Wednesday, August 10, 2022

Pertanian Terpadu : Setahun 4 Kali Panen

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Lahan pertanian terintegrasi milik Ir. Heri Sunarto di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

 

Mengubah lahan tandus menjadi pertanian terintegrasi antara ternak, sayuran, dan padi.

Lahan seluas 2 hektare itu marginal, tanahnya berwarna kemerahan, dan tandus. Semula petani memanfaatkan lahan itu hanya sebagai sawah tadah hujan. Panen padi pun sekali per tahun dengan hasil rata-rata 5—6 ton per hektare. Namun, sejak 2017 lahan yang semula tandus itu berubah menjadi sawah, kolam lele, dan kandang ayam. Produksi padi pun meningkat 2 kali lipat menjadi 11 ton per hektare per sekali panen.

Mina padi dengan akuaponik kangkung sederhana, berfungsi sebagai penyaring air kolam ikan sebelum mengalir ke sawah.

Kelebihan lainnya petani bisa panen hingga 4 kali per tahun. Uniknya budidaya antara ternak dan tanaman saling terintegrasi. Sisa metabolisme ayam dan lele mengalir ke mina padi dan sawah. Sekilas mirip seperti sitem akuaponik berskala besar. Petani di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Ir. Heri Sunarto yang menerapkan konsep pertanian terpadu itu.

Air ikan

Heri menamakan sitem budidayanya itu dengan sebutan Tani Ternak Terpadu Tanpa Limbah dan Bau (T4LB). Bagaimana mengubah lahan tandus menjadi terintegrasi? Salah satu yang tidak bisa dipungkiri dan amat penting adalah ketersediaan air. Heri membuat sumur bor berkedalaman 100 meter untuk memperoleh air. Langkah selanjutnya membuat kolam ikan sebagai tempat penampungan air.

Air dari kolam yang mengandung sisa metabolisme ikan itulah yang digunakan untuk menggemburkan tanah yang semula tandus dan mengubahnya menjadi sawah. Proses itu sekitar 3 bulan untuk pembuatan kolam autoflow dan persiapan penanaman padi. Sayangnya, pada penanaman padi perdana pertumbuhannya kurang optimal. Penyebab pertumbuhan padi kurang optimal karena nitrogen terlalu tinggi.

Saat itu Heri langsung mengalirkan air dari kolam ikan menuju sawah secara langsung. Kolam sistem autoflow mengalirkan air menggunakan gravitasi tanpa pompa. Harap mafhum nitrogen dari air sisa metobolisme ikan amat dominan. Salah satu siasat agar nitrogen ideal untuk padi dengan membuat mina padi selebar 3 meter di sekitar sawah. Mina padi selebar 3 meter itu berfungsi sebagai penyaring biologis sebelum air kolam masuk ke sawah. Di atas mina padi ada pula sistem akuaponik sumbu untuk budidaya sayuran.

Teknologi itu terdiri atas wadah plastik bersumbu kain flanel, bermedia tanah dan sekam. Komoditas yang ditanam antara lain bawang merah dan kangkung. Sistem itu bertujuan menyaring nitrogen yang terlalu tinggi. Kadar nitrogen air hasil penyaringan mina padi amat pas untuk memenuhi kebutuhan padi. Sisa metabolisme ternak dengan sistem pertanian terintegrasi bisa mendukung ketersediaan unsur hara makro nitrogen, fosfor, dan kalium untuk tanaman.

Bunga kenikir sebagai refugia di sawah milik Heri Sunarto.

Contohnya air kolam lele amat dominan nitrogen. Kompos kotoran sapi dominan fosfor. Adapun limbah daun dan sisa pembakaran dominan kalium. Namun, pemupukan belum sepenuhnya organik. Sebab, padi masih menghendaki pupuk tambahan agar hasil panen optimal. Pemupukan tambahan dominan kompos kotoran sapi minimal 2 ton per hektare. Adapun pupuk kimia hanya 10—30% dari dosis normal.

Pemupukan padi konvensional per hektare per musim rata-rata 300 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 100 kg KCl. Artinya penggunanan dan biaya pupuk kimia bisa terpangkas 70—90% dengan sistem pertanian terintegrasi. Heri menghemat biaya produksi amat signifikan. Sekadar contoh harga Urea subsidi mencapai Rp2.250 per kg atau total Rp675.000. Ia menghemat minimal 70% setara Rp472.000.

Untung

Bangunan tempat penampungan air sumur, terlebih dahulu ditampung di tandon sebelum dialirkan ke kolam dan sawah.

Heri berhasil panen padi dengan sistem pertanian terintegrasi hingga 10 siklus sejak 2017. Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung itu mendapat laba Rp200 juta—Rp300 juta per hektar per tahun dari hasil budidaya pertanian terintegrasi. Teknik budidaya padi sudah menerapkan IP 4 artinya menanam hingga 4 kali setahun. Siasat Heri menggunakan 2 varietas padi berumur 70 hari dan 90 hari demi menerapkan IP4.

Siasat lain mengoptimalkan omzet ala Heri dengan menjual hasil panen saat harga tinggi. Pengalaman Heri harga tinggi pada Januari, April, Juli dan November. Pada bulan Januari harga dan produksi padi bagus. Pada April harga masih lumayan bagus meskipun produksi tidak optimal, demikian juga pada bulan Juli dan November. Pada bulan Oktober saat akhir musim kemarau waktu tanam optimal sehingga produksi akan sangat bagus.

Siasat mengatur jadwal penanaman itu terbukti menghasilkan omzet optimal. Pada tahun kedua seluruh biaya produksi antara lain pembuatan kolam, pompa, dan sumur sudah balik modal. Model pertanian ala Heri sangat memungkinkan diterapkan di berbagai lahan tadah hujan di seluruh Indonesia. Namun, perlu biaya cukup tinggi di awal, terutama untuk pembuatan sumur.

Hal lain yang perlu diperhatikan edukasi rutin pada pelaku anyar agar bisa menerapkan sistem pertanian terintegrasi baik dan benar. Niscaya target balik modal pada kurun waktu 2 tahun seperti bisa terealisasi. Heri membuktikan hal itu, bukan sekadar teori di atas kertas. (Ismadi Ahmad, S.T.P., ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img