Trubus.id—Wirausaha muda di bidang pertanian berperan penting untuk pertanian Indonesia. Pasalnya saat ini 56% dari total penduduk Indonesia merupakan generasi muda. Ditambah juga adanya bonus demografi. Artinya keberadaan sumber tenaga kerja kebanyakan berasal dari anak muda.
Anak muda lekat dengan kreativitas dan perkembangan kemajuan teknologi. Sehingga, keberadaan generasi muda sangat berpengaruh terhadap perkembangan pertanian di Indonesia.
“Kami mengarahkan untuk bekerja di sektor pertanian. Kondisi sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian saat ini sebagian besar masuk kategori usia tua. Sebagian besar juga hanya berpendidikan sebatas sekolah dasar (SD),” ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P. saat wawancara di Gedung D, Kementerian Pertanian, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta.
Harapannya kehadiran generasi muda itu sebagai regenerasi supaya pertanian di Indonesia lebih maju. Menurut Idha anak-anak muda sangat dekat dengan teknologi. Adaptasi dengan inovasi baru cepat dilakukan. Kolaborasi dan kerja sama dengan stakeholder yang menguntungkan juga lebih leluasa untuk dijalankan.
Petani muda
Lalu, bagaimana tren petani muda saat ini? “Selama ini yang saya lihat ada tren positif yakni meningkat,” ujar Idha.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 dan Sensus Pertanian 2013—2023 untuk anak-anak muda berumur 17 tahun hingga 23 tahun yang bekerja di sektor pertanian meningkat.
Idha menuturkan bawah Kementerian Pertanian juga memiliki berbagai macam kegiatan untuk mendorong anak-anak muda agar memiliki pola pikir yang positif. Indikator lain yang mengindikasikan bahwa tren petani muda di Indonesia meningkat yakni dari nilai tambah sektor agribisnis yang juga meningkat.
“Saya melihat anak-anak muda melakukan diversifikasi produk. Tidak hanya pada sektor primer. Namun juga sektor sekunder dan tersier sehingga menghasilkan nilai tambah dari agribisnis,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa pengembangan itu biasanya dilakukan oleh anak-anak muda karena masih memiliki karakter yang aktif (energik). Mereka aktif menjalin kolaborasi, mencari kemitraan, menjalin kerja sama dengan stakeholder, dan melakukan contract farming.
Dari peningkatan nilai tambah itu otomatis kesejahteraan masyarakat juga meningkat. “Di sisi lain saya melihat akses pasar juga berkembang. Tidak hanya pasar domestik melainkan pasar ekspor juga,” ujar Idha.
