama Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS) dan menjadi bagian dari proyek riset Integrated Smart System Instrument for Small-Scale Fishing Vessel. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu nelayan menjaga kesegaran hasil tangkapan tanpa ketergantungan pada es balok.
“Kebanyakan nelayan kita masih mengandalkan es dari darat. Biayanya mahal dan tidak efisien, terutama bagi nelayan di wilayah terpencil,” ujar Dr Ayi Rahmat, ketua tim peneliti sekaligus dosen Divisi Akustik, Instrumentasi, dan Robotika Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University.
Ramah Lingkungan dan Efisien
PPTS menggunakan panel surya berkapasitas 1–5 kWp yang terhubung dengan baterai LiFePO₄ serta sistem kontrol pintar. Energi yang ditangkap panel surya dipakai untuk mengoperasikan freezer berkapasitas 300 liter yang mampu menjaga suhu di bawah 4°C selama 24 jam. Sistem ini juga dilengkapi teknologi internet of things (IoT) untuk memantau suhu ruang pendingin, posisi kapal, dan kondisi baterai secara real time.
Rangkaian uji coba dilakukan pada tiga kapal berukuran 7–9 meter di Pelabuhan Ratu, Cirebon, dan Brebes. Selama satu bulan pelayaran, sistem bekerja stabil tanpa konsumsi bahan bakar fosil. Pengujian meliputi stabilitas kapal—pitching, yawing, dan rolling—ketahanan perangkat, serta uji kesegaran ikan secara organoleptik.
“Hasilnya menunjukkan ikan tetap segar hingga mendarat di pelabuhan. Ini berdampak langsung pada peningkatan nilai jual tangkapan,” ungkap Dr Ayi melansir pada laman IPB University.
Manfaat Sosial dan Ekonomi
Penerapan palka pendingin tenaga surya menekan biaya operasional nelayan hingga 30% karena tidak perlu membeli es. Selain itu, kesegaran ikan yang lebih terjaga meningkatkan harga jual sebesar 10–15%. Inovasi ini sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi biru dan energi bersih.
“Kami ingin nelayan kecil bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari solusi energi terbarukan,” tambah Dr Ayi.
Setelah uji coba di Jawa Barat dinilai berhasil, IPB University bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, United Nations Development Programme (UNDP), dan PT Cahaya Hijau Indonesia untuk memperluas implementasi teknologi ke wilayah potensial perikanan seperti Tanimbar dan Morotai.
Rencana tersebut sejalan dengan program SeaBLUE Palka Pendingin Project yang menargetkan pemasangan sistem PLTS komunal 3–5 kWp untuk 300 kapal nelayan. Selain menuju tahap komersialisasi, inovasi ini telah didaftarkan sebagai hak paten melalui nomor pendaftaran P00202506400.
Palka Pendingin Tenaga Surya menjadi simbol keberhasilan IPB University dalam menggabungkan riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Dengan energi terbarukan, nelayan skala kecil mendapatkan peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak ekosistem laut.
