Friday, August 12, 2022

Hasrat Sejuk Tiram Raja

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kumbung jamur berpendingin ruangan tampak luar
Kumbung jamur berpendingin ruangan tampak luar

Kumbung tiram raja kini kian nyaman. Lenyap sudah udara pengap, berganti rasa sejuk berkat kehadiran mesin pendingin ruangan.

Kumbung jamur berukuran 6 m x 10 m itu sungguh tak biasa. Di dinding kumbung terdapat sebuah mesin pendingin ruangan berkekuatan 4 paard kracht (PK) yang mengonsumsi daya listrik 3.600 watt. Fungsinya untuk mengendalikan suhu udara di dalam kumbung. Pemilik kumbung,  Ratidjo Hardjo Suwarno—pekebun di Niron, Kecamatan Pandowaharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta—membudidayakan jamur tiram raja Pleurotus eryngii.

Di dalam kumbung terdapat rak-rak bambu bertingkat lima. Setiap tingkat berisi baglog jamur tiram raja dalam krat berukuran 50 cm x 25 cm. Menurut Ratidjo terdapat 200 baglog jamur tiram raja per m2 atau total 12.000 baglog dalam kumbung seluas 60 m2. Untuk membudidayakan jamur istimewa itu, Ratidjo menyiapkan media tanam berupa campuran 30% serbuk kayu karet, 40% bekatul,  dan 2% ampas biji randu. Jamur itu memang lazim tumbuh di kayu keras seperti karet Hevea brasileinsis atau jati Tectona grandis.

Ia membeli biji randu Ceiba pentandra dari penyuling di Pati, Provinsi Jawa Tengah. Para penyuling mengambil minyak dari biji randu atau kapuk. Artinya Ratidjo memanfaatkan limbah penyulingan, bukan biji randu utuh. “Biji randu tinggi nitrogen sehingga bagus untuk pertumbuhan jamur,” kata Ratidjo. Kadar nitrogen pada biji randu mencapai 5%. Jika biji randu sulit didapat, bekatul cukup sebagai penggantinya.

 

Ratidjo Hadi Suwarno di dalam ruang inkubasi
Ratidjo Hadi Suwarno di dalam ruang inkubasi

Stabilkan suhu

Ratidjo kemudian membuat baglog, mempasteurisasi, menginokulasi bibit ke media, lalu menyimpan dalam ruang inkubasi. Ratidjo mempertahankan suhu ruang inkubasi di 25—27°C. Suhu di Niron berkisar 29—32°C. Padahal inkubasi jamur tiram raja membutuhkan suhu stabil dan lebih rendah (lihat boks).

Setelah 40—50 hari, spora jamur menyebar ke permukaan baglog. Ketika itulah pekebun jamur sejak 1968 itu  memindahkannya ke ruang pembentukan tubuh buah berupa kumbung berpendingin. Sejak hari pertama, Ratidjo mempertahankan suhu ruangan hanya 10—15°C hingga panen usai. Sementara kelembapan dipertahankan 90—95%. Panen perdana berlangsung 10—15 hari sejak baglog masuk kumbung berpendingin. Volume panen pertama  100—150 gram per baglog.  Dengan populasi 200 baglog per m2, ia bisa memanen 20—30 kg tiram raja per m.2

Adapun panen kedua atau panen terakhir berselang 15 hari. Dalam satu kali budidaya Ratidjo hanya dua kali panen jamur tiram raja. Pada panen kedua, misalnya, Ratidjo menuai 30—50 gram per baglog. Total jenderal  volume produksi per baglog 150—200 gram dalam waktu 65—90 hari. Artinya rasio konversi biologi mencapai 40%.  Menurut ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Iwan Saskiawan, rasio konversi biologi merupakan perbandingan antara total produksi jamur segar dan baglog segar kali 100%. “Angka itu mencerminkan produktivitas jamur, semakin tinggi produksi maka semakin besar persentase angka efisiensi,” tuturnya. Menurut Iwan Saskiawan, rasio efisiensi jamur di Indonesia maksimal 40%; manacanegara, 45%.

