Saat ini Johar mematok harga Rp2.500—Rp3.000 per liter tergantung mutu. Kualitas minyak jarak dipengaruhi oleh kadar air dan asam lemak bebas. Yang bermutu top, kadar keduanya kurang dari 1%.
Eterindo bukan satu-satunya perusahaan yang siap menampung CJO tanpa batas. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) juga membuka lebar-lebar pintunya bagi pekebun yang ingin bermitra. Biji yang dihasilkannya akan ditampung RNI. “Berapa pun pasokannya kami siap menerima,” ujar Bachtiar Parmus, kepala Pengembangan Bisnis RNI. Biji jarak dari pemasok akan diolah menjadi minyak mentah pengganti residu bahan bakar minyak (BBM)—minyak bakar yang lebih rendah kualitasnya daripada solar.
Sejak 2003, RNI menggunakan energi nabati berupa daun tebu kering untuk memproduksi gula. Perusahaan itu mengelola perkebunan tebu di Cirebon, Indramayu, dan Pasuruan. Alhasil, pemakaian residu BBM menurun dari 16-juta liter pada 2002, menjadi 15-juta liter pada 2003. Setahun berselang, RNI mencoba serbuk gergajian kayu dan batubara sehingga pemakaian residu BBM pun hanya 12-juta liter. Penghematan yang dilakukan RNI mencapai Rp11,5-milyar. Dengan memakai energi nabati, RNI bisa menekan harga pokok produksi (HPP) gula Rp2.599 per kg, semula Rp3.400.
Sekarang RNI melirik jarak. Harga minyak jarak mentah Rp2.000 per liter, lebih rendah daripada residu BBM. Tak heran jika RNI menargetkan produksi 10-juta liter minyak jarak per tahun untuk memenuhi kebutuhan 10 pabrik gula miliknya. Untuk menghasilkan minyak sebanyak itu, perlu sekitar 2,7-juta ton biji yang diperoleh dari 270.000 hektar lahan. Saat ini baru 39.000 hektar kebun binaan RNI.
Permintaan tinggi
Selain bermitra, RNI juga menanam sendiri di lahan 1.100 hektar yanag tersebar di 3 tempat: Cirebon 350 ha, Subang 150 ha, dan Pasuruan 600 ha. Penghujung tahun lalu hingga awal tahun ini, ia menuai jarak di lahan 88 ha. Populasi per ha mencapai 2.500 pohon yang saat ini berumur 10 bulan—ditanam pada akhir Februari 2005.
Produksi perdana sekitar 0,5—1 ton per ha sehingga total jenderal ia mengangkut 40 ton biji jarak kering (1 kg kering berasal dari 4—5 kg segar). Diperkirakan pohon berbuah serempak pada 2006. Biji-biji itu akan diolah sendiri dengan mesin mutakhir dari Cina berkapasitas 10 ton per hari. Saat ini, RNI memang baru memiliki sebuah mesin di Cirebon, tetapi awal 2006 sebuah mesin didatangkan lagi dan ditempatkan di Subang.
D1 (baca: di wan) Oils, produsen biodiesel dari Inggris kini berekspansi ke Jakarta. D1 Oils dikenal sebagai produsen biodiesel dari kanola yang memasok industri otomotif di Eropa. Untuk mengembangkan usaha, kini mereka membidik Asia Tenggara. Perusahaan yang berdiri pada 2002, membangun pusat pengembangan jarak pagar di India. Di sana, dibangun instalasi pengolahan biodiesel berkapasitas 21.000 liter per hari. Akhir 2006, mereka akan membuat mesin berkapasitas lebih besar hingga 10 kali lipat. Di Indonesia D1 Oils siap menjalin kerjasama. “Kami siap bekerjasama (menampung biji dan minyak, red) dengan produsen jarak pagar di Indonesia,” ujar Alfredo P Torno, senior advisor bussines development D1 Oils Asia Tenggara, ketika ditemui Trubus di Jakarta. Ia sanggup menampung biji, minyak mentah, dan biodiesel, dalam jumlah tak terbatas. Perkara harga, bisa diatur sesuai kesepakatan. Bagi pengusaha yang mengelola 5.000—10.000 hektar lahan, akan ditempatkan satu unit mesin pengolah biodiesel. “Mereka tak perlu membeli, mesin tetap milik kami,” jelas pria asal Filipina itu.
Selain pasar domestik, pasar ekspor juga minta pasokan. Contoh Ahmed Mutar di Jakarta yang kelimpungan melayani tingginya permintaan. Amerika Serikat minta pasokan 100.000 ton minyak per bulan. Demikian juga Rumania, Inggris, dan Perancis yang membutuhkan 300.000 ton per bulan.
