Saturday, January 24, 2026

Penyuluhan Pertanian Berperspektif Gender Didorong Jadi Fondasi Pembangunan Inklusif

Rekomendasi
- Advertisement -

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Anna Fatchiya, menyoroti perlunya penyuluhan pertanian yang benar-benar memperhatikan aspek gender. Menurutnya, pendekatan yang lebih peka terhadap kebutuhan perempuan akan menentukan keberhasilan pembangunan pertanian dan wilayah pedesaan yang inklusif.

Ia menjelaskan, perempuan memegang peranan besar dalam sistem pangan nasional, namun kontribusinya masih kurang terlihat. Dari jutaan petani di Indonesia, sekitar 4,2 juta di antaranya adalah perempuan—kelompok yang hingga kini masih terkendala akses, kendali, dan kesempatan berusaha.

Melansir pada laman IPB University, Prof Anna menilai bahwa pola penyuluhan saat ini masih didominasi cara pandang maskulin. Karena itu, model penyuluhan perlu dirancang ulang agar lebih ramah bagi perempuan, khususnya generasi muda, sekaligus memberi ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan aspirasi mereka.

Ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari pembenahan kelembagaan, baik di tingkat pimpinan maupun penyuluh lapangan, agar transformasi menuju penyuluhan responsif gender bisa berjalan lebih terarah.

Pendekatan yang sensitif gender, lanjutnya, dapat membangun rasa percaya diri perempuan muda. Banyak dari mereka tumbuh dalam budaya patriarki sehingga cenderung pasif atau mengalah ketika diminta menyampaikan pendapat.

Karena itu, Prof Anna mendorong adanya wadah khusus bagi perempuan untuk berdiskusi dan berlatih memimpin tanpa tekanan sosial. Forum perempuan, kelompok desa, dan organisasi lokal disebut berperan besar dalam memperkuat partisipasi serta kepemimpinan perempuan muda. Ruang yang bercampur, menurutnya, sering kali membuat suara perempuan tidak muncul.

Melihat karakter generasi Z, Prof Anna optimistis perempuan muda bisa menjadi penggerak inovasi pertanian. Kedekatan mereka dengan teknologi menjadi modal untuk mempercepat literasi gender sekaligus mendorong praktik pertanian modern dan pengembangan jejaring usaha.

Ia berpendapat bahwa teknologi dapat menjadi pintu masuk yang efektif—mulai dari film, media sosial, konten kreatif, hingga gim digital—untuk menyampaikan pesan kesetaraan gender secara relevan dan menarik bagi anak muda. Ia mencontohkan bagaimana drama Korea atau konten komedi di media digital kerap menyelipkan isu kesetaraan secara halus namun kuat dampaknya.

Prof Anna menutup dengan keyakinan bahwa peluang perempuan Gen Z untuk menjadi motor perubahan sangat besar. Teknologi, katanya, membuka ruang belajar yang tak dibatasi jarak ataupun identitas gender. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus mengembangkan diri dan memanfaatkan kemudahan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img