
Petani menghadapi buah jeruk dekopon yang busuk. Penyebabnya beragam.
Mula-mula hanya noktah hitam di kulit jeruk yang jingga itu. Tiga hari berselang kulit terlihat kusam dan buah membusuk. “Saat saya buka, ternyata banyak ulatnya,” ujar Dahlan, pekebun jeruk dekopon di Porongpong, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Menurut Asep Casmiri, adik Dahlan, buah busuk akibat serangan lalat buah. Hama itu meletakkan telur saat buah muda, lalu telur menetas di dalam buah, dan buah membusuk.
Kebun yang panen perdana pada 2014 itu kehilangan hingga 15% dari hasil panennya akibat busuk buah. Dahlan belum bisa mengatasinya hingga sekarang. Buah yang busuk mengeluarkan aroma khas yang mengundang serangga lain untuk datang. “Serangga kecil itu suka sekali makan dekopon yang busuk.” ujar pria berusia 72 tahun itu. Hama aro itu lebih banyak pada musim hujan dibandingkan musim kemarau.

Busuk Buah
Menurut dosen Hama Penyakit Tanaman, Universitas Sebelas Maret, Ir Retno Wijayanti, MSi, busuk buah pada jeruk dekopon karena serangan lalat buah. Serangga itu mulai meletakkan telur saat buah masih mentah sehingga buah akan busuk, gugur, dan jika dibelah akan terlihat larva. Akibat serangan lalat buah beberapa bagian kulitnya terlihat lunak atau busuk. Untuk mengendalikan lalat buah sejatinya petani bisa memasang perangkap metileugenol atau memungut buah terserang dan memendamnya.
Selain lalat buah Retno juga menjelaskan beberapa hama yang dapat menyebabkan busuk buah pada tanaman jeruk. Kelompok Lepidoptera yaitu Citripestis sagittiferella atau citrus borer biasa menyerang buah mentah. Gejala dan akibat serangan kupu-kupu hampir sama dengan hama lalat buah. Menjelang pupa, larva kupu-kupu akan jatuh ke tanah dan berpupa di dalam tanah. Namun, kupu–kupu seperti Prays endocarpa yang lebih sering menyerang jeruk bali.
Untuk menjaga buah dari serangan hama, sebaiknya bungkus buah. Cara lain dengan musuh alami yakni parasitoid telur Trichogramma nana. Induk betina Trichogramma akan meletakkan telur di telur serangga hama. Ketika menetas, bukan lalat buah yang muncul, tetapi trichogramma. Pekebun dapat memperoleh trichogramma dengan cara memancing datangnya parasitoid dengan menanam tanaman penghasil nektar dan mengurangi aplikasi pertisida.
Pemicu lain busuk buah, serangan cendawan. Gejala serangan cendewan, yaitu buah busuk dengan kulit buah berwarna gelap dan lunak. “Buah yang dekat dengan tanah sangat rentan dengan serangan cendawan itu, karena dapat tertular lewat percikan air,” ujar Retno. Penyebab busuk buah lainnya adalah cendawan Penicillium spp. dengan gejala adanya miselium berwarna putih kehijauan.
Selain itu Dahlan juga mendapati 200 pohon dekoponnya meranggas dan akhirnya mati. Semula daun-daun pohon itu menguning lalu gugur. “Saya menduga itu akibat dosis pemberian herbisida sistemik yang berlebihan sehingga mengganggu akar tanaman,” ujar Asep. Dahlan memang menyemprotkan herbisida untuk mengatasi gulma. Namun, saat penyemprotan karyawannya menambahkan dosis yang dianjurkan dalam kemasan.

“Misalnya jika dianjurkan dua sendok, petani menambahkan dua sendok sehingga menjadi lima sendok per liter,” ujar Asep. Akibatnya beberapa bulan kemudian racun ikut tersesap oleh akar dekopon sehingga daun menguning. Menurut Asep, karyawan Dahlam meningkatkan konsentrasi herbisida untuk mempercepat gulma mati. Selama ini Dahlan mengatasi daun menguning dengan cara konvensional, yaitu memangkas daun yang menguning.
Tanaman yang telah dipangkas akan tumbuh daun baru lalu kembali bagus. Gangguan yang sama terjadi di kebun dekopon milik Syahid, di Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Namun hanya 5% tanaman yang terserang atau 10 pohon. Daun jeruk yang menguning sering dianggap akibat serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). “Tetapi tidak semua daun kuning karena serangan CVPD. Pada gejala yang terlihat, warna kuningnya berbeda,” ujar dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Widodo, MS.
Pada kasus daun menguning di kebun dekopon Syahid dan Dahlan, Widodo memperkirakan karena terserang cendawan akar. Menurut Widodo gejala semua daun menguning lalu gugur, batang tumbuh normal maka kemungkinan serangan awal terdapat di bagian akar. “Maka perlu di cek dulu akarnya,” ujar Widodo. Begitu juga menurut Retno, jika kerusakan hanya terlihat pada beberapa tanaman kemungkinan disebabkan oleh faktor biotik. Seperti patogen yang menyerang perakaran dan mengakibatkan daun tanaman menguning lalu gugur.
Pecah Buah
Selain itu, buah dekopon yang pecah juga menyumbang menurunnya produktivitas dekopon milik Dahlan. Pecah buah dapat diakibatkan oleh faktor lingkungan atau pemberian pupuk yang tidak cocok. Menurut Asep, karena penanaman dekopon secara tumpangsari dengan sayuran maka pupuk yang diberikan untuk sayuran seperti unsur nitrogen mungkin terserap juga oleh tanaman jeruk.

Menurut Retno penyebab pecah buah adalah fluktuasi ekstrem kadar air, suhu, dan kelembapan tanah yang dapat terjadi akibat hujan deras yang didahului oleh cuaca kering. Perubahan kelembapan tanah juga menyebabkan kecepatan pertumbuhan buah dan kulit buah tidak sama sehingga memicu terjadinya buah pecah. Selain itu juga dapat dikarenakan kekurangan potasium atau kalium.
Baru–baru ini tanaman dekopon Dahlan juga mulai terserang hama berwarna putih. Menurut Dahlan hama itu hilang setelah disemprot dengan insektisida berbahan aktif metindo dan lannate. Frekuensi penyemprotan 7—10 hari sekali. “Hama mati, dua sampai tiga hari setelah itu muncul lagi,” kata Dahlan. Hama berwarna putih itu biasa menempati tunas muda dan buah. Setelah itu daun dan buah tertutupi oleh embun jelaga berwarna hitam.
Menurut Retno hama sejenis kutu– kutuan juga sering ditemui di tanaman jeruk. Seperti kelompok kutu daun Aphididae, kutuputih Pseudococcidae, dan kutu loncat Psyllidae. Hama itu mengisap cairan tanaman jeruk dan menghasilkan eksudat berupa embun madu yang menjadi media tumbuh cendawan Capnodium coffeae atau embun jelaga. Akibatnya daun, batang, dan buah menjadi berwarna hitam. Untuk mengurangi serangan embun jelaga dengan pemangkasan untuk menurunkan tingkat kelembapan. (Ian Purnama Sari)
