Pamor avokad melonjak seiring gaya hidup sehat masyarakat. Peluang bisnis mengebunkan avokad terbuka.
Masyarakat belum melirik avokad, ketika Budi Sutrisno mengebunkan 1.000 bibit pada 2014 di lahan 5 hektare. Sebanyak 600 pohon di antaranya jenis miki yang magori atau panen perdana pada 2018. Aumnus The University of New South Wales, Sydney, Australia itu rutin menuai buah avokad dua kali setahun, Oktober—November dan April. Petani avokad di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menuai 100—150 kg per pohon setaip kali panen.
Budi mengatakan, ukuran 3 buah per kg (kelas B) mendominasi hasil panen mencapai 65%. Selanjutnya ukuran 2 buah per kg (15%, kelas A), 4 buah per kg (5—10%, kelas C) dan yang tidak layak jual (5—10%). Konsumen paling meminati ukuran 3 buah per kg. Budi membanderol avokad kelas A Rp60.00—Rp65.000 per kg, kelas B Rp50.000—Rp55.000, dan kelas C Rp30.000 per kg.
Penanaman meluas
Pengelompokan menjadi kunci utama meningkatkan harga jual avokad miki. Pekebun avokad miki di Desa Sidorejo, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Endang Dwi Setiorini, juga menempuh cara yang sama. Perempuan petani berumur 45 tahun itu memiliki kebun avokad 0,3 hektare berpopulasi 60 pohon sejak tahun 2014. Ia panen perdana pada 2017. Pada 2020 merupakan panen kali ketiga.

Ririn, sapaan Dwi Setiorini, sempat menerapkan pengkelasan pada awal panen. bobot buah 300—400 g harga Rp30.000, 400—500 g (Rp40.000), dan lebih dari 500 g (Rp50.000 per kg). Sayangnya itu hanya berlangsung 2 kali panen awal karena sudah tidak sempat menyortir buah lantaran terlalu banyak buahnya. “Kalau tidak dikelompokkan, berbagai ukuran besar-kecil tercampur, harganya Rp25.000 per kg,” kata Ririn.
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jember itu panen miki dua kali pada Desember—Januari dan Juli—Agustus setiap tahun. Setiap panen ia memetik setidaknya 40 kg per pohon. Itu berarti potensi panen 2,4 ton per musim atau 4,5 ton per tahun. Ririn melayani pembelian minimal 10 kg, rata-rata pembeli membeli minimal 50—100 kg dan Ririn bisa melayani hingga 10 pembeli—mayoritas pedagang buah di Jakarta.
Tiga tahun terakhir makin banyak pekebun yang menanam avokad miki. Pemicunya miki adaptif di dataran rendah. Semula avokad identik dengan dataran menengah-tinggi. Selain itu avokad miki juga sesuai dengan preferensi konsumen, daging buah kuning mentereng, gurih, dan manis.

Budidaya avokad miki itu bukan hanya di Jawa. Di Kelurahan Lubukbinjai, Kecamatan Lubuklinggau Selatan 2, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, Teguh Winata, mengebunkan 150 bibit pada 2018. Pada awal 2020, miki berumur 2,5 tahun magori atau panen perdana. Teguh memetik 10 kg per pohon pada panen pertama dan meningkat pada panen kedua menjadi 25 kg per pohon.

Keseluruhan panen per November 2020 masih kurang dari 100 kg lantaran banyak tanaman yang masih tahap berbunga. Panen pada Januari—April dan Oktober. Harga buah miki berukuran 2—3 buah per kg Rp35.000—Rp40.000. Ia sampai membatasi permintaan 10 kg per orang dan sistem inden sebulan sekali. Harap mafhum, permintaan amat banyak. Polisi itu hanya mampu memenuhi 30% dari permintaan.
Teguh hanya menjual buah dengan tingkat kematangan tua dan sesuai dengan jarak konsumen, buah mulus, dan tidak ada serangan lalat buah. Serangan lalat buah membuat pekebun avokad frustasi. Serangga anggota keluarga Tephritidae itu acap kali mencuri laba petani. Meski demikian petani kini dapat mengendalikannya (lihat: Banyak Cara Atasi Lalat Buah halaman 18—19).
Avokad introduksi
Pekebun lain, Zekky Bachri, memilih avokad introduksi seperti hass yang berkulit keras dan kasar—disebut ras guatemala atau meksiko. Permukaan kulit keras mempersulit lalat buah menusukkan ovipositor untuk meletakkan telur di buah avokad. Zekky mengebunkan avokad hass di Ciapus, Kabupaten Bogor. Alumnus Fisika Universitas Indonesia itu memperoleh sambung pucuk hass dari sebuah perkebunan di Vietnam.
Ia melakukan sambung pucuk atau top working hass dengan pohon-pohon lokal yang telah ditanamnya sejak 2017. Di kebun koleksinya seluas 2 ha itu ada 30 pohon hass di antara berbagai jenis avokad lainnya. Masih ada berbagai jenis avokad berkulit tipis hijau di kebunnya. Ia membandingkan tingkat serangan lalat buah pada avokad hass hingga 0%, sedangkan pada avokad kulit tipis atau ras india barat mencapai 40%. Itu tampak dari daging buah hass yang mulus, tidak ada bekas lubang tusukan apalagi larva lalat buah.

Zekky mengatakan, hass baru matang 20 hari pascapetik. Apabila diberikan perlakuan penyimpanan dingin atau cold storage pada suhu 6—7ºC hass tahan hingga 6 pekan. Hass pun varietas avokad dunia, artinya dunia menggemari avokad hass. “Dari seluruh jenis avokad, total perdagangan global avokad hass mencapai 50%,” kata pekebun berumur 50 tahun itu. Hass untuk konsumsi sehari-hari untuk dioleskan pada roti bak mentega.

Saat ini Zekky juga bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara 8 menanam 1.800 pohon hass di lahan 5 ha di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Penanaman lain, 1.600 top working hass di Gunung Mas, Kabupaten Bogor, pada 2018. Avokad introduksi itu berpotensi mengisi pasar dunia yang menjanjikan. Namun, pasar lokal pun belum terpenuhi permintaannya.
Pekebun avokad, Benyamin Yogaswara, meriset permintaan avokad di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Hasil menunjukkan permintaan Jabodetabek belum 100% dapat dipenuhi oleh para pekebun. Berdasarkan Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura tahun 2016, produksi avokad di Indonesia pada 2018 sebesar 410.094 ton. Jumlah itu meningkat dari tahun sebelumnya (2017) 12,92%.
Selain itu, nilai ekspor buah avokad pada 2018 sebesar US$172.393 dengan volume 205,5 kg. Menurut pengusaha tanaman buah di Cijantung, Jakarta Timur, Eddy Soesanto, jenis avokad yang paling banyak ditanam di Indonesia adalah miki di dataran rendah dan hass untuk dataran tinggi.
Meskipun begitu, masih banyak avokad-avokad lokal lain yang masih cukup banyak ditanam oleh para pekebun skala kecil, ataupun pohon rumahan seperti kendil, aligator, peluang, dan wina. Avokad lokal itu memiliki pangsa pasar tersendiri. Salah satu pekebun avokad varietas-varietas lokal yaitu Agung Tri Wibawa, S.Pt. Sejak 2013 Agung menanam varietas-varietas lokal unggulan seperti kendil, peluang, bullfrog, dan wina.
Populasi terbanyak varietas kendil di lahan 5 ha tersebar di berbagai daerah yaitu Blitar (200 pohon) dan Magelang (120 pohon). Konsumen menyukai kendil karena berukuran besar dan daging kuning mentega. Cita rasa kendil cukup pas di lidah masyarakat Indonesia yang menyukai manis. Produktivitas kendil mencapai 100 kg per pohon dengan ukuran buah 0,8—2 kg per buah.
Ia rutin memetik sejak tahun 2016. Pemilik Kebun Buah Nusantara itu mengatakan, avokad lokal pun habis di kebun, bahkan memiliki daftar tunggu sebelum buah matang. Harga avokad lokal fluktuatif sepanjang tahun dengan rataan kisaran Rp20.000—Rp30.000/kg.

