Friday, August 19, 2022

Parit Cegah Bunga Rontok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Parit yang selalu tergenang membuat temperatur dan kelembapan tanah stabil sehingga mencegah bunga rontokPeristiwa buruk itu dialami Daniel pada Mei 2007. Ketika itu ia tengah mencoba membuahkan buah naga di luar musim dengan teknik stres air. Selama 2 bulan penuh, Daniel tak menyirami tanaman. Kebutuhan air hanya diperoleh saat pemupukan. Pupuk yang diberikan berupa NPK 6:30:30. Sebelum digunakan, pupuk itu dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 2 g/l. Larutan itu lalu disiramkan ke area perakaran setiap 10 hari dengan dosis 150 ml/tanaman.

Perlakuan lain berupa pemberian hormon giberelin berkonsentrasi 50 ppm yang disemprotkan di sepertiga ujung sulur. Frekuensinya 2 – 3 kali selama 2 bulan.  Tujuannya untuk melayukan ujung sulur sehingga merangsang pembungaan.

Perlakuan ulang

Dua bulan berselang, bakal bunga mulai bermunculan. Ketika itulah Daniel menghentikan stres air dan  menggenangi kebun selama 3 – 4 hari. Ia kembali mengurangi penyiraman ketika bakal bunga berubah menjadi kuntum-kuntum bunga.  Kondisi tanah dijaga tetap basah agar bunga tak rontok.

Namun, tak diduga hujan sesaat datang saat kemarau. Begitu selesai hujan, permukaan tanah langsung kembali kering. Air hujan dengan cepat terserap tanah dan sebagian lagi menguap. Itu menyebabkan suhu tanah berubah drastis: panas, dingin, panas lagi. “Mestinya tanah langsung disiram hingga basah agar suhu tanah stabil,” katanya. Akibatnya, sebagian besar bunga rontok. Daniel pun terpaksa melakukan perangsangan bunga dari awal.

Menurut dosen fisiologi tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Tatik Wardiyati MS, perubahan suhu mendadak di lingkungan mikro sekitar tanaman dapat menyebabkan perubahan fisiologis seperti menurunnya aktivitas enzimatis dalam tubuh tanaman.  Akibatnya, tanaman stres. “Bila tanaman sedang berbunga, maka bunga itu akan rontok,”  tutur Tatik.

Kejadian serupa pernah dialami AP Kusumaningrat, saat membuahkan buah naga setelah musim panen berakhir di kebunnya di Sragen, Jawa Tengah. Pekebun asal Kediri, Jawa Timur, itu merangsang bunga dengan menyemprotkan urine sapi hasil destilasi. Sebanyak 1 cc urine dilarutkan dalam seliter air. Larutan itu lalu disemprotkan ke seluruh sulur pada pagi hari atau sore hari.

Perlakuan itu diberikan terus-menerus sejak sebelum tanaman berbunga. Interval penyemprotan dua minggu sekali.  Menurutnya urine sapi mengandung nitrogen (N) dan kalium (K) tinggi. Hasil penelitian menunjukkan urine sapi mengandung 1,4 – 2,2% nitrogen (N), 0,6 – 0,7% fosfor (P), dan 1,6 – 2,1% kalium (K).

Kurang efektif

Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, menuturkan unsur kalium berkaitan dengan penggunaan nitrogen dalam memacu pembentukan karbohidrat dan protein. Kadar karbohidrat tinggi meningkatkan rasio karbon (C) dan nitrogen (N). Pada kondisi itu, fase pertumbuhan tanaman beralih dari vegetatif ke generatif yang ditandai dengan munculnya bunga.

Namun, perangsangan pada April itu kurang efektif. Saat kemarau temperatur di kebun Demang – sapaan AP Kusumaningrat – di Sragen mencapai 33oC. Kondisi suhu tinggi itu membuat larutan pupuk dan perangsang buah mudah menguap pascapenyemprotan.

Belum lagi temperatur tinggi saat kemarau membuat evaporasi tanaman berlangsung terus-menerus. Akibatnya, sel tanaman banyak kehilangan air. Menurut Tatik, bakal bunga merupakan organ paling rentan terkena efek buruk menurunnya kadar air dalam sel.  “Sel-sel pada jaringan kuntum bunga akan menyusut dan dan akhirnya gugur,” katanya.

Perbedaan suhu siang dan malam saat kemarau juga membuat bunga rontok. Itulah sebabnya begitu bunga bermunculan, Daniel rutin menyiram tanaman sehingga temperatur tanah stabil. Demang mengatasinya dengan membuat parit selebar 50 cm dan kedalaman 50 –  70 cm di antara guludan. Parit itu dibiarkan tergenang sepanjang waktu. “Dengan begitu kelembapan dan temperatur lahan stabil,” katanya. Jadi, tak perlu khawatir tanaman kekurangan air.

Pembuatan parit itu dimungkinkan bila buah naga ditanam pada guludan yang cukup tinggi. Demang menyarankan, tinggi guludan minimal 30 cm. Pada ketinggian itu perakaran buah naga tidak tergenang hingga jenuh. “Kalau perakaran sampai tergenang terus-menerus, dikhawatirkan akar malah busuk,” kata Demang.

Berperan ganda

Pembuatan parit di antara guludan juga pernah Trubus saksikan saat berkunjung ke Fengben Agricultural Research Institute, China, pada 2006.  Di sana buah naga ditanam di guludan yang lebarnya sekitar 2 m. Antarguludan dipisahkan parit selebar 60 – 70 cm.

Di sana parit berperan ganda. Selain menjaga kestabilan temperatur tanah, air dalam parit juga menjadi sumber pupuk. Pengelola kebun menyarankan pengunjung agar membuang sisa buah ke dalam parit. Selain sampah buah-buahan, pengelola menambahkan tepung kulit telur ayam sebagai sumber kalsium dan bungkil kedelai sebagai sumber protein ke dalam parit. Setiap pagi pekerja menyemprot parit dengan larutan effective microorganism (EM) untuk mempercepat penguraian sampah sekaligus mencegah bau tidak sedap akibat pembusukan.

Kehadiran parit itu mempermudah para pekerja saat penyiraman. Mereka cukup menyiduk air dari parit untuk menyiram tanaman, sekaligus pemupukan. Pupuk tambahan juga diberikan melalui irigasi drip. Dengan begitu, tanaman tumbuh subur dan tak perlu khawatir bunga rontok. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img