Menurut pakar jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Ir NS Adiyuwono, jamur anggota  anggota famili Plurotaceae itu berasal dari Mediterania dan mulai masuk ke Indonesia pada 1986. Ciri khasnya, batang berwarna putih dengan tudung berwarna abu-abu berukuran 3—12 cm (baca: Trubus edisi Mei 2013: Tiram Raja Terlezat).

Meningkat

Ratidjo mengembangkan tiram raja di kumbung berpendingin sejak 2011. Sejak awal menanam tiram raja, ia memanfaatkan pendingin ruangan. Di lokasi budidaya itu, Ratidjo mengelola 9 kumbung berukuran relatif sama. Selain tiram raja, pekebun itu menanam beragam jenis jamur lain seperti jamur monkeyhead, maitake, dan portabelo.

Ia berencana menambah kumbung berpendingin  hingga menjadi 15 buah pada 2013. Menurut perhitungan Ratidjo biaya produksi tiram raja hingga Rp40.000 per kg. Bandingkan dengan tiram raja biasa, budidaya tanpa pendingin,  hanya Rp10.000 atau tiram yang hanya Rp5.000—Rp8.000 per kg. Menurut Ratidjo, pengeluaran paling besar—sekitar 80%—untuk listrik dan teknologi, sisanya untuk baglog dan bibit. Ratidjo tidak menjual sang raja di pasar swalayan atau pasar tradisional lantaran produksi terbatas.

Dalam sebulan Ratidjo mampu menjual 60 porsi makanan berbahan dasar tiram raja
Dalam sebulan Ratidjo mampu menjual 60 porsi makanan berbahan dasar tiram raja

Selain itu, “Belum banyak orang yang mengenal tiram raja,” kata Ratidjo. Pekebun berusia 69 tahun itu mengolah tiram raja menjadi makanan lezat yakni semur lada hitam. Pengelola  sebuah restoran, Jejamuran, di Yogyakarta, itu sanggup menjual menu itu 50—60 porsi per bulan. “Sekilo tiram raja segar bisa menjadi  6—7 porsi,” tuturnya. Ratidjo menjual menu itu Rp20.000 per porsi, sementara biaya produksi seporsi semur lada hitam sekitar Rp10.000. Itu sudah termasuk bahan dasar makanan yaitu jamur tiram raja. Dari sana Ratidjo menuai laba dari budidaya tiram raja dalam kumbung berpendingin ruangan.

Menurut Ir NS Adiyuwono, penggunaan pendingin ruangan pada budidaya jamur secara umum memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya dapat meningkatkan produksi hingga 10—20% dan mempercepat siklus tanam. Ia mencontohkan, waktu panen jamur shitake yang mencapai 120—150 hari setelah inokulasi bisa dipersingkat menjadi 70—80 hari dengan cara menurunkan suhu saat pembentukan tubuh buah dari 20—22°C menjadi 12—18°C.

Selain itu, penggunaan pendingin ruangan  juga mampu menekan serangan hama dan penyakit hingga 50%. “Iklim lebih mudah dikondisikan dan fenomena alam yang berubah-ubah bisa diminimalisir,” tutur alumnus Budidaya Pertanian Universitas Islam Nusantara, Bandung, Jawa Barat, itu. Namun, kekurangannya adalah peningkatan biaya produksi yang signifikan, lebih dari 300%.

Ahli jamur dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Meity Suradji Sinaga, MSc, mengungkapkan hal serupa. “Teknologi pemakaian pendingin ruangan dalam kumbung jamur lebih cocok untuk jamur eksklusif atau yang harganya mahal, sekitar Rp25.000 per kilogram,” tuturnya. Beberapa di antaranya adalah  shitake, champignon, atau tiram raja. (Bondan Setyawan/Peliput: Sardi Duryatmo)

Previous articleParu-paru Dua Benua
Next articleLabaku dari Sungiku
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img