Agung memastikan avokad lokal itu memiliki identitas jelas dan keseragaman tinggi. Alumnus Universitas Diponegoro itu pernah menjual avokad lokal berkonsep siap santap atau ready to eat. Buah matang sempurna, konsumen tinggal mengupas dan melahap. Selama 6 bulan Agung berjualan avokad siap santap, respons konsumen sangat bagus. Meski harga lebih mahal Rp30.000—Rp35.000 per kg, konsumen puas karena mutu avokad terjamin.
Kuliner avokad
Makin meluasnya perkebunan avokad menyebabkan permintaan bibit juga besar. Penangkar bibit avokad miki di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahmad Fahrizal, mengatakan, “Saya mulai merasakan peningkatan permintaan bibit untuk kebun sejak 2016. Sebelumnya sejak saya memulai pembibitan pada 2014 permintaan sebulan hanya 100—200 bibit,” kata Fahrizal. Namun, sejak 2016 permintaan hingga 500—1.000 bibit per bulan. Bahkan, sejak pandemi Maret 2020—November 2020 permintaan melonjak. Selama 9 bulan itu ia memproduksi 10.000 bibit yang terserap pasar.
Penangkar bibit berusia 32 tahun itu mengeola kebun pembibitan seluar 1.000 m2. Ia mampu memproduksi 2.000 bibit per bulan. Bandingkan dengan permintaan yang datang hingga 6.000 bibit per bulan. Permintaan pun datang tak hanya dari pulau Jawa, tetapi juga dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Banyak pekebun mengatakan permintaan avokad melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya antara lain gaya hidup sehat, penerapan ketofatosis untuk menjaga bobot tubuh, serta kesadaran masyarakat akan kesehatan yang kian tinggi. Bukan hanya di hulu, bahkan permintaan di hilir berupa lahan avokad pu melonjak. Irnawati menyediakan avokad kocok bermerek Radja Pokat sejak 2018.

Irnawati pelopor kuliner es avokad kocok di Purbalingga, Jawa Tengah. Dua bulan Irna menjalankan bisnisnya harga avokad kocok masih Rp5.000 per gelas. Namun, semakin lama pelanggan semakin banyak sehingga kini harga per gelas es avokad kocok Irna Rp25.000.
Dari satu gerai es avokad kocok kini tumbuh menjadi tiga kedai tersebar di Kota Purbalingga. Masyarakat makin gandrung kuliner es avokad kocok Irna lantaran penampilannya yang indah dan fotogenik, yang menarik anak muda. Avokadnya pun padat dah penuh yang menggugah selera para pembeli. Dalam sehari tiap gerai menghabiskan 50 kg avokad dan menjual 100 gelas.
Sayangnya selama pandemi 2020 penjualan Irna menurun. Gerai Irna berkurang menjadi 2 dengan kebutuhan avokad 20—30 kg per gerai dan terjual 50 gelas per gerai. Irna bekerja sama dengan pemasok karena kebutuhan yang besar. Syarat avokad yang layak jenis mentega, tanpa pahit, dan warna daging buah kuning menggoda. Perempuan berumur 29 tahun itu mengatakan, avokad mentega dari Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memenuhi syarat itu.
“Banyak yang tadinya tidak suka ataupun tidak pernah makan avokad, ketika mencoba avokad kocok kami pun jadi suka dengan avokad,” kata Irna. Produk olahan es avokad kocok menjadi alat perkenalan kepada masyarakat untuk menyukai avokad. (Tamara Yunike)
