
Cara terbaru meningkatkan rendemen minyak kelapa murni dan kandungan asam laurat.
Trubus — Cara baru membuat minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) dengan metode kejut listrik dalam waktu singkat. Fungsi kejut listrik merusak membran sehingga minyak terekstraksi lebih banyak dari dalam sel kelapa sekaligus merusak protein emulsi minyak dan air. Industri pangan yang membutuhkan ekstraksi juga menerapkan metode kejut listrik atau pulsed electric field (PEF).

dua fase santan: skim dan krim. (Dok. Trubus)
PEF termasuk proses nontermal sehingga tidak merusak kestabilan minyak. Menurut Ika Astari Dewi dari Universitas Brawijaya teknologi PEF diawali dari memarut kelapa tua segar, lalu campurkan air dengan perbandingan 1:2. Peras campuran parutan kelapa dan air itu hingga memperoleh santan. Setelah itu diamkan santan selama 1 jam sehingga tampak dua fase pada santan.
Kadar air
Di bagian atas yang lebih keruh atau krim dan bagian bawah yang lebih bening disebut skim. Pembuatan VCO memerlukan bagian krim. Tiriskan krim dan pindahkan ke wadah, lalu masukkan ke kulkas selama 12 jam. Kini cairkan kembali krim yang beku hingga mencapai suhu sekitar 13—15°C. Proses selanjutnya yaitu kejut listrik menggunakan tegangan 3,28 kV/cm dan frekuensi 2,56 kHz.

Langkah selanjutnya Ika melakukan sentrifugasi pada kecepatan 3.5000 rotation per minute (rpm) selama 30 menit. Tiga fase akan terbentuk pada larutan krim kelapa, minyak kelapa perawan di lapisan paling atas. Ika mendapatkan rendemen 17,6%. Padahal perlakuan tanpa melalui proses kejut listrik hanya menghasilkan rendemen 14,5%. Densitas VCO yang dihasilkan juga memuaskan, 0,92%. Itu berarti kandungan komponen-komponen pada VCO seperti asam laurat, asam miristat, dan asam palmitat tinggi. Angka yang sama dihasilkan dari metode tanpa kejut listrik.
Getaran gelombang

Intan Pratiwi dan rekan dari Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, menggunakan teknologi sonikasi untuk meningkatkan rendemen asam laurat secara spesifik. Sonikasi merupakan teknologi gelombang ultrasonik yang mampu menggetarkan partikel. Getaran ultrasonik mampu mengguncang ikatan antarmolekul hingga putus.
Dalam proses produksi VCO tujuan sonikasi ialah memutus ikatan molekul yang menghambat terekstraksinya asam laurat. Namun, tak hanya sekadar sonikasi, Intan dan rekan mengunakan metode lain sebagai pasangan sonikasi. Metode penyabunan atau saponifikasi dan sonikasi ternyata menjelma duet maut meningkatkan produksi minyak klentik.

Bagaimanakah caranya? Ia mencampur VCO dengan NaOH 3,5 N, mengaduk, dan mendiamkan selama 30 menit. Dua lapisan akan terbentuk dari VCO. Lapisan atas berupa minyak gliserol dan lapisan bawah berupa sabun. Itulah yang dinamakan proses saponifikasi. Gunakan penyedot seperti pompa vakum untuk memisahkan kedua lapisan itu. Ikan menambahkan HCl 10% pada lapisan bawah atau sabun.

Sayangnya Ika tidak menyebutkan nilai NaOH 3,5 N dan HCl 10% yang diperlukan. Proses selanjutnya ia memasukkan sabun VCO ke dalam alat ultrasonik selama 90 menit. Hasilnya asam laurat yang dipanen 62,3% dari total larutan sabun VCO. Metode saponifikasi dan sonikasi dikhususkan untuk ekstraksi asam laurat, kandungan asam lemak kaya manfaat yang kerap diimpor oleh negara untuk memenuhi kebutuhan industri.
Menurut Dr. Ir. Sapta Raharja, DEA, salah satu periset VCO dari Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor, sonikasi sebenarnya juga bisa digunakan pada fase santan untuk membuat VCO. “Pada panjang gelombang tertentu, ikatan emulsi air-minyak kelapa bisa pecah,” jelas pria asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu. Kelebihan produksi VCO menggunakan sonikator yaitu tidak memerlukan panas serta lebih higienis karena minimnya kontak tangan manusia. Kata Sapta, teknologi sonikasi di dunia perindustrian baru hadir 3—4 tahun. (Tamara Yunike)
