Monday, August 8, 2022

Paru-paru Dua Benua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Taman-taman kota yang semarak berperan menyerap polutan, menyimpan air, dan menjadi lokasi warga membuang penat.

Pepohonan di taman kota Sultanahmet, Kota Istanbul, Turki, itu tak lagi menyisakan daun. Musim semi memaksa pepohonan merontokkan daun. Batang yang kelabu berdiri kaku tanpa kehadiran selembar daun pun. Hanya cabang dan ranting yang berkelindan dengan batang. Tanpa kehadiran daun, pohon tampak muram. Namun, tulip-tulip di sekitar taman itu tengah bermekaran membuat kota tua yang berdiri pada 650 SM itu tampak semarak. Warga tetap beraktivitas di taman itu—berlari, membaca, atau sekadar santai—hingga menjelang senja.

Deretan pohon platano di Jalan Commercio Associato, Kota Bologna, Provinsi Emilia Romagna, Italia, ketika musim semi
Deretan pohon platano di Jalan Commercio Associato, Kota Bologna, Provinsi Emilia Romagna, Italia, ketika musim semi

Menurut guru besar di Departemen Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Hadi Susilo Arfin, salah satu fungsi taman kota memang sebagai tempat rekreasi. “Rekreasi aktif seperti jogging atau bird watching (mengamati burung, red), sedangkan rekreasi pasif sekadar santai di taman,” ujar Hadi. Di taman kota yang tampak resik itu para pengunjung menghirup udara segar di tepi Laut Marmara—namanya diambil dari Pulau Marmara, penghasil marmer.

Fungsi lain taman kota, menurut Hadi adalah estetika atau penghias sebuah kota sehingga menghilangkan penat warganya. Pada awalnya taman kota berfungsi, “Memberi efek visual dan psikologi yang indah dalam totalitas lingkungan kota,” kata Hadi. Sementara fungsi produksi terkait dengan antara lain tata udara, tata air, dan kesehatan. Doktor Manajemen Lanskap dan Ekologi alumnus Okayama University, Jepang, menuturkan tata udara berarti beragam tanaman penyusun taman kota memberikan oksigen hasil samping proses fotosintesis.

“Idealnya dua pohon berumur 5—10 tahun cukup memberikan oksigen untuk 1 orang,” ujar konsultan pekarangan di Jepang dan Amerika Serikat itu. Oleh karena itu kelahiran Cirebon, Provinsi Jawa Barat, November 1959 itu menyarankan penanaman pohon bukan hanya terkonsentrasi di taman kota, tetapi juga perumahan, tepi jalan, atau lahan yang tak termanfaatkan. Adapun fungsi tata air atau hidrologi berupa peran taman kota menyerap air dan mencegah potensi banjir. Setiap hektar ruang terbuka hijau menyimpan 900 m3 air tanah per tahun.

Fungsi kesehatan terkait dengan peran pohon yang mampu menyerap berbagai polutan seperti timbel dan karbondioksida dari gas buang kendaraan bermotor. Menurut periset di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Endes Nurfilmarasa Dahlan, peningkatan 100 ppm karbondioksida menyebabkan suhu meningkat 1oC. Sebab, gas itu menyerap gelombang panjang. Selain itu karbondioksida bersifat asfiksian atau menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, meski konsentrasi gas oksigen di udara tetap, yakni 20,95%. Beragam spesies andal menyerap karbondioksida. Riset Endes Nurfilmarasa Dahlan menunjukkan trembesi Samanea saman mampu menyerap 28.488,39 kg karbondioksida per tahun.

Pengunjung istana Topkapi di Istanbul, Turki, abadikan taman hyacinth
Pengunjung istana Topkapi di Istanbul, Turki, abadikan taman hyacinth

Hadi Susilo mengatakan taman kota idealnya terdiri atas beragam jenis tanaman. Di bagian terbawah ada herbaceus atau tanaman tak berkayu. Tulip di taman-taman kota di Istanbul salah satu contoh herbaceus. Selain itu  sebuah taman kota juga terdapat semak, perdu (pohon yang tingginya di bawah 5 meter), dan pohon tinggi. “Tujuannya agar panen mahatari lebih optimal. Sinar matahari benar-benar dimanfaatkan oleh tanaman itu,” kata Hadi yang berencana meneliti taman pekarangan di Tanzania pada Agustus 2013.

