Tiga kale baru pas untuk bahan jus dan aneka olahan sayur.
Trubus — Ernawati memulai hari dengan mengonsumsi jus sayuran. Setiap pagi perempuan 37 tahun itu meneguk segelas jus sayuran untuk melancarkan metabolisme tubuhnya. Selain memperlancar pencernaan, kandungan serat dalam sayuran membuat kulitnya halus dan cerah. Sejak kecil perempuan asal Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, itu akrab dengan sayuran. Bedanya, “Dulu saya lebih suka makan sayur sebagai lalap,” kata Erna.
Sayuran yang ia konsumsi setiap pagi itu adalah kale. Ia memilih sayuran itu lantaran kaya serat dan mempunyai vitamin lengkap. Ahli gizi di Rumah Sakit Atmajaya, Penjaringan, Jakarta Utara, dr. Nanny Djaja, M.S. Sp.GK, mengatakan kale mengandung betakaroten (provitamin A), zeaxantin, asam folat, zat besi, mangan, magnesium, fosfor, natrium, kalium, dan seng. Sayuran eksotis itu juga menyimpan vitamin B1, B2, B3, B6, C, D, E, dan K.
Multikhasiat

di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah.
Dengan kandungan gizi yang lengkap kale dapat mencegah anemia, menjaga kesehatan jantung, dan mencegah katarak dini. Nanny Djaja menganjurkan konsumsi sayuran segar karena kandungan enzim, vitamin, dan nutrisinya utuh. Gerai pasar modern tempat Ernawati berbelanja menyediakan beberapa jenis kale yang “umum”. Jenis-jenis itu antara lain scarlet, nero de toscana, atau curly dwarf.
Kale-kale itu renyah dengan serat yang terasa di lidah sehingga sejatinya lebih pas untuk konsumsi utuh. Untuk membuat jus, ada jenis yang lebih cocok seperti red russian, winter red, atau siberian. Sayang, ketiga kale bertekstur halus itu masih langka. Petani di Indonesia jarang membudidayakannya. Itu sebabnya seorang pekebun di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Shofyan Adi Cahyono menanam 3 jenis kale baru itu.
Shofyan menanam jenis itu setahun terakhir lantaran masih langka yang mengusahakan. Batang, tangkai, dan tulang daun red russian merah keunguan mencolok. Daun berwarna hijau tua berbentuk datar, melebar dengan tepi bertipe toreh atau lekukan bercangap (fissus)—toreh setengah dari panjang tulang daun di kanan dan kirinya. Sepanjang tepi daun berwarna keunguan.

Daun tanaman kerabat kubis itu dapat berkembang hingga berukuran panjang 40 cm dan lebar 20 cm. Saat kita merabanya tekstur lembut dan lentur. Dengan budidaya yang baik, red russian mampu tumbuh hingga 90 cm. Jenis lain, kale winter red, memiliki ciri hampir sama dengan red russian. Batang, tangkai, dan tulang daun merah keunguan sedangkan daun hijau tua.
Adapun perbedaan winter red dengan red russian adalah toreh daun yang berbagi (partitus), yaitu panjang torehan lebih dari setengah panjang tulang daun di kanan dan kiri. Perbedaan itu menyebabkan daun winter red sepintas tampak lebih “langsing” daripada red russian. Permukaan daun winter red bergelombang mengeriting dan memiliki garis ungu di sepanjang tepi daun.
Budidaya organik

Jenis ketiga, siberian, memiliki batang, tangkai, dan tulang daun hijau muda dengan daun berwarna hijau tua. Tepi daun bergerigi ganda atau rangkap (biserratus) yaitu bergerigi tetapi lekuk utamanya lebar. Permukaan daun rata dengan sedikit tekstur bergelombang dan permukaan lebar. Menurut Shofyan tekstur ketiga kale itu halus, lunak, dan mempunyai kandungan air lebih banyak.
Banyaknya kandungan air menyebabkan teksturnya tidak terlalu renyah sehingga cocok untuk jus, smoothies, atau salad. Dibandingkan dengan jenis terdahulu, kale-kale baru itu memiliki warna dan bentuk menarik dengan rasa agak manis menyerupai bayam. Sofyan menyatakan bahwa red russian dan winter red mengandung antosianin dan xantofil, sedangkan siberian mengandung klorofil yang berkhasiat antioksidan.
Kale baru itu relatif tahan hama atau penyakit embun tepung, tapi rentan terhadap penyakit akar gada. Cendawan tular tanah Plasmodiophora brassicae itu memang musuh utama tanaman kubis-kubisan. Shofyan membudidayakan kale baru itu secara organik. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga itu memberikan pupuk kandang sapi terfermentasi. Ia menambahkan kapur pertanian ke tanah untuk meningkatkan keasaman hingga pH 6—7.

“Jika terlalu asam, tanaman rentan serangan penyakit akar gada,” katanya. Untuk menanggulangi hama, ia menyemprotkan pestisida hayati dan pestisida nabati setiap minggu. Jika curah hujan dan sinar matahari tepat, kale baru itu panen pertama 30 hari setelah tanam. Tanaman mampu berproduksi selama 3 bulan dan menghasilkan total lebih dari 2 kg kale segar per tanaman.
Pria kelahiran 1995 itu menggunakan rumah tanam tipe terowongan atau tunnel berbahan plastik untuk menanam ketiga jenis kale itu. Sebab, curah hujan di dataran tinggi Kopeng relatif tinggi. Rumah tanam berfungsi untuk melindungi tanaman anggota famili Brassicaceae itu. Meski menyehatkan, sebaiknya penikmat kale tidak mengonsumsi berlebih sayur kerabat kubis itu.
Sebab, kandungan oksalat pada sayuran kale relatif tinggi berpotensi memicu batu ginjal. Nanny Djaja menyarankan agar penderita gangguan kelenjar tiroid dan batu ginjal sebaiknya menghindari sayuran itu. Penderita radang usus atau diare sebaiknya mengonsumsi kale yang dimasak agar terhindar dari risiko infeksi bakteri. (Muhammad Awaluddin)
