Budidaya tin secara organik dalam jaring.

Buah ranum seukuran 5—6 cm itu muncul susul-menyusul di batang BTM-6. Fahmie Abu Bakar memanen buah-buah itu hingga 7 kg setiap hari dari 500 tanaman. Petani tin di Selangor, Malaysia, itu hingga Mei 2016 sudah memetik tin BTM-6 sejak lima bulan lalu. Memperhatikan buah yang masih lebat dan saling menyusul, Fahmie memperkirakan dua bulan mendatang BTM-6 masih tetap berproduksi.

Dengan harga jual RM80 per kg, Fahmie mengantongi minimal RM560 atau Rp1.790.000 setiap hari. Frekuensi panen yang lama itu sangat luar biasa. Menurut petani tin BTM-6 di Thailand, Sabani, varietas itu lazimnya berproduksi selama 3 bulan bila tanpa pengaturan pembuahan. Namun, Fahmie mampu memetik hingga minimal 5 bulan. Bahkan, jika prediksinya tepat, durasi panen hingga 7 bulan.
Budidaya organik
Fahmie mengatakan, “Sampai sekarang, kami belum tahu perangai tin. Kadang-kadang saya perkirakan buah sedikit, ternyata panen banyak. Demikian pula sebaliknya, diperkirakan panen banyak, ternyata hanya sedikit.” Ia memperhatikan ukuran buahnya makin besar, mencapai 90 g dari sebelumnya 50—60 g per buah. Pria 36 tahun itu memilih BTM-6 lantaran manis, warna buah setelah matang merah, dan ukuran buah cukup besar.

Ketersediaan bibitnya pun paling banyak di Malaysia. Ia mempunyai rekanan di Sabah, Malaysia timur, yang memproduksi 1.500 bibit BTM-6 setiap bulan. Meski demikian, ayah empat anak itu akan mengganti varietas secara bertahap dengan yang lebih unggul. Fahmie menanam varietas BTM-6 di area 1.000 m². Semula ia menanam tin itu di lahan terbuka. Kemudian Fahmie membuat jaring di sekeliling tanaman.

Sarjana Komputer alumnus Universitas Putra Malaysia itu membagi kebun menjadi 5 blok. Tiga blok untuk produksi buah, sedangkan plot lain untuk bibit dan percobaan. Untuk produksi buah, petani tin sejak 2011 itu menanam tin berjarak 6 kaki atau 1,83 meter secara zigzag. Ia menanam bibit itu di lubang sedalam 40 cm x 40 cm. Menurut Fahmie akar tin tidak jauh ke dalam, tetapi berupa akar serabut.

Setelah penanaman bibit, salah satu pelopor berkebun tin itu menutup media dengan plastik. Tujuannya untuk mencegah gulma tumbuh. Fahmie juga “memagar” keempat sisi batang tin dengan konblok yang bisa dibongkar-pasang untuk menahan media. Jadilah tin seolah-olah tumbuh dalam wadah. Fahmie hanya memanfaatkan pupuk organik sebagai sumber nutrisi tanaman. Ia menggunakan pupuk kitosan oligosakarida berbahan baku rumput laut.

Pupuk itu berfungsi meningkatkan daya kekebalan tanaman terhadap fungi, bakteri, dan infeksi virus patogen. Ia melarutkan 2—3 cc pupuk itu dalam 1 liter air. Frekuensi penyemprotkan 1 kali per pekan setiap Rabu. Untuk merangsang pertumbuhan vegetatif, Fahmie memanfaatkan kalsium nitrat; untuk memaniskan buah, potasium sulfat.
Serbaotomatis

Pemberian nutrisi untuk tanaman melalui jaringan irigasi persis sistem hidroponik. Untuk mempermudah, Fahmie membagi kebun berdasarkan 4 plot penanaman. Setiap plot terdiri atas 500 tanaman dan 1.000 tanaman. Petani kelahiran Kualalumpur pada 1979 itu memberikan pupuk 2 kali sehari, yaitu pada pukul 07.00—11.00 dan 15.00—17.00. Pada tengah hari ia hanya menyiram tanaman dengan air biasa. Pemberian pupuk berdosis sangat rendah.

Fahmie memberikan potasium sulfat untuk memaniskan buah ketika seukuran kelereng. Frekuensi pemberiannya juga sama, yakni 2 kali sehari. Begitu pun dosis pemupukan. Ia tidak bergantung pada tenaga kerja. Oleh karena itulah semua aktivitas penyiraman dan pemberian air dengan mesin pompa yang bekerja secara otomatis. “Bila ada karyawan libur 2 pekan pun kita tetap tenang,” ujar Fahmie yang mempekerjakan 3 karyawan.

Para karyawan lebih banyak memangkas tanaman, memangkas rumput, perbanyakan tanaman, dan memanen buah. Fahmie memasarkan buah segar di kedai pertanian Formeniaga. Adapun buah-buah apkir yang tidak memenuhi standar mutu—misal pecah, kulit kurang mulus dan atau ada luka bekas gerekan serangga atau goresan kuku diolah menjadi jus.

Menurut Fahmie buah apkir hanya 10—20% dari total panen atau 1—2 kg. Setiap pekan ia menghasilkan 300—400 botol jus tin masing-masing bervolume 250 ml. Ia menghasilkan dua varian jus, yakni orisinal dan power jus. Jumlah jus power lebih sedikit sebab untuk menghasilkan 1 botol Fahmie memerlukan 4—5 buah. Namun, bila terlalu rusak, Fahmie mengolahnya menjadi pupuk organik.

“Kami juga meriset untuk mengolah tin menjadi minyak asiri. Saya yakin setiap bagian tin ada fungsinya. Bahkan daun berkarat pun kita simpan dengan mengeringkan untuk pewangi kamar,” ujar Fahmie. Sebenarnya produk-produk itu sudah ia buat. Hanya saja ia tidak fokus karena masih banyak kegiatan lain sehingga belum dikembangkan secara komersial. (Syah Angkasa)
