Hanya butuh waktu sejam untuk menggiling 6 ton gabah
Trubus.id—Mesin penggiling gabah itu bekerja sangat cepat karena menggiling 6 ton gabah kering per jam. Mesin penggilingan padi itu merupakan salah satu rangkaian infrastruktur modern milik Sentra Penggilingan Padi (SPP) milik Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.

Instalasi lainnya berupa mesin pengering berkapasitas 120 ton gabah kering panen (GKP) per hari. Ada pula silo yang memiliki kapasitas 2.000 ton gabah kering giling (GKG). Bulog mengoperasikan 3 silo sehingga mampu menampung 6.000 ton GKG.

Selain itu, ada juga mixer dan color shorter. Kegunaan mixer menghasilkan berbagai jenis kualitas beras premium, sedangkan color shorter untuk mendapatkan beras yang putih dan bersih sesuai preferensi konsumen. Setiap hari SPP Karawang memproduksi 50 ton beras premium.

Otomatis
Menurut Manajer Operasi SPP Karawang, Triyadi, S.P., semua mesin bekerja secara otomatis dan dioperasikan dalam ruang kontrol. Bahan bakar penggerak mesin utama menggunakan tenaga listrik. Sementara pengeringan menggunakan bahan baku sekam yang didapat dari penggilingan gabah.
Penggunaan listrik sebagai bahan bakar penggerak dan sekam hasil penggilingan padi sebagai bahan bakar pengeringan menjadi bukti kontribusi Bulog dalam upaya pemakaian bahan bakar ramah lingkungan. Sekam pun terbakar sempurna.
Abu sekam yang dihasilkan dari pembakaran lantas dibagikan gratis kepada petani untuk dimanfaatkan sebagai pupuk. Volume abu sekam yang didapat mencapai 1—2 ton setiap hari. Petani cukup datang ke SPP membawa kendaraan lantas mengambil abu sekam yang tersedia.
Bulog memanfaatkan teknologi ramah lingkungan sehingga tidak menyebabkan polusi udara dari aktivitas produksi. Triyadi menuturkan, SPP Karawang memperoleh gabah dari petani atau kelompok tani maupun gabungan kelompok tani, serta mitra maupun pemasok (supplier) dari wilayah Karawang dan sentra produsen gabah atau beras di Pulau Jawa dan Provinsi Lampung.
Petugas menganalisis gabah yang dipasok sesuai standar yakni maksimal mengandung 25% kadar air dan 10% gabah hampa. Petugas lantas menimbang dan memasukkan gabah ke dalam mesin prapembersih. Tujuannya memisahkan gabah dari kotoran yang terbawa dari sawah.
Selanjutnya gabah masuk ke dalam mesin paddy cleaning untuk membersihkan gabah dari bendabenda asing berukuran kecil sehingga benar-benar bersih. Kemudian gabah masuk ke dalam mesin pengering selama 16—18 jam untuk menurunkan kadar air hingga 14%.
Setelah itu petugas menyimpan gabah dalam silo atau langsung menggilingnya. Gabah harus masuk ke dalam mesin pre cleaner lalu destoner untuk memastikan kebersihan gabah dari kontaminan sebelum digiling.
Berikutnya gabah masuk ke dalam mesin husker untuk memisahkan beras dari kulitnya. Beras yang keluar dari husker sering disebut dengan beras pecah kulit.
Beras pecah kulit itu lantas masuk ke dalam mesin polisher lalu mesin color sorter. Tujuannya memisahkan beras berdasarkan warna sehingga menghasilkan beras dengan kualitas premium yakni putih, seragam, dan bersih.


SPP Karawang memproduksi sekitar 50 ton beras premium setiap hari. Beras dibanderol dengan harga Rp13.500–Rp13.800 per kg dengan harga eceran tertinggi (HET) pemerintah Rp14.900 per kg.

Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, S.E., M.M., menuturkan, Bulog mendapatkan mandat Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk pembangunan infrastruktur pada 2016. Bermula dari PMN itu terbangun 10 SPP dan 7 sentra penggilingan beras.
Bulog melakukan pengembangan 2 bisnis inti dengan pembangunan infrastruktur itu. Bisnis inti yang dijalankan yakni Public Service Obligation (PSO) dan komersial. Keduanya menjadi bagian dari transformasi Bulog yang tengah dijalankan.

Kepastian
Lokasi SPP di kawasan produsen beras untuk mendekatkan diri dengan petani sehingga Bulog dapat menyerap GKP untuk diolah menjadi beras. Bulog mengoperasikan 10 SPP yang tersebar di Jawa Barat (Karawang dan Subang), Jawa Tengah (Kendal dan Sragen), Jawa Timur (Magetan, Bojonegoro, Jember, dan Banyuwangi), Sumatra (Lampung), dan Nusa Tenggara Barat (Sumbawa).

Bulog telah membuat analisis kajian untuk semakin mendekatkan diri ke kawasan produsen. Hal itu sudah menjadi target Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP). Bulog senantiasa mengevaluasi lantaran saat ini SPP tengah berjalan.
Di masa depan Bulog akan membangun sentra penggilingan padi yang serupa supaya petani mudah menjual hasil panen ke pabrik beras modern. Febby menuturkan, SPP memproduksi beras premium seperti BeFood, Punokawan, dan Candi Mulyo yang telah tersedia di 15 retail modern di seluruh Indonesia.
Harga ecer tertinggi (HET) untuk wilayah Jawa dan sekitarnya tidak boleh lebih dari Rp14.900 per kg. Pada musim tanam (MT) I 2024, SPP menyerap 50.000 ton gabah. Harapannya pada MT II volume gabah yang diserap lebih banyak.
Bulog membuka peluang kerja sama dengan petani maupun kelompok tani untuk memasok gabah ke SPP. Total jenderal Bulog bekerja sama dengan 500 pemasok yang tersebar di sekitar SPP hingga Juni 2024.
Bulog juga memiliki Project Management Office (PMO) mitra tani yang menyosialisasikan kepada petani bahwa Bulog siap menjadi penerima hasil produksi (off taker). Dengan begitu petani dapat fokus menanam padi tanpa risau ke mana harus menjual hasil panen.

Saat panen raya, Bulog membeli hasil panen petani berdasarkan harga pembelian pemerintah (HPP). Sementara saat harga pasaran naik, maka Bulog membeli sesuai harga pasar. Selain mendapat kepastian tempat untuk menjual hasil panen, petani juga mendapatkan kepastian harga.
Bulog mengolah gabah terbaik dari petani dengan infrastruktur terbaik hingga menghasilkan beras terbaik yang siap dikonsumsi masyarakat. (Andari Titisari)
