Thursday, January 29, 2026

Panen Sangkuriang 35 Ton/Ha

Rekomendasi
- Advertisement -
Umbi kentang sangkuriang agrihorti oval panjang cocok untuk industri keripik rumahan.

Kentang titisan atlantik dan repita produksi tinggi, tahan busuk daun, hemat fungisida dan pupuk.

Trubus — Nama kentang baru itu sangkuriang dengan beragam keunggulan. Produktivitas sangkuriang menjulang hingga 35 ton per hektare. Bandingkan dengan kentang atlantik yang rata-rata 18 ton per hektare. Sudah begitu sangkuriang juga utama tahan penyakit busuk daun Phytophtora infestans yang selama ini menjadi momok pekebun. Sangkuriang merupakan kentang bahan baku keripik.

Selama ini bahan baku industri keripik menggunakan varietas atlantik. Padahal, varietas atlantik rentan penyakit busuk daun. Perakitan kentang sangkuriang melibatkan beberapa pemulia, yakni Eri Sofiari, Tri Handayani, dan Helmi Kurniawan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa).

Daun sangkuriang (kiri) masih hijau
sedangkan atlantik umur 40 hari terinfeksi
busuk daun.

Bahan keripik

Uji multilokasi sangkuriang agrihorti—nama lengkap kentang baru itu—dilaksanakan di Pangalengan (Kabupaten Bandung), Cikajang (Kabupaten Garut), Lembang (Kabupaten Bandung Barat), dan Dieng (Kabupaten Wonosobo). Meski lokasi itu merupakan endemik penyakit busuk daun, sangkuriang mampu bertahan. Sangkuriang agrihorti berpotensi menghasilkan umbi 24,61―34,99 ton per hektare.

Karakter umbi sangkuriang berbentuk oval panjang dengan pertumbuhan akar yang banyak. Hal itu diduga mengakibatkan adsorpsi nitrogen yang efisien dari tanah. Oleh karena itu, petani dapat mengurangi dosis pupuk buatan yang mengandung nitrogen hingga 10%. Peneliti Balitsa, Suwandi, menyatakan, dosis rekomendasi umum pupuk nitrogen 84―140 kg setara 140―200 kg Urea per hektare. Dengan demikian sangkuriang agrihorti terbukti ekonomis dan unggul secara ekologis.

Sangkuriang agrihorti berbunga pada 40―45 hari pascatanam. Petani memanen umbi sekitar 60 hari setelahnya. Varietas sangkuriang memiliki vigoritas tinggi yang dicirikan dengan banyaknya jumlah umbi per tanaman. Secara konsisten terdapat 10 umbi per tanaman sangkuriang di beberapa lokasi pengujian. Hasil pengamatan memperlihatkan berat jenis varietas antara 1,02―1,03 dengan kandungan pati 5,43―6,25% dan gula reduksi 0,02―0,03%.

Panen sangkuriang mencapai 24,61―34,99 ton per
hektare.

Bobot jenis, pati, dan gula reduksi sangkuriang agrihorti berada di bawah atlantik―bahan baku keripik―sehingga dapat diasumsikan sangkuriang kurang sesuai untuk keripik atau kerap disebut potato chip. Kentang itu cocok sebagai kentang sayur atau table potatoes. Meski demikian, sangkuriang cocok untuk industri keripik putih rumahan karena bentuk umbi lonjong memudahkan pengirisan.

Hemat fungisida

Nilai ekonomis kentang di Indonesia terutama kota-kota besar sangat tinggi. Padahal, luas panen kentang hanya 62.151 hektare. Angka itu tidak sebanding dengan luas panen padi yang mencapai 12.668.989 hektare berdasarkan data BPS tahun 2000. Luas panen itu tak mampu mencukupi kebutuhan industri keripik, kentang goreng, dan tepung kentang. Tak heran sebagian besar kentang untuk industri tersebut masih impor.

Selain kecilnya luas panen, petani kentang menghadapi kendala kehilangan hasil akibat penyakit busuk daun sekitar 10―100%. Aplikasi fungisida untuk mencegah busuk daun selama periode pertanaman kentang pada musim hujan berkisar 15―20 kali semprot. Namun, sangkuriang hanya perlu 5―10 kali penyemprotan. Petani menghemat biaya fungisida lebih dari 50% jika menanam sangkuriang. (Ir. Eri Sofiari, Ph.D., Peneliti Madya bidang Pemuliaan Tanaman Sayuran di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang tahun 1977―2015)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img