Setiap pekan, Gede Suartama memanen sedikitnya 30 kg biji kakao dari kebunnya di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Bahkan pada pekan keempat November 2025, pendapatannya mencapai Rp8 juta—angka yang tak pernah ia bayangkan saat masih bekerja serabutan. Kenaikan pendapatan itu tidak lepas dari kualitas biji kakao fermentasi yang ia hasilkan.
Biji kakao fermentasi milik Gede terserap oleh Cau Chocolates, perusahaan pengolahan kakao di Kabupaten Tabanan yang berani membeli dengan harga Rp100.000 per kg. Bandingkan dengan harga tengkulak yang hanya sekitar Rp59.000 per kg. Kepastian pasar dan harga premium membuat kakao menjadi sumber utama penghasilan Gede sejak 2019.
CEO Cau Chocolates, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengungkapkan bahwa perusahaan kini tengah memperluas kapasitas produksi. Dari semula 300–500 kg per hari, fasilitas baru sedang dibangun dengan kapasitas hingga 2 ton per hari. Ekspansi itu untuk memenuhi permintaan yang meningkat, sekaligus memperkuat pasar ekspor yang telah menjangkau Singapura, Malaysia, Qatar, Polandia, dan Australia sejak 2021.
Target mereka cukup ambisius: pada 2026, 50% omzet perusahaan berasal dari ekspor. Saat ini kontribusi ekspor baru sekitar 5%. Namun, keberhasilan Cau Chocolates menunjukkan bahwa kakao fermentasi Bali mampu bersaing di pasar global.
Ketua Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, mengatakan bahwa peluang kakao nasional sangat besar. Indonesia memiliki iklim ideal, lahan luas, klon unggul seperti Sulawesi 1 dan ICCRI series, serta industri pengolahan kakao terbesar ketiga di dunia. Beberapa daerah bahkan mulai dikenal sebagai produsen kakao premium.
Di balik peluang itu, tantangan tetap membayangi. Areal dan produksi nasional turun akibat tanaman tua dan minim regenerasi petani. Lebih dari 80% produksi masih nonfermentasi, sehingga nilainya rendah di pasar dunia. Regulasi mutu internasional, termasuk standar residu dan aturan deforestasi Uni Eropa (EUDR), juga menambah beban.
Selain itu, data produksi belum seragam: data resmi menyebut 600.000 ton, sementara ICCO memperkirakan hanya 180.000–200.000 ton. Meski demikian, kisah Gede membuktikan bahwa dengan pendampingan teknis, fermentasi yang benar, dan akses pasar yang adil, kakao mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya hilirisasi dan ekspansi pelaku industri seperti Cau Chocolates menjadi bukti bahwa kakao masih menyimpan peluang emas.
