Saturday, January 24, 2026

Pasar Cabai: Menjaga Harga, Mencegah Inflasi

Rekomendasi
- Advertisement -

Cabai merupakan komoditas penting dalam kuliner Indonesia. Hampir semua masakan bercita rasa pedas—seperti rendang, rawon, pecel, dendeng, hingga rica-rica—menggunakan cabai. Tingginya konsumsi menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi cabai terbesar setelah Tiongkok dan India.

Cabai termasuk komoditas sayuran strategis yang kerap memicu inflasi. Harga cabai berfluktuasi tajam hampir setiap bulan akibat pengaruh cuaca, musim panen, dan momentum tertentu. Permintaan cabai biasanya melonjak pada bulan Syakban, Ramadan, dan Syawal. Ketika permintaan tinggi tidak diimbangi pasokan memadai, harga pun melambung.

Distribusi hasil panen dari pekebun ke konsumen akhir juga belum efisien. Biaya transportasi dari daerah sentra ke daerah non-sentra turut memengaruhi tingginya harga di pasar.

Pengamat agribisnis Soekam Parwadi menuturkan bahwa masyarakat Indonesia sangat bergantung pada cabai segar. “Cabai tidak bisa digantikan oleh komoditas lain. Berapa pun harganya, masyarakat tetap membeli,” ujarnya. Sebaliknya, saat pasokan melimpah, konsumsi tidak meningkat signifikan karena daya serap pasar terbatas.

Menurut Soekam, pemangku kebijakan perlu memahami peta kebutuhan cabai di pasar. Sebagai contoh, kebutuhan cabai rawit di wilayah Jabodetabek mencapai sekitar 145 ton per hari. Jika pasokan tersedia secara kontinu, harga cenderung stabil.

Pasar induk memegang peran penting sebagai pusat pengendali harga. Pedagang memantau pergerakan pasokan dari berbagai titik seperti Cibitung, Tanah Tinggi, hingga Kramat Jati. Oleh karena itu, kantong-kantong produksi cabai perlu diperluas. Lokasi kebun tidak harus berdekatan dengan pasar tujuan, asalkan budi daya dan sistem transportasi dilakukan secara efisien.

Tantangan Produksi

Dalam perniagaan cabai, hukum ekonomi tetap berlaku. Ketika permintaan lebih tinggi dibandingkan produksi, harga akan naik. Di sisi lain, sistem budi daya cabai di berbagai daerah belum seragam. Sebagian pekebun masih bertahan dengan cara konvensional, sementara lainnya mulai menerapkan teknologi modern.

Produksi cabai di sentra kerap menurun saat musim kemarau, terutama di dataran tinggi dan lahan tadah hujan. Selain itu, serangan virus kuning menjadi ancaman serius yang dapat menyebabkan gagal panen.

Direktur Pemasaran PT Tunas Agro Persada, Cipto Legowo, menyebut virus kuning sebagai momok utama pekebun cabai. Menurutnya, pemilihan varietas unggul yang tahan virus menjadi langkah awal untuk mengamankan produksi.

“Indonesia merupakan negara tropis sehingga siklus hidup organisme pengganggu tanaman berlangsung sepanjang tahun,” kata Cipto. Berbeda dengan negara subtropis yang memiliki musim dingin sehingga siklus OPT dapat terputus, di Indonesia tanaman cabai selalu berada pada berbagai fase pertumbuhan. Kondisi tersebut membuat pengendalian penyakit menjadi tantangan tersendiri bagi pekebun.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img