Permintaan Tinggi Entok Jumbo Nogorodjo

Rekomendasi

Trubus.id — Entok jumbo nogorodjo menjadi salah satu entok unggul yang dimiliki Eko Setyo Prayitno, peternak di Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Entok nogorodjo berpostur besar dengan pertumbuhan sangat cepat. Keunggulan itu membuat permintaan anakan entok jumbo nogorodjo tinggi.

Janoko—sapaan karib Eko—mengembangkan entok jumbo nogorodjo sejak 2019. Sebelumnya, ia hanya membesarkan entok lokal. Ia membeli minti dari warga desa di sekitar tempat tinggalnya dan membesarkan hingga berumur 3–4 bulan.

Setiap bulan, Janoko membeli 50–100 meri dari warga desa. Selama pembesaran, ia memisahkan entok berdasarkan ukuran dan postur tubuh. Ada beberapa entok dengan pertumbuhan cepat dan postur bagus. Lantaran penasaran, ia menyisihkannya untuk dibesarkan sendiri.

“Saya masih mempertanyakan mengapa berbeda, pertumbuhan cepat, serta tubuh panjang dan bagus,” kata Janoko.

Setelah ia selidiki dari warga yang memelihara, ternyata induk jantan berpostur bagus dengan tubuh berukuran besar, panjang, dan tinggi. Begitu pula dengan sosok induk betina. Pemilik induk menyebutnya entok jumbo thailand. Disebut jumbo thailand lantaran pemilik memperolehnya dari peternak besar yang mendatangkan bakalan jumbo dari Thailand.

Pejantan jumbo thailand itulah yang kemudian dikembangkan Janoko menjadi entok jumbo. Pada 2019, ia fokus mengembangkan entok jumbo yang pada akhirnya dinamai nogorodjo itu.

Menurut Janoko, entok jumbo mewarisi sifat postur besar yang pertumbuhannya panjang dan tinggi. Berbeda dengan entok lokal, pertumbuhannya cenderung melebar ke samping. Bila diberi perawatan sama, jumbo dan lokal mencapai bobot yang sama.

Namun, postur jumbo jauh lebih baik daripada postur lokal. Perbedaan itu biasanya dapat terlihat setelah umur dua pekan. Permintaan anakan jumbo nogorodjo mengalir tanpa henti. Setidaknya, ia harus menyiapkan 150 anakan per bulan.

Selain itu, ada pula permintaan setiap dua bulan sebanyak 200–250 anakan. Janoko menjual anakan mulai umur 1–3 pekan dan remaja atau calon indukan umur 5–6 bulan. Permintaan tak hanya dari peternak di Pulau Jawa, tetapi juga dari Sumatra, Kalimantan, Bali, Sumbawa, dan Papua.

Menurut Janoko, usaha ternak entok berpeluang besar pada masa mendatang. Kebutuhan entok untuk konsumsi terus bertambah, sedangkan ketersediaan bibit belum banyak karena peternak terbatas.

“Sampai sekarang entok masih dipandang sebelah mata. Padahal, dari segi rasa lebih enak daripada bebek. Sayangnya, orang belum terlalu mengenal entok,” kata Janoko.

Dr. Ir. Triana Susanti, M.Si., ahli unggas dari Balai Penelitian Ternak, mengatakan, belum mengetahui tentang entok jumbo. Saat ini Triana tengah meriset itik serati. Ia meneliti peluang entok sebagai galur pejantan untuk menghasilkan itik serati khusus pedaging.

“Masih riset karena banyak kendala terutama aspek biologis dan fisiologis reproduksi entok,” kata Triana.

Sejauh ini para peternak belum pernah menghitung rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio). Menurut Janoko, pemberian pakan dua kali sehari pada pukul 08:00 dan 15:00.

Jatah pakan mencapai 1 ons per ekor, setara 2 ons per hari per ekor. Pemberian pakan itu menghasilkan bobot 1 kg ketika entok berumur sebulan.


Artikel Terbaru

UNAIR Kembangkan “Malaiscope”, Sistem Cerdas Deteksi Malaria Berbasis Klasifikasi Sel Darah

Keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil masih menjadi tantangan serius dalam penanganan penyakit menular di Indonesia, termasuk malaria....

More Articles Like This