Istanbul Buyuksehir Belediyesi atau Kota Metropolitan Istanbul mengoptimalkan lahan untuk taman kota. Di berbagai area seperti sudut halaman Masjid Biru dan Istana Topkapi, umpamanya, dimanfaatkan sebagai taman. Menurut Hadi Susilo taman-taman seperti itu untuk memberdayakan plaza alias pengerasan dengan konblok atau semen. Di area tersisa, di luar plaza, pengelola kota membuat taman-taman kantong alias vest pocket parks (vest = rompi, pocket = saku, kantong, red). “Jadi, ibaratnya seperti rompi yang di sana sini terdapat kantong atau saku,” kata dosen yang 3 kali sepekan berenang itu.

Pada pengujung Maret 2013, Istanbul memang tengah bersolek untuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Di berbagai sudut kota, taman-taman tampak semarak berhias tulip aneka warna. Menyebut bunga anggota famili Liliaceae itu identik dengan Belanda. Padahal, Turkilah “kampung halaman” alias tanah leluhur tulip (baca: Turki Punya Tulip, Belanda Punya Nama halaman 96—97)

Taman kantong di depan halaman Masjid Biru di Istanbul, Turki
Taman kantong di depan halaman Masjid Biru di Istanbul, Turki

Taman kota nan elok itu bukan hanya monopoli Istanbul wilayah Eropa. Setelah menyeberangi Selat Bosporus, misalnya, taman-taman kota di Istanbul wilayah Asia tak kalah semarak. Kota tua yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Romawi Timur  itu memang terbagi di dua benua, Eropa dan Asia. Kedua bagian itu terpisah oleh Selat Bosporus dan terhubung oleh jembatan sepanjang 1 km. Umbul-umbul berwarna merah bertuliskan Istanbul 2020 tergantung di berbagai area kota terluas di Turki itu.

Suasana taman kota di Kota Bologna, Provinsi Emilia Romagna, Italia, pada Maret 2013 sama saja.  Pohon-pohon platano Platanus acerifolia setinggi tiang listrik itu di taman kota Montagnola, Kota Bologna, tanpa daun. Setelah luruh satu per satu ketika musim semi tiba, platano meranggas. Oleh karena itu menurut Hadi Susilo, dunia berharap skema REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) pada negara-negara tropis seperti Indonesia. Sebab, pepohonan di negeri tropis hijau sepanjang tahun. REDD+ mekanisme global untuk memperlambat perubahan iklim dengan memberikan kompensasi kepada negara berkembang untuk melindungi hutan.

Meski  dingin, suhu di Bologna pada pengujung Maret 2013 mencapai 9oC, beberapa orang tetap mengunjungi taman kota. Edwin Erlangga, mahasiswa Pascasarjana Universita Bologna, yang Trubus temui di kota itu mengutip Badan Metereologi Italia, mengatakan bahwa 9oC merupakan suhu terdingin sepanjang sejarah pada Maret. Lazimnya suhu pada Maret mulai menghangat, pada kisaran 15oC. Pada kondisi ekstrem itulah platano Platanus acerifolia menggugurkan daun.

Forsythia oleacea semarak bunga tanpa sehelai daun pun
Forsythia oleacea semarak bunga tanpa sehelai daun pun

Ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, mengatakan daun pepohonan di Istanbul dan Bologna yang gugur itu akibat pohon memproduksi asam absisat. Ketika konsentrasi asam absisat pada pangkal daun meningkat, maka daun pun berguguran. Sebab, asam absisat merangsang pangkal daun untuk lepas dari batang pohon. Menurut alumnus Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor itu di negeri tropis seperti Indonesia, pepohonan sangat “cerdas” menyiasati perubahan musim yang ekstrem itu. Mula-mula daun tua yang gugur, daun lebih muda menyusul menjadi tua, dan akhirnya luruh belakangan. Sebab, viabilitas organ pada daun yang lebih muda masih bagus.

Selama musim semi, suhu lebih dingin dan panjang hari lebih singkat. Itu memicu terhentinya produksi auksin atau hormon pertumbuhan bagi pohon. Ketika musim semi tiba, intensitas sinar matahari memang sangat rendah. Akibatnya platano tak mampu berfotosintesis secara optimal. “Jika pohon tidak bersiap diri, matilah dia,” kata Edhi. Singkat kata,  “Daun gugur itu memang banyak penyebab. Prinsipnya pohon menggugurkan daun sebagai strategi untuk melindungi diri. Jika kekurangan makanan, jatah yang dikurangi daun tua, maka daun tua menggugurkan diri,” kata Edhi.