Terbukanya pasar biji maupun minyak mentah jarak, membawa angin segar bagi Kodir, pekebun jarak di Bogor, Jawa Barat. Sejak Desember 2005, ia menanam jarak seluas 3 hektar. Diperkirakan 5 bulan ke depan, ia panen perdana. Dengan rata-rata hasil panen perdana 100 kg biji kering per hektar, Kodir bakal menuai 300 kg biji kering. Namun, harga jual kini jadi kendala. Beberapa produsen biodiesel menetapkan harga Rp500 per kg biji kering. Bagi Kodir, harga itu kurang memadai.
Sebab, dengan biaya produksi Rp1.150 per pohon per tahun, produksi biji harus di atas 2,5kg/pohon/tahun agar untung. Jumlah itu dicapai sejak tanaman berumur 3—4 tahun. Menurut Bachtiar, jarak bisa menghasilkan biji kering hingga 5 kg/pohon/tahun pada usia di atas 5 tahun. Untuk itu, mau tidak mau produksi biji harus ditingkatkan. “Kalau bisa, justru harga yang dinaikkan,” kata Kodir.
Jika biji dihargai Rp500 per kg, dengan asumsi hasil biji kering 5 kg/pohon/tahun, maka pekebun akan memperoleh pendapatan Rp6.250.000 per/ha/tahun. Setelah dikurangi biaya perawatan Rp1.875.000/ha/tahun, maka pekebun masih bisa mengantongi Rp4.375.000/tahun atau sekitar Rp365.000 per bulan. Jumlah ini hanya separuh upah minimum regional/provinsi (UMR/UMP) yang bisa mencapai Rp750.000. “Berkebun jarak sebaiknya untuk usaha sampingan,” ujar Bachtiar.
Hal senada dilontarkan Prof Dr Ir H R Sudradjat, MSc, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Menurut Sudradjat, biji jarak juga dapat diolah sendiri untuk keperluan petani sebagai bahan bakar kompor, traktor, dan mesin perahu. “Kami sudah buat alatnya (baca: Satu Biji Tiga Minyak, halaman 130, red),” tegas Sudradjat.
Sarat kendala
Meski pasar biji dan minyak mentah terbuka, bukan berarti bisnis jarak tanpa kendala. Kematangan buah tidak serentak, menyedot banyak tenaga kerja. Tingginya harga mesin pengolah minyak jarak juga jadi hambatan. Untuk mesin pengempa berkapasitas 200 kg per hari, salah satu produsen mesin mematok harga Rp40-juta. Musababnya, produsen mesin belum berpoduksi secara massal. Memang, pekebun dapat berkongsi sehingga lebih ringan.
Saat ini belum ada pekebun yang mengolah sendiri biji jarak. Banyak pekebun yang telah memanen, tapi mereka menggunakan biji untuk perluasan tanam. Pekebun lain menjual biji sebagai benih dengan harga Rp20.000 per kg. Padahal, permintaan industri pengolah biodiesel tinggi. Eterindo, misalnya, membutuhkan pasokan 65.000 liter CJO per hari agar mesin pengolah biodiesel berkapasitas 60 ton/hari bisa berpoduksi efisien. “Sampai saat ini, pasokan masih di bawah 65.000 liter,” ujar Johar.
Meski banyak hambatan, tren penanaman jarak terus membumbung. Di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ory Octavianus gencar menanam jarak. Bersama warga di sana, ia menargetkan 200.000 hektar hingga 2007. Saat ini baru 1.000 hektar yang ditanam. Muhammad Rosyid, pekebun di Penajam, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur, bekerjasama dengan pemerintah daerah menanam jarak pagar 10.000 hektar.
Hingga saat ini, data luasan lahan jarak belum diketahui. Eko Setiawan SP M.Si, staf Bidang Budidaya Kelompok Kerja Jarak Kamar Dagang Indonesia (Pokja Kadin), memperkirakan luas lahan penanaman jarak pagar akan terus bertambah. Sebab, pengembangan jarak terkait dengan program pemerintah yang akan menanam jarak 10-juta hektar pada 2009.
Soal pasar? Tak perlu gentar. Menurut Bachtiar, setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina, RNI, PTPN I—XIII, PLN, Perhutani, dan Inhutani. diinstruksikan untuk menampung biji jarak yang dihasilkan. “Instruksi itu akan dituangkan dalam keputusan presiden,” jelas Bachtiar. (Imam Wiguna)
