Trubus.id—Pekebun kakao di Desa Padang Kamburi, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, H. Amsi menanam kakao BB1. “Dari 2003 saya menanam kakao, hanya kakao varietas BB1 yang paling bagus dibandingkan dengan klon lainnya,” kata Amsi.
Ia memanen 2—2,5 kg biji kakao kering per tanaman per tahun. Sementara kakao klon lain hanya menghasilkan 1,5 kg biji kakao kering/tanaman/tahun. Bahkan ada yang hanya 1 kg biji kakao kering.
Varietas Kakao BB1 kian mendongkrak pendapatan Amsi hingga dua kali lipat lebih banyak daripada pekebun kakao lainnya. Tak hanya itu, ukuran dan karakter biji kakao BB1 juga istimewa.
Bobot biji kering Theobroma cacao itu lebih dari 1 gram per biji plus bagian dalamnya tidak kempis saat kering. “Biji dari kakao klon lain saat masih basah bulat besar, tetapi kalau kering kempis. BB1 tetap berisi alias tidak kempis,” tutur Amsi.
Ia pun mengembangkan 1.500 tanamn kakao BB1 di lahan 3 hektare bersama klon lain. Harap mafhum penanaman BB1 harus secara poliklonal agar hasil panen maksimal. Total jenderal ia menanam 2.000 tanaman kakao.
Umur kakao BB1 Amsi beragam mulai dari sebulan, tiga tahun, hingga tujuh tahun. Kakao BB1 mulai panen saat tanaman berumur 1,5 tahun setelah tanam. “Puncaknya umur 3 tahun. Saat itu produktivitasnya sudah stabil yakni 2—2,5 kg biji kakao kering per tanaman per tahun,” kata Amsi.
Ia memanen kakao dua pekan sekali karena BB1 berbuah terus menerus. Panen raya kakao BB1 dua kali setahun pada Juni dan Desember, sedangkan panen rutin dua pekan sekali. Kakao BBI 1 itu varietas baru yang dilepas pada Oktober 2023. Baca juga Varietas Baru Kakao BBI Berproduktivitas Tinggi Mencapai 3 Ton Biji Kering Per Hektare.