Jika hutan dijuluki paru-paru dunia, maka taman kota ibarat paru-paru sebuah kota. Begitu pentingnya taman kota bagi kehidupan sehingga negara-negara maju sangat memperhatikan area terbuka hijau. Prefektur Nagoya, Tokyo, Yokohama—semua di Jepang—mewajibkan pengelola bangunan terdiri atas minimal lima lantai untuk membuat taman atap. Berapa luas taman kota? Menurut Hadi Susilo untuk mengetahui luas taman ideal dengan menghitung luas tapak, yakni perbandingan  populasi dengan area taman. Metode lain persentase luas kota dengan area taman. Ia mencontohkan sebuah kota berpenduduk 500.000 jiwa, maka perbandingan populasi  area untuk taman 4 ha untuk setiap 1.000 penduduk.

Namun, ketika populasi meningkat menjadi  1-juta jiwa, maka perlu 3 ha taman kota per 1.000 penduduk. Bila menggunakan metode perbandingan persentase area luasan taman 10% dari total kota. Itu dengan kondisi tata guna tanah dan penyebarannya ideal. Pemerintah Jakarta melalui Undang-undang No 26/2007, misalnya, mengupayakan luas ruang terbuka hijau 30%. Faktanya kini ruang terbuka hijau di ibukota itu hanya 9%. “Rasanya tak mungkin ruang terbuka hijau di Jakarta mencapai 30%,” kata Hadi. Menanam pohon di halaman, pot, atau membuat taman atap salah satu jalan keluar untuk memperluas ruang terbuka hijau. (Sardi Duryatmo)

 

Cerdas Timbun Makanan

Daun pohon mahoni di Taipeh, Taiwan, berubah warna ketika musim gugur tiba
Daun pohon mahoni di Taipeh, Taiwan, berubah warna ketika musim gugur tiba

Ahli Botani alumnus University of Birmingham, Inggris, Gregori Garnadi Hambali, mengatakan selama musim semi, platano sejatinya tetap melakukan fotosintesis meski tanpa daun. Greg Hambali mengatakan proses fotosintesis saat musim semi itu berlangsung pada jaringan kulit pohon. Sekilas kulit platano memang tampak kelabu, tetapi di bagian dalam masih terdapat kulit berwarna hijau.

Keruan saja produksi “makanan” ketika fotosintesis pada musim semi itu sangat sedikit daripada saat  summer alias musim panas. Oleh karena itu pohon memanfaatkan cadangan makanan. Pakar tanaman di Jakarta, Yos Sutiyoso, menganologikan pohon-pohon di negeri empat musim  sebagai hamster. Ketika musim panas, satwa pengerat itu menimbun pakan di lokasi hidupnya. Yos Sutiyoso, alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, mengatakan pohon platano melakukan hal yang sama.

Sebelum musim semi, intensitas sinar matahari pada musim panas sangat tinggi, mencapai 14.000 foot candle (fc). Selain itu waktu penyinaran pada musim panas juga lebih lama. Matahari baru tenggelam pada pukul 21.00. Ketika itulah laju fotosintesis kian cepat sehingga pohon menghasilkan makanan lebih banyak. Saat musim panas itulah pohon platano “menimbun” energi atau cadangan makanan di parenkim.

Ini bukti lain betapa “pintarnya” pohon. Spesies itu memiliki sistem canggih demi pertahanan diri atau kelangsungan hidupnya. Di negeri empat musim, daun-daun menjelang gugur berubah warna secara gradual. Mula-mula hijau, kemudian berubah menjadi kecokelatan, dan kemerahan sebelum luruh. Sebab, ketika musim gugur, daun akan berhenti memproduksi klorofil atau zat hijau daun. Ahli Fisiologi Tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Edhi Sandra, mengatakan bahwa sebelum daun gugur, pohon akan “mengambil” klorofil dan zat hara lain di daun itu untuk kelangsungan hidup pohon. Akibat translokasi klorofil itu maka warna daun yang semula hijau pun berubah kuning.

Klorofil atau zat hijau daun diganti xantofil atau karotena.  Daun-daun sukarela menyerahkan klorofil itu kepada pohon sebelum pohon memproduksi lebih banyak asam absisat. Lalu angin menerbangkan daun-daun platano itu. Begitu daun gugur, maka pohon akan membentuk lapisan gabus untuk menutup luka tangkai daun. Tujuannya untuk mencegah penguapan air yang berlebihan. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img