Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) menerima laporan dari para pekebun bawang merah di beberapa sentra utama, seperti Brebes, Tegal (Jawa Tengah), Kulonprogo (DIY), dan Nganjuk (Jawa Timur). Mereka mengeluhkan tanaman bawang merah (Allium cepa) yang menguning dan mengering seolah kekurangan air. Kondisi itu menimbulkan kerugian besar, mencapai lebih dari 60% pada tanaman berumur 35 hari, bahkan bisa 100% bila serangan terjadi lebih dini, pada umur 25 hari.

Kepala Klinik Tanaman IPB, Bonjok Istiaji, S.P., M.Si., mengungkapkan bahwa gejala tersebut di lapangan dikenal dengan sebutan gurem atau mreki, yang kemungkinan besar disebabkan oleh serangga trips. “Populasi trips sangat tinggi, lebih dari 100 ekor per rumpun bawang,” ujarnya. Gejalanya berupa daun yang menguning dan mengering seperti kekurangan air. Namun, tim ahli belum sepenuhnya yakin bahwa trips menjadi penyebab utama karena ada gejala lain yang tidak khas.
Menurut Bonjok, bisa jadi trips datang setelah tanaman rusak atau menjadi vektor bagi patogen seperti virus atau cendawan. Hal itu diperkuat oleh pernyataan Dr. Dra. Dewi Sartiami, M.Si., anggota tim ahli IPB, yang menyebutkan bahwa spesies trips yang ditemukan kali ini berbeda dari Thrips tabaci yang biasa menyerang bawang. Identifikasi lanjutan di laboratorium tengah dilakukan menggunakan analisis morfologi dan molekuler.
Di Brebes, pekebun juga melaporkan penyakit yang mereka sebut janda pirang, dengan gejala daun menguning serempak tanpa pembusukan umbi. Dugaan sementara, penyakit ini berhubungan dengan hama gurem karena sama-sama ditemukan populasi trips tinggi pada tanaman muda berumur sekitar 25 hari. Serangan pada fase ini menyebabkan puso atau gagal panen total.
Bonjok menjelaskan, “Penyakit pirang dan gurem adalah satu kesatuan. Penyakit pirang mengacu pada kematian cepat dengan gejala daun mengering, sedangkan gurem adalah sebutan untuk serangga kecil yang beterbangan saat tanaman diusik.” Berdasarkan penelitian sementara, penyakit ini dipicu oleh kombinasi tiga faktor: virus Iris yellow spot virus (IYSV), hama Thrips tabaci sebagai penyebar, dan cuaca panas kering yang memperparah serangan.
