Saturday, January 17, 2026

Percepatan Adopsi Bioteknologi: Kunci Ketahanan Pangan Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, Indonesia berupaya keras mewujudkan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Untuk mendukung misi ini, Bayer, perusahaan global di bidang kesehatan dan pertanian, menggelar acara edukasi perdana bertajuk The Science Behind: Food Security. Bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bayer menekankan pentingnya percepatan adopsi bioteknologi, khususnya benih jagung bioteknologi, untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, Prof. Bambang Prasetya, menjelaskan bahwa bioteknologi menjadi jawaban strategis untuk mengatasi tantangan pertanian saat ini. “Bioteknologi membantu petani mengurangi risiko gagal panen akibat hama, penyakit, atau perubahan iklim. Teknologi ini juga meningkatkan efisiensi lahan yang semakin terbatas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia masih tertinggal 15-20 tahun dalam pemanfaatan benih bioteknologi dibandingkan negara tetangga. Dengan adopsi benih jagung bioteknologi, Indonesia berpeluang besar mencapai ketahanan pangan yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Inovasi Bayer

Kolaborasi antara BRIN dan Bayer menjadi langkah penting untuk mempercepat penerapan teknologi ini. “Kami bekerja sama dengan sektor swasta untuk memastikan teknologi ini aman, terjangkau, dan memberikan manfaat nyata bagi petani,” tambah Prof. Bambang.

Presiden Direktur Bayer Indonesia, Yuchen Li, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi pertanian Indonesia. “Tantangan pangan saat ini tidak bisa lagi diatasi dengan cara tradisional. Bioteknologi adalah solusi berbasis sains yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan,” katanya. Bayer, yang telah hadir di Indonesia selama 68 tahun, terus berinovasi untuk mendukung petani dan ketahanan pangan nasional.

Salah satu inovasi unggulan Bayer adalah benih jagung bioteknologi DK95R, yang diluncurkan pada 2023. Benih ini tahan terhadap herbisida, memungkinkan petani mengendalikan gulma tanpa merusak tanaman jagung. Hasilnya? Produktivitas meningkat hingga 30% dan biaya produksi lebih rendah, memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi petani.

Regulatory Science Manager Seed & Traits Bayer Indonesia, Woro Umayi Ananda, menjelaskan bahwa setiap produk bioteknologi Bayer melewati proses pengembangan yang ketat selama 12-16 tahun. “Kami memastikan semua produk memenuhi standar keamanan pangan, pakan, dan lingkungan yang tertinggi. Kolaborasi dengan BRIN dan pemangku kepentingan lainnya memastikan inovasi kami sesuai regulasi dan bermanfaat bagi petani lokal,” ungkapnya.

Bayer, bekerja sama dengan KADIN dan Kementerian Pertanian melalui ekosistem Better Life Farming (BLF), meluncurkan Program Penanaman 1000 Hektar Jagung Bioteknologi di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Aditia Rusmawan, Agriculture Affairs & LTO Lead Bayer Indonesia, memaparkan hasil luar biasa dari program ini. “Di lahan demonstrasi, benih jagung bioteknologi menghasilkan rata-rata 8,3 ton per hektar—hampir dua kali lipat dibandingkan varietas konvensional. Di beberapa lokasi di Sumbawa dan Dompu, hasil panen bahkan mencapai 13-15 ton per hektar,” jelasnya.

Menguntungkan petani

Program ini juga meningkatkan Return on Investment (ROI) petani melalui efisiensi pengendalian gulma dan produktivitas yang lebih tinggi. Dengan hasil panen yang jauh melebihi rata-rata nasional (4-5 ton per hektar), petani kini lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas dan memiliki kesejahteraan yang lebih baik.

Hamzan Wadi, salah satu dari 2.000 petani yang terlibat, berbagi pengalamannya: “Benih jagung bioteknologi meningkatkan hasil panen dan mengurangi biaya produksi. Saya juga punya lebih banyak waktu untuk keluarga karena pengelolaan lahan jadi lebih efisien. Hasil panen kami juga dijamin terserap oleh mitra seperti PT Seger Agro Nusantara.”

Keberhasilan program ini menunjukkan potensi besar bioteknologi dalam mentransformasi pertanian Indonesia. Melalui kemitraan lintas sektor, Bayer tidak hanya menyediakan teknologi, tetapi juga mendampingi petani dari proses penanaman hingga pasca-panen. Inisiatif ini menjadi model yang dapat direplikasi untuk mempercepat modernisasi pertanian di seluruh Indonesia. Acara The Science Behind: Food Security merupakan bagian dari seri The Science Behind: A Series of Bayer Media Classes, yang bertujuan meningkatkan literasi media tentang peran sains dalam pertanian dan kesehatan. Bayer berkomitmen membuka dialog ilmiah untuk mendukung solusi inovatif bagi tantangan global.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img