
Trubus — Itik pedaging salah satu komoditas yang terus dikembangkan di Indonesia. Alasannya konsumen daging itik makin meningkat. Peternakan itik pedaging pun mampu mengangkat ekonomi masyarakat. Perkembangan budidaya itik pedaging di Indonesia cenderung meningkat. Buktinya populasi itik bertambah setiap tahun. Berdasarkan data statistik peternakan 2018 tercatat peningkatan populasi itik 13,19% setara 3,16% per tahun pada 2014—2018 (Lihat Tabel Populasi Itik Nasional).
Meningkatnya populasi itik setiap tahun mengindikasikan peningkatan jumlah peternak. Data Sensus Pertanian 2013 mengungkapkan terdapat 786.680 rumah tangga usaha peternakan itik se-Indonesia. Rumah tangga pemelihara itik tertinggi berada di Jawa Tengah sebesar 168.217 rumah tangga, Jawa Timur (105.050 rumah tangga), Jawa Barat (81.852 rumah tangga), dan Aceh (48.478 rumah tangga).
Berkembang
Provinsi terbanyak untuk pengembangan itik yaitu Jawa Barat sebanyak 10,5 juta ekor, Sulawesi Selatan (6,2 juta ekor), Jawa Timur (5,6 juta ekor), Jawa Tengah (5,2 juta ekor), dan Kalimantan Selatan (4,2 juta ekor) berdasarkan data 2018. Banyak faktor yang mempengaruhi berkembangnya usaha itik pedaging di masyarakat seperti budidaya yang relatif mudah. Musababnya itik lebih tahan terhadap stres lingkungan.
Keunggulan lain itik pedaging yakni tahan terhadap penyakit serta tidak banyak menggunakan vaksin dan obat-obatan sehingga biaya produksi lebih efisien. Besarnya peluang pasar pun berandil besar dalam pengembangan usaha itik pedaging di Indonesia. Kualitas daging itik lebih mirip ayam kampung dan lebih gurih. Berkembangnya restoran dengan menu itik juga salah satu indikator tumbuhnya pasar itik pedaging.

Kini masyarakat pun mudah mendapatkan karkas itik di pasar-pasar modern. Itu menunjukkan minat masyarakat terhadap daging itik makin meningkat. Selain itu, realisasi impor bibit parent stock (PS) itik peking bertambah saban tahun. Pembibit memerlukan itik peking sebagai induk penghasil itik pedaging unggul. Indonesia mengimpor 105.084 itik peking pada 2018.
Jumlah itu 2 kali lipat dibandingkan dengan impor pada 2017 yang mencapai 52.000 itik peking. Kini sudah terbentuk peternakan itik pedaging berbasis kompartemen. Ada satu perusahaan yang mendapatkan sertifikat kompartemen bebas avian influenza (AI). Kompartemen bebas AI pada peternakan itik bakal terus dipacu. Harapannya pertumbuhan peternakan itik makin maju dan memberikan kesejahteraan.
Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) juga bisa digunakan untuk pengembangan itik. Upaya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, demi terwujudnya pengembangan itik pedaging yang lebih baik yaitu terdapat 15 rumpun itik sebagai sumber daya genetik di Indonesia. Jenis itik pedaging yang layak dikembangkan yakni PMp, serati, dan gunsi 888.
Itik unggulan
Itik PMp lahir dari persilangan peking dan mojosari. Keunggulan itik PMp antara lain berbobot 2 kg pada umur 10 pekan dengan feed conversion ratio (FCR) atau rasio konversi pakan 4,29. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging diperlukan 4,29 kg pakan. Itik serati berasal dari persilangan entok dan itik yang bobotnya 2,2—2,5 kg ketika berumur 10 pekan. Kelebihan lain itik serati adalah tahan penyakit, mortalitas rendah, berkarkas 63,23%.

Dengan kata lain peternak mendapatkan 1,3 kg karkas dari itik serati berbobot 2,2 kg. Sementara keunggulan itik gunsi 888 antara lain berbobot 1,7 kg ketika berumur 35 hari, berdaya tahan tubuh tinggi, bobot karkas 70% dari bobot hidup, dan pemeliharaan tanpa air. Gunsi 888 merupakan persilangan antara peking dan khaki campbell.
Budidaya itik pedaging masih bagus hingga 2025 lantaran meningkatnya jumlah penduduk, tumbuhnya pariwisata, dan beragamnya jenis masakan berbahan baku itik pedaging.
Tantangan pengembangan itik pedaging adalah pola budidaya yang masih tradisional. Solusinya harus dikembangkan industri peternakan itik pedaging yang bebas penyakit. Kemudian terus dilakukan seleksi dan penelitian untuk mendapatkan jenis itik dengan pertumbuhan paling cepat dan FCR paling rendah.***
*) